Miliki Tiga Dewa Laut, Cak Kandar: Laut Jawa Timur Layak Dijadikan Taman Nasional

Pantai Prigi Trenggalek. (Foto: Wikipedia/Mohamad Farouq Arifin)
Pantai Prigi Trenggalek. (Foto: Wikipedia/Mohamad Farouq Arifin)

Malang, MAROBS ** Ketua Dewan Kelautan Jawa Timur Bidang Ekowisata Bahari, Sukandar, mengatakan bahwa Laut Jawa Timur sangat layak dijadikan Taman Nasional, terutama di sekitar Kepulauan Bawean. Menurutnya, setiap masyarakat pesisir Jawa Timur pasti bermimpi memiliki Taman Nasional Perairan sendiri.

“Kita kan juga pengin punya Kepulauan Seribu-nya Jakarta, Gili Trawangan-nya Nusa Tenggara Barat, atau Karimun Jawa-nya Jepara,” ujar Cak Kandar, panggilan akrab pria kelahiran Randuagung lebih setengah abad lalu.

Ia menilai, Jawa Timur sering kali dimarginalkan potensi kemaritimannya, karena dianggap kalah bersaing dengan provinsi lain yang aset pengelolaan kemaritimannya lebih profesional dan mendapat sokongan dana lebih dari lembaga kelautan internasional atau investor asing.

“Padahal sesungguhnya, Laut Jawa Timur memiliki Tiga Dewa Laut yang tidak semua perairan laut di Indonesia memilikinya, yakni mangrove, terumbu Karang, dan padang lamun. Tanpa adanya Tiga Dewa Laut ini, ekosistem di Laut belum bisa berjalan secara sempurna,” ungkap peneliti senior daerah pesisir ini, ketika ditemui di kampus Universitas Brawijaya, beberapa waktu lalu.

Hutan Mangrove, sambungnya, tersebar hampir di seluruh daerah pesisir kabupaten Jawa Timur, seperti Pantai Prigi di Trenggalek, Pantai Sendang Biru di Malang, Pulau Bawean di Gresik, hingga di sepanjang Pantura pun tak luput dari heterogenitas hutan yang menjadi gerbang pelindung garis pantai dari abrasi ini.

“Sedangkan potensi terumbu Karang terbesar di Laut Jawa Timur terletak di Pulau Bawean, yang pada tahun 2012 lalu, baru saja ditemukan Atol (pulau koral yang mengelilingi sebuah laguna sebagian atau seluruhnya) yang memiliki luas sekitar 19 ha,” terang Cak Kandar.

Bahkan saking kayanya laut Jawa Timur, katanya, ikan duyung yang hanya dianggap sekadar mitos atau sangat langka keberadaannya, dalam realitas dapat ditemukan di Laut Bawean, disebut dengan Dugong.

Dukungan Pemerintah

Cak Kandar menuturkan, belum tergalinya potensi Laut Jawa Timur secara optimal, selain karena minimnya support pemerintah dan keterbatasan sumberdaya ahli dan teknologi mumpuni, juga karena kurangnya sense of business masyarakat pesisir, untuk memanfaatkan sumberdaya pesisir menjadi ekowisata bahari yang menjanjikan profit ekonomi.

“Banyaknya hutan mangrove di daerah perairan Malang Selatan, misalnya, seharusnya bisa dimanfaatkan masyarakat untuk membuka jasa perahu dayung untuk menyusuri keindahan hutan mangrove. Atau menyewakan berbagai peralatan renang untuk diving, sehingga konsepnya mirip dengan wisata di Gili Trawangan,”paparnya.

Ketua Dewan Kelautan Jawa Timur Bidang Ekowisata Bahari, Sukandar, atau akrab disapa Cak Kandar. (Foto: Kurnia Widi Tetuko)
Ketua Dewan Kelautan Jawa Timur Bidang Ekowisata Bahari, Sukandar, atau akrab disapa Cak Kandar. (Foto: Kurnia Widi Tetuko)

Selanjutnya, kawasan Marine Protected Area (MPA) untuk menjaga keseimbangan ekosistem laut yang belum tersedia, turut berandil menyebabkan belum tergalinya potensi laut Jawa Timur.

“Akibat belum adanya MPA ini, banyak nelayan atau para investor yang mengeksploitasi kekayaan laut secara sembarangan, sehingga dapat mengakibatkan kerusakan keseimbangan ekosistem bawah laut,” kata Cak Kandar.

Perairan Indonesia, tambahnya, seharusnya memiliki zona MPA minimal 3 persen, agar keberlangsungan biota laut dapat tetap terjaga di masa mendatang. Karena tidak dipungkiri, awamnya pengetahuan para nelayan dan juga investor asing, ternyata turut memberi andil punahnya beberapa biota laut yang tergolong langka.

“Dengan melihat pesona keindahan potensi Laut Indonesia, khususnya potensi laut Jawa Timur, hendaknya pemerintah, akademisi/ilmuwan, beserta masyarakat, mampu menyadari pentingnya menjaga sumberdaya laut yang ada, dan juga memanfaatkanya untuk kesejahteraan bangsa, agar masyarakat Indonesia bisa mencapai kemakmuran dan mampu kembali bangkit sebagai Negara Maritim yang tangguh dan berdaulat, seperti di masa yang lalu,” pungkas Cak Kandar.