Affrio Sunarno: Segerakan Solusi Makan Rakyat Sebelum Megaproyek Prestisius Kemaritiman

Affrio Sunarno. (Foto: Dokumentasi Pribadi)
Affrio Sunarno. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Yogyakarta, MAROBS ** Pemerhati pranata kemaritiman, Affrio Sunarno, berpandangan, pemerintah relatif berorientasi pada megaproyek prestisius di sektor kemaritiman, seperti Tol Laut, pembangunan infrastruktur pelabuhan, dan industri kemaritiman. Sementara kebutuhan mendesak yang harus segera diselesaikan adalah solusi untuk memenuhi kebutuhan pokok rakyat.

“Majapahit besar itu karena armada angkatan lautnya. Mereka ditakuti dan namanya kondang di seluruh dunia. Tapi Majapahit bukan kerajaan yang disegani karena mampu mengolah sumberdaya hayati yang ada di laut untuk kesejahteraan rakyatnya,” ujar Affrio di Yogyakarta, Selasa (26/1/2016).

Menurutnya, ketertinggalan Indonesia atas teknologi dan infrastruktur maritim dibandingkan negara lain tidak lantas terburu-buru dikejar, sebelum menyelesaikan problem nyata yang sehari-hari dihadapi masyarakat kalangan bawah.

“Final dari Poros Maritim adalah kesejahteraan rakyat. Saya setuju itu. Meski demikian, visi jangka panjang tersebut harus dibarengi dengan kebijakan maritim taktis yang langsung bersentuhan dengan kesejahteraan warga negara dalam jangka pendek,” tutur alumnus Fisipol UGM tersebut.

Ia berpendapat, Poros Maritim tidak kemudian didominasi upaya industrialisasi yang berujung pada kekuatan ekonomi besar, tapi juga diselaraskan dengan pemenuhan hajat hidup orang banyak dengan pengolahan sumberdaya hayati kemaritiman.

“Rakyat akan kesulitan menangkap maksud pemerintah, atau bahkan tidak mau peduli, karena yang mereka butuhkan adalah keberlangsungan hidup, terutama makan. Larangan ekspor, perang terhadap illegal fishing, konflik perbatasan perlu diterjemahkan dalam bahasa sederhana, yakni kesejahteraan rakyat,” papar Affrio.

Kemaritiman, sambungnya, tidak lagi bermakna, sebelum mampu menyentuh persoalan-persoalan prioritas, yakni nelayan, sebelum mampu menghidupi bangsa dan negara.

“Nelayan makmur dulu, baru kita bicarakan hal lain. Kalau nelayan saja masih miskin, anak-anaknya tidak lagi tertarik menjadi nelayan, dan pemerintah masih setengah hati dalam memperhatikan kesejahteraan nelayan, kemaritiman apa yang mau kita perjuangkan?” tegas Affrio.

Ia khawatir, sebentar lagi akan bermunculan pengusaha besar di sektor perikanan. Ketika itu, tidak ada lagi nelayan tradisional. Anak-anak nelayan bekerja di kapal pengusaha besar, bahkan disekolahkan untuk meng-up grade kemampuan mereka. Sementara negara masih larut dalam setting megaproyek prestisius kemaritiman.

“Pada saat seperti itu, kita tidak lagi dapat memaksakan kehendak, karena para nelayan akan mencari lahan yang cepat menghasilkan, untuk penghidupan mereka. Jangan sampai kita terlambat antisipasi,” ungkapnya.

Peran Ekonom dan Wirausaha

Lebih lanjut, Affrio mengemukakan pentingnya peran ahli ekonomi dan para wirausaha. Mereka dapat bersinergi dengan negara dalam memanajemeni potensi sumberdaya hayati kelautan untuk kesejahteraan masyarakat pesisir, yang pertama-tama.

“Saya berharap banyak pada para ekonom dan wirausaha untuk mengkreasi banyak hal agar pranata kemaritiman dapat terjaga. Mereka harus mampu memberi solusi taktis, cara nelayan mencari makan dan memenuhi kebutuhan pokok, sementara di sisi lain, megaproyek prestisius kemaritiman tetap terus berlangsung,” jelasnya.

Ia menambahkan, keseimbangan dua hal tersebut akan mengobati kerinduan Nusantara pada kejayaan Majapahit dan Sriwijaya sebagai kekuatan maritim yang disegani dunia. Kali ini, bukan hanya karena armada perang laut yang kuat, tapi juga kemampuan negara dalam mengelola sumberdaya hayati kelautan untuk kesejahteraan rakyat.