Cyber Defence, Urgensi Mutakhir Pertahanan Era Informasi

Sertifikat Indonesian Cyber Army 2013. (Foto: Farras Perdana WordPress)
Sertifikat Indonesian Cyber Army 2013. (Foto: Farras Perdana WordPress)

Jakarta, MAROBS ** Pada Era Informasi, pertempuran bisa jadi bukan adu alutsista. Negara membutuhkan pertahanan maya (cyber defence), untuk membendung serangan informasi yang merusak tatanan republik.

“Guna memperluat pertahanan negara di bidang cyber defence, ada beberapa langkah yang perlu dilakukan, di antaranya dengan melakukan transformasi cyber melalui peningkatan kualitas alumni diklat cyber yang disesuaikan perkembangan teknologi dan informasi,” ujar Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan (Kabadiklat) Kementerian Pertahanan, Mayjen TNI Hartin Asrind, di hadapan peserta Forum Group Discussion alumni diklat cyber defence, Jumat (15/1/2016), dirilis Kemhan.

Untuk bisa mewujudkannya, sambung Hartin, dapat diawali dengan intensifikasi edukasi berbasis pertahanan maya pada berbagai aspek pendidikan dan jenjang yang berbeda. Salah satu contohnya, diklat cyber Badiklat Kemhan.

Namun demikian, menurut Kabadiklat, perlu dilakukan evaluasi menyeluruh, mulai dari regulasi, tujuan dan sasaran diklat, persyaratan peserta dan kompetensi widyaiswara, kurikulum dan metode diklat, sarana dan prasarana diklat, penyelenggara diklat, pembiayaan diklat, ketentuan diklat yang menyangkut hak dan kewajiban peserta, evaluasi dan persyaratan kelulusan, serta sertifikasi peserta diklat.

“Dengan diselenggarakannya dialog alumni diklat cyber defence Badiklat Kemhan, diharapkan akan didapat suatu rumusan pemikiran yang komprehensif dan konseptual sebagai acuan pengembangan diklat cyber defence Badiklat Kemhan yang akan datang,” terang Hartin.

Dialog diselenggarakan dengan maksud mempertajam materi diklat cyber defence yang disesuaikan dengan perkembangan teknologi dan informasi, bertujuan menggali informasi penting dari instansi atau satuan alumni bertugas, khususnya asas manfaat pasca-diklat cyber defence.

Hal ini sesuai tema yang diangkat, yaitu ‘Melalui Dialog, Kita Tingkatkan Diklat Cyber Defence Guna Memperkuat Pertahanan Negara’.

Kabadiklat secara resmi juga meluncurkan berdirinya Ikatan Alumni Diklat Cyber Defence (IKA-DCD) beranggotakan para alumni dan pengajar diklat cyber defence serta komunitas cyber atau teknologi informasi.

Ancaman Aktual

Ancaman cyber merupakan ancaman aktual. Ancaman ini dikatagorikan sebagai ancaman non-tradisional baru dan menjadi perhatian berbagai negara, tanpa kecuali di Indonesia.

Karena sifat dan karakternya yang dapat merusak ketahanan nasional secara luas maka ancaman cyber dapat dikatagorikan sebagai ancaman nonmiliter, sehingga keberadaan cyber combat merupakan sebuah keniscayan.

Strategi untuk membangun sebuah cyber defence merupakan bidang tugas yang sangat dibutuhkan dalam era teknologi informasi saat ini guna menjaga kedaulatan negara, keutuhan wilayah, serta keselamatan bangsa.

Untuk memahami cyber perlu dipahami cyber cycle, yang meliputi cyber space, cyber threat, cyber attack, cyber defense, cyber law, dan cyber crime yang lebih dikenal dengan six cyber.

Sserangan dunia maya (cyber attack) dapat mengarah ke obyek vital yang mengancam kedaulatan negara, keutuhan wilayah, serta keselamatan bangsa. Sementara cyber law perlu diatur dan disusun, sehingga dapat menyesuaikan dengan kondisi damai, krisis, maupun perang.

Output yang diharapkan adalah terjaminnya ketersediaan SDM dengan kompetensi yang sesuai, membangun awareness agar menjadi sifat yang melekat dalam budaya masyarakat; serta terdapat keselarasan dan sinergi dari seluruh pemangku kepentingan dan aktor lainnya, sehingga tercipta suatu kebijakan yang koheren.

Selain itu, terjaminnya pelaksanaan operasi terintegrasi dan terkoordinasi untuk pemangku kepentingan; terdapatnya keselarasan antara sumberdaya dengan prioritas dan output yang dihasilkan; serta mengurangi atau menghilangkan ketergantungan terhadap produk teknologi dari luar negeri dengan merancang tes dan deploy dari solusi yang diharapkan.