KRI Teluk Banten-516 Antarkan 715 Orang Pengungsi Eks-Gafatar dari Pontianak ke Jakarta

KRI Teluk Banten-516 bersiap memulangkan eks-Gafatar di Pelabuhan Dwikora Pontianak. (Foto: Dispen Kolinlamil)
KRI Teluk Banten-516 bersiap memulangkan eks-Gafatar di Pelabuhan Dwikora Pontianak. (Foto: Dispen Kolinlamil)

Jakarta, MAROBS ** Upaya pemulangan para eks-anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) terus dilakukan melalui jalur laut, menggunakan sejumlah kapal perang milik TNI AL. Salah satunya, di sekitaran perairan Pontianak Kalimantan Barat.

Senin (25/1/2016), sejumlah 715 orang eks-Gafatar dipulangkan dengan KRI Teluk Banten-516. Rombongan berangkat menuju Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta dari Pelabuhan Dwikora Pontianak. Kapal akan tiba di Dermaga Tanjung Priok, Selasa (26/1/2016).

Sebelumnya, 350 pengungsi eks-Gafatar telah diberangkatkan pulang terlebih dahulu menggunakan KRI Teluk Gilimanuk-531 dari Pelabuhan Dwikora Pontianak menuju Semarang, Minggu (23/1/2016).

Pemberangkatan KRI Teluk Banten 516 dilepas Pangdam XII Tanjung Pura Mayjen TNI Agung Risdianto didampingi Komandan Lantamal XII Pontianak Brigjen TNI (Mar) Muhammad Hari, Perwakilan Polda Kalimantan Barat, Wakil Gubernur Kalimantan Barat Ristiadi, dan pejabat Forum Koordinasi Perangkat Daerah (FKPD) lainnya.

Operasi Militer Selain Perang

Pemulangan eks-Gafatar dengan kapal perang merupakan salah satu bentuk tugas TNI AL dalam Operasi Militer Selain Perang (OMSP). Sesuai Undang-Undang Nomor 34 tahun 2004 tentang Tugas Pokok TNI, disebutkan bahwa ada tiga tugas utama TNI, yaitu menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah, dan melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan.

“Tugas pokok tersebut dilaksanakan melalui Operasi Militer untuk Perang (OMP) dan Operasi Militer Selain Perang (OMSP). OMP berarti berperang melawan tentara negara lain. Sementara Operasi Militer Selain Perang (OMSP) terdiri dari 14 butir,” terang Kepala Dispen Kolinlamil, Letkol Laut (KH) Bazisokhi Gea.

Ia menuturkan, Operasi Militer Selain Perang, misalnya, membantu menanggulangi akibat bencana alam, pengungsian, dan pemberian bantuan kemanusiaan. Selain itu, membantu pencarian dan pertolongan dalam kecelakaan (search and rescue).

“KRI Teluk Banten-516 sering dikedepankan dalam operasi militer utama. Selain kodratnya sebagai wahana penghantar tank amfibi dan pasukan Marinir, KRI Teluk Banten-516 beberapa kali dipercaya sebagai kapal markas. Salah satunya, pada operasi Aru Jaya pada 1992 untuk menghalau masuknya kapal feri asal Portugal Lusitania Expresso yang berniat masuk ke Perairan Timor Timur,” ungkap Kadispen Kolinlamil.

Spesifikasi

Bazisokhi menjelaskan, KRI Teluk Banten-516 memiliki deck helipad yang cukup besar, bisa didarati helikopter sedang. Dalam pelayaran, helikopter sekelas NAS-332 Super Puma tak masalah mendarat di helipad-nya.

“Perlu dicatat, hingga 2005, tepatnya sebelum era Landing Platform Dock (LPD) hadir, boleh dibilang, fasilitas kapal perang TNI AL dengan helipad luas plus hangar berukuran besar memang hanya dipegang oleh jenis Landing Ship Tank (LST) ini,” ucapnya.

Meski masuk dalam Teluk Semangka Class, sambungnya, KRI Teluk Banten-516 masuk dalam varian komando. Varian tersebut dicirikan dengan adanya superstructure berupa hangar yang berdesain cukup besar.

“Di dalam hangar bahkan dapat memuat 2 helikopter sekelas NBell-412 atau Super Puma dalam kondisi baling-baling dilipat. Sementara untuk deck heli hanya mampu menampung 1 unit heli ukuran sedang atau berat,” kata Kadispen Kolinlamil.

Ia menambahkan, pada varian komando ini hanya dapat membawa 2 unit LCVP (Landing, Craft, Vehicle, Personnel). Untuk elemen persenjataan, terdapat dua pucuk kanon Bofors 40 mm pada haluan. Uniknya, 2 pucuk kanon Bofors 40 mm pada ujung haluan tidak dilengkapi dengan penutup pelindung (terbuka).

Ada lagi dua pucuk kanon 20 mm buatan Rheinmetall, dan 2 pucuk SMB (Senapan Mesin Berat) kaliber 12,7 mm. Untuk sistem navigasi, menggunakan jenis radar JRC dan Raytheon.