Ahlan Zulfakhri: Hindari Kerugian, Perlu Perencanaan Hulu-Hilir Industri Maritim

Sekjen APMI, Ahlan Zulfakhri. (Foto: Dokumentasi Pribadi)
Sekjen APMI, Ahlan Zulfakhri. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Jakarta, MAROBS ** Beberapa waktu lalu, karena berbagai sebab, kapal pengangkut ternak Kapal Motor (KM) Camara Nusantara 1 tidak berhasil mengangkut satu pun sapi dari Kupang, Nusa Tenggara Timur. Sekretaris Jenderal Asosiasi Pemuda Maritim Indonesia (Sekjen APMI), Ahlan Zulfakhri, menilai, perencanaan hulu-hilir industri maritim sangatlah penting.

“Tidak matangnya perencanaan pembuatan kapal mengakibatkan kerugian yang cukup besar bagi pedagang. Ini menunjukkan industri maritim belum mampu berjalan dari hulu ke hilir,” ujar Ahlan, Senin (25/1/2016), di Jakarta.

Ia mengimbau pemerintah untuk segera meninjau kerugian ini. Apabila tidak dievaluasi, pembuatan dan pengadaan kapal hanya mengacu pada aspek hulu industri maritim, yakni pembuatan dan fungsi kapal, tetapi tidak melihat lebih jauh, aspek hilir kapal, yakni efek terhadap penggunaan kapal.

“Ke depan, dalam pembuatan dan pengadaan kapal harus mampu mempertimbangkan seluruh efek yang terjadi dari hadirnya kapal tersebut. Perlu kita ingat bersama, ke depan, Kementerian Kelautan dan Perikanan ada 3540 kapal. Jangan sampai mengalami hal serupa, seperti kasus kapal sapi,” tuturnya.

Pemerintah, sambung Ahlan, seharusnya dapat melakukan peninjauan terlebih dahulu, sebelum membangun kapal ternak, mulai dari aspek bisnis hingga aspek teknis. Aspek bisnis, yakni bagaimana pengembalian modal dalam pembuatan kapal tersebut, agar jangan sampai merugi.

“Hal ini tentunya tidak sederhana. Seluruh stakeholder dalam bisnis tersebut harus dilibatkan, mulai dari pedagang besar sampai pedagang kecil. Jangan sampai adanya sebuah sarana atau fasilitas berhenti hanya pada aspek keterbutuhan, namun tidak melihat bagaimana proses pengembalian modal dan lain sebagainya,” paparnya.

Hal ini menjadi penting. Ahlan menilai, jangan sampai secara keterbutuhan terpenuhi, namun secara bisnis, ternyata tidak masuk. Alhasil, ada pihak yang dirugikan.

“Kalau dari tinjauan teknis, tentunya akan mengikuti aspek bisnis, bagaimana sebuah kapal dilihat dari mulai ukuran, kapasitas mesin, serta daya angkut. Karena, sangat berpengaruh terhadap wilayah pelayaran dan juga bongkar muat. Ini menjadi evaluasi bersama agar ke depan kematangan perencanaan dapat ditinjau dengan baik,” pungkasnya.

Bermaksud Kendalikan Harga

Selasa (10/11/2015), Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan kapal khusus pengangkut ternak KM Camara 1, Kapal Perintis Tipe 750 DWT KM Sabuk Nusantara 56, dan Kapal Perintis Tipe 750 DWT KM Sabuk Nusantara 55, di Galangan Kapal PT Adi Luhung Sarana Segara Indonesia (ALSSI), Kabupaten Bangkalan.

Presiden berharap, dengan peresmian kapal khusus pengangkut ternak, pelayanan angkutan untuk rakyat maupun untuk ternak akan bisa terpenuhi dengan baik. Akhirnya nanti, distribusi logistik nasional akan berjalan dengan baik, sehingga harga-harga bisa turun, karena angkutannya memakai angkutan laut yang murah.

“Tadi Menteri Perhubungan menyampaikan, tahun ini 200 kapal, tahun depan 160 kapal lagi, tahun depannya, tahun tambahannya seperti ini 160, 200, 160, 200,” ungkap Presiden, dirilis Sekretariat Kabinet.

Presiden berharap, nantinya arus barang, arus ternak dari lokasi-lokasi provinsi yang ternaknya banyak bisa dipasarkan ke kota-kota yang membutuhkan, dan dengan persediaan angkutan yang murah sehingga bisa bersaing dengan sapi-sapi dari negara yang lain.

“Kita kalahnya di transportasi dari provinsi ke provinsi yang masih sangat mahal. Ini yang kita targetkan agar satu per satu bisa kita selesaikan,” harapnya optimis.