Non-Nuclear Weapon Country, Indonesia Dapat Jadikan Sains sebagai Alat Diplomasi

Science and Diplomacy for Peace and Security-the CTBT @20’ di Vienna. (Humas UGM)

Vienna, MAROBS ** Indonesia sebagai non-nuclear weapon country bisa berperan aktif dalam negosiasi krisis. Universitas sebagai pusat kegiatan penelitian dapat memperkenalkan metode dan pendekatan terbaik untuk memperkuat peranan Indonesia, dengan menempatkan sains sebagai alat diplomasi.

Hal tersebut disampaikan perwakilan Universitas Gadjah Mada, Mardhani Riasetiawan, dalam Simposium bertajuk ‘Science and Diplomacy for Peace and Security: the CTBT @ 20’ di Vienna, Austria. Ia sedang melakukan joint research bersama University of Vienna.

“Kegiatan ilmiah yang menghadirkan pimpinan dari berbagai badan dunia tersebut diadakan untuk mencari solusi terbaik yang bisa diterima semua negara di dunia melalui pendekatan ilmiah. Salah satunya dengan strategi Science in Diplomacy and Science for Diplomacy,” papar dosen Program Ilmu Komputer Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA UGM tersebut.

Dirilis Humas UGM, acara berlangsung 25 Januari hingga 4 Februari 2016 dan diselenggarakan oleh Preparatory Commissions for The Comprehensive Nuclear test-ban Treaty Organization (CTBTO), sebagai salah satu badan yang telah mempromosikan pelarangan kegiatan uji coba nuklir, demi menjaga keamanan dan perdamaian dunia selama 20 tahun terakhir.

“Pada kegiatan ini, peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga ikut dalam rangkaian kegiatan simulasi penanganan krisis nuklir internasional, manajemen informasi untuk International Information Monitoring System, juga membangun jaringan untuk memperkuat sinergi peneliti dalam isu-isu internasional,” ujarnya, Rabu (27/1/2016).

Ia menjelaskan, persoalan nuklir merupakan salah satu isu yang menarik perhatian masyarakat global saat ini. Pengembangan nuklir, khususnya sebagai senjata pemusnah massal, memunculkan ancaman keamanan bagi negara-negara di dunia.

Indonesia dengan pendekatan politik luar negeri bebas aktif memiliki peran strategis untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan diplomasi, serta menawarkan solusi yang komprehensif terhadap isu nuklir ini.

“Kesempatan internasional ini tidak hanya menunjukkan bahwa Indonesia siap untuk memberi kontribusi secara internasional, tetapi juga menempatkan UGM untuk turut aktif berkontribusi tidak hanya pada isu nasional, tetapi juga dalam isu-isu internasional,” ungkap Mardhani.

Science and diplomacy, sambungnya, bisa dijadikan sebuah fokus yang akan menjadikan peran UGM semakin nyata di dunia internasional serta nasional.

Perlucutan Senjata Nuklir

Pada kesempatan berbeda, Direktur Keamanan Internasional dan Perlucutan Senjata (KIPS) Kementerian Luar Negeri, Andy Rachmianto, mencatat, masih ada sekitar 16-17 ribu hulu ledak nuklir di dunia. Upaya perlucutan senjata nuklir masih menjadi tantangan besar yang dihadapi masyarakat dunia. Hingga kini, masih terdapat ribuan hulu ledak nuklir di dunia.

Kendati masih terdapat ribuan hulu ledak di dunia, diakui Andy, upaya perlucutan senjata telah menunjukkan kemajuan. Dibandingkan dengan kondisi pada 1970-an, jumlah hulu ledak di dunia mengalami penurunan dalam jumlah signifikan.

Pemerintah Indonesia, lanjutnya, terus mendorong upaya perlucutan senjata nuklir. Bahkan secara menyeluruh di berbagai belahan dunia. Sikap tersebut telah ditunjukkan sejak Indonesia merdeka dengan mengambil keputusan politik nasional dengan tidak berupaya memiliki senjata nuklir sebagai upaya menjaga perdamaian dunia.

“Sejak 20 tahun lalu bersama dengan negara yang tergabung dalam gerakan non-blok Indonesia terus mendorong pelucutan senjata nuklir secara menyeluruh. Selain mencegah proliferasi senjata nuklir juga penggunaan senjata kimia dan senjata-senjata tertentu yang mematikan seperti bom kluster dan ranjau darat,” paparnya.

Andy mengungkapkan, Indonesia selalu menekankan agar negara-negara nuklir memenuhi komitmen melucuti senjata nuklirnya sebagai bagian dari implementasi artikel VI taktat non-proliferasi nuklir (NPT). Dengan begitu, visi dunia tanpa senjata nuklir bisa diwujudkan.