Kunjungi KRI Bung Tomo-357, Menhan: Prajurit Misi Perdamaian Cerminan Indonesia di Mata Dunia

Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu, saat mengunjungi KRI Bung Tomo-357 yang tergabung dalam Maritime Task Force (MTF) UNIFIL di Dermaga Beirut, Lebanon. (Foto: DMC Kemhan)
Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu, saat mengunjungi KRI Bung Tomo-357 yang tergabung dalam Maritime Task Force (MTF) UNIFIL di Dermaga Beirut, Lebanon. (Foto: DMC Kemhan)

Beirut, MAROBS ** Prajurit misi perdamaian adalah cerminan Negara Indonesia di mata dunia. Berbuat hal terbaik, seprofesional mungkin, dan sedisiplin mungkin sangat penting dilakukan, karena sejarah mencatat, pasukan misi perdamaian dari Indonesia selalu mendapat predikat terbaik.

“Tugas dari negara itu adalah suatu kehormatan, dan tidak semua prajurit mendapatkan tugas kehormatan. Untuk itu, kalian patut bersyukur dan merupakan suatu kebanggaan,” ujar Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu, saat mengunjungi KRI Bung Tomo-357 yang tergabung dalam Maritime Task Force (MTF) UNIFIL di Dermaga Beirut, Lebanon.

Dirilis Kementerian Pertahanan, saat tiba di anjungan KRI Bung Tomo, Selasa (26/1/2016), Menhan disambut Komandan KRI Bung Tomo-357, Kolonel Laut (P) Yayan Sofiyan.

Sebelumnya, Menhan melakukan Inspeksi Tugas Batalyon Mekanis TNI Kontingen Garuda (Konga) XXIII-J/UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) di UN Pos 7-1 Adshid Al Qusayr. Kunjungan kerja Menhan ke Lebanon, 25-26 Januari 2016, merupakan bagian dari Diplomasi Pertahanan.

Saat ini, pasukan TNI yang bertugas di UNIFIL berjumlah hampir 1300 personel, tersebar dalam berbagai gugus tugas, antara lain Indobatt, Indomedic, Force Head Quarter Support Unit (FHQSU), Military Community Out Reach (MCOU), Military Police Unit (MPU), Maritime Task Force (MTF) dan Mil Staf.

Menurut Menhan, pengiriman Satgas Pasukan Pemeliharaan Perdamaian merupakan bentuk dukungan Indonesia terhadap perdamaian dunia, seperti tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. Pengiriman Satgas Pasukan Pemeliharaan Perdamaian dimulai sejak dikeluarkannya Keputusan Presiden Nomor 15 Tahun 2006 dengan mengirimkan 850 personel TNI, dengan nama Konga XXIII-A.

“Dalam sejarahnya, pasukan PBB dari Indonesia sejak tahun 1958, dulu sampai sekarang, adalah pasukan yang selalu mendapat predikat yang terbaik. Prajurit Indonesia bukan hanya pandai berperang dan pandai bertempur. Namun, jadilah prajurit yang juga pandai memelihara perdamaian dan melaksanakan visi PBB,” papar Ryamizard.

Kunjungan Kehormatan

Saat melakukan kunjungan kehormatan dengan Menteri Pertahanan Lebanon, Samir Moqbel, Selasa (26/1/2016), di Kantor Kementerian Pertahanan Lebanon, Menhan menegaskan bahwa Indonesia dan Lebanon memiliki sejarah hubungan baik yang sangat panjang.

“Lebanon adalah negara ketiga yang mengakui Kemerdekaan Indonesia. Karena itulah Pemerintah Indonesia akan senantiasa berusaha memberikan bantuan terbaik, demi menjaga hubungan baik kedua negara,” terang Menhan.

Ia mengungkapkan, kekuatan dan keamanan bukan hanya tugas tentara. Untuk menjaga keamanan negara, tentara harus bersatu dengan rakyatnya. Dengan hubungan yang kuat antara tentara dan rakyat, ancaman-ancaman terhadap keamanan dan keutuhan negara seperti terorisme atau pemberontakan akan sulit berkembang.

Sementara itu, Menhan Lebanon mengatakan, Pemerintah Lebanon sangat berterima kasih atas kontribusi Pemerintah Indonesia dalam menjaga perdamaian di Lebanon Selatan.

“Pasukan Penjaga Perdamaian PBB dari Indonesia yang bertugas di Lebanon adalah pasukan dengan jumlah terbesar di UNIFIL. Saya berharap, Pemerintah Indonesia tetap mengirimkan Pasukan Penjaga Perdamaiannya ke Lebanon,” kata Samir.

Lebanon telah menyiapkan draf peningkatan kerja sama pertahanan kedua negara, termasuk di antaranya kerja sama di bidang alutsista.