FGD Blok Masela, Menteri ESDM: Beri Manfaat Ekonomi Regional

Menteri ESDM Sudirman Said didampingi Seskab Pramono Anung saat memberikan penjelasan harga baru energi, di kantor Kepresidenan, Jakarta, Rabu (7/10/2015). (Foto: Setkab)
Menteri ESDM Sudirman Said didampingi Seskab Pramono Anung saat memberikan penjelasan harga baru energi, di kantor Kepresidenan, Jakarta, Rabu (7/10/2015). (Foto: Setkab)

Jakarta, MAROBS ** Menteri Energi Sumberdaya dan Sumberdaya Mineral, Sudirman Said, berharap, Focus Group Discussion (FGD) membahas Blok Masela dapat memberi manfaat ekonomi regional. FGD membahas semua kemungkinan opsi, sebelum Presiden Joko Widodo mengambil keputusan akhir.

“Sebenarnya yang paling utama harus kita perhatikan adalah bagaimana project itu memberi manfaat bagi pengembangan ekonomi regional,” ujar Menteri Sudirman, Senin (18/1/2016), di Jakarta, dirilis Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi.

Sudirman membantah pembentukan tim diskusi yang melibatkan akademisi tersebut akan mementahkan kembali kajian teknis yang telah dilakukan. Sebaliknya, hasil kajian akan semakin mematangkan keputusan mengenai Blok Masela.

“(FGD) untuk memperoleh keputusan yang paling tepat terkait pemanfaatan pengembangan Blok Masela bagi masyarakat,” tutur Sudirman.

FGD beranggotakan wakil dari Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas), Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Universitas Pattimura, Lembaga Afiliasi Penelitian dan Industri Institut Teknologi Bandung (LAPI ITB), dan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI).

“Jika hasil kajian dari tim tersebut, masyarakat lebih diuntungkan apabila pengembangan lapangan dilakukan di onshore (darat) maka pengembangan akan dilakukan di onshore. Demikian pula sebaliknya,” kata Menteri ESDM.

Sebagaimana dipesankan Presiden Joko Widodo seusai rapat terbatas beberapa waktu lalu, sambungnya, perlu dilakukan pengkajian semua opsi.

“Sekarang kita tidak bisa menyimpulkan opsi mana yang paling baik, sampai kemudian kita mendetailkan planning, bagaimana pemanfaatan bagi regional development,” ucap Sudirman.

“Ini menambah aspek lain supaya keputusan apapun yang diambil, sudah yakin. Tidak ada proses yang diulang dari nol. Yang sudah dikaji secara teknis dijadikan pegangan. Tapi Kemudian ditambahkan aspek regional development,” tambahnya.

Tentang Blok Masela

Blok Masela dikelola oleh PT Inpex Inpex Masela Limited (65 persen) dan Shell Upstream Overseas Services Ltd (35 persen). Blok ini memiliki luas area lebih kurang 4.291,35 km², terletak di Laut Arafura, sekitar 800 km sebelah timur Kupang, Nusa Tenggara Timur, atau lebih kurang 400 km di utara kota Darwin, Australia, dengan kedalaman laut 300-1000 meter.

Pulau Masela adalah nama kecamatan di Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), Provinsi Maluku.

Kontrak kerja sama Blok Masela ditandatangani pada 16 November 1998 dan mendapat persetujuan Plan of Development (PoD) pertama pada 6 Desember 2010.

Sementara ini, terjadi perbedaan pendapat menyoal penempatan kilang, yakni di darat (onshore) atau laut (offshore). Kilang darat dipandang memiliki dampak ekonomi signifikan bagi masyarakat sekitar yang selama ini kurang mendapat akses keluar memadai. Kesejahteraan warga di sekililing kilang menjadi tujuan utamanya.

Sementara jalur laut melalui skema floating LNG (offshore) juga dinilai lebih menguntungkan, dibanding menggunakan skema pipanisasi (onshore). Offshore dianggap lebih efisien.