Peradaban Maritim Kuat, Agus Sunyoto: Nusantara Dijajah 350 Tahun Itu Data Salah

Agus Sunyoto. (Foto: YouTube/Nusantara Tube/Aswaja TV)
Agus Sunyoto. (Foto: YouTube/Nusantara Tube/Aswaja TV)

Malang, MAROBS ** Catatan sejarah yang menyebutkan bahwa Belanda menjajah Nusantara selama 350 tahun tidaklah tepat. Karena, fakta sejarah menunjukkan bahwa daerah-daerah Nusantara yang memiliki basis kemaritiman kuat, sangat sulit untuk ditaklukan Belanda, seperti Bali yang baru tunduk pada 1909, atau Aceh yang baru takluk pada 1910.

“Hal tersebut lantas membuktikan bahwa bangsa kita merupakan bangsa yang memiliki basis peradaban leluhur maritim yang kuat,” ujar sejarawan, Agus Sunyoto, di rumahnya, beberapa waktu lalu.

Dosen filsafat Universitas Brawijaya ini menuturkan, kemampuan pelaut-pelaut Nusantara dalam mengarungi Samudera, dicatat oleh pedagang Arab, bernama Ibnu Lakis.

Selain itu, menurut terjemahan J. Sauvaget dalam Merveilles de l’ Indie, pada 334 H/945-946 M telah datang sekira seribu perahu yang dinaiki Orang Waqwaq di sekitar Pantai Mozambique. Agus menuturkan, nama purba Pulau Jawa adalah Waka-Jawa.

“Catatan historiografi tentang perjalanan para pelaut Nusantara juga dicatat oleh Wang Zen, pegawai bea cukai Pelabuhan Guang Zi Tiongkok pada abad 3 M. Dalam catatan itu, Wang Zen mendeskripsikan bahwa kapal-kapal yang berasal dari Kun Lun atau orang Selatan-Jawa, memiliki panjang 25-65 meter, serta memiliki ketinggian hingga 10 meter. Kapal dari Kun Lun ini mampu memuat 700 awak kapal,” ungkapnya.

Jejak kebesaran peradaban maritim Nusantara, sambungnya, ditandai pula dengan adanya bandar-bandar pelabuhan besar era Majapahit hingga Mataram, seperti Bandar Pelabuhan Tuban, Jepara, Lasem, Surabaya, Semarang, hingga Sunda Kelapa.

“Belum termasuk bandar pelabuhan militer yang tersebar di seluruh perairan Nusantara yang dimiliki oleh kerajaan-kerajaan tersebut,” kata penulis buku Atlas Wali Songo itu.

Transportasi Laut Beragam

Ia menambahkan, barometer lain untuk melihat bukti ketinggian peradaban Nusantara bisa ditemukan melalui beragamnya alat transportasi laut, seperti rakit, sampan, biduk bidara, lancara, gethek, jung, jukang, pinishi, gethek, dan masih banyak lagi.

“Pada era pra-kolonial, ciri mentalitas pelaut ditunjukkan dengan keberanian menjelajah samudera. Hal ini dibuktikan dengan adanya transaksi perdagangan yang dilakukan pelaut kita hingga Tiongkok, India, dan Benua Afrika,” ucap sejarawan kelahiran Kota Pahlawan Surabaya, lebih dari setengah abad silam tersebut.

Tidak salah, lanjutnya, baru-baru ini ditemukan bukti arkeologi yang menyatakan bahwa Pulau Madagaskar dan Kepulauan Hawaii merupakan pulau para keturunan orang-orang Jawa yang tidak bisa pulang kembali ke Nusantara.

“Zaman dahulu, hanya dengan menggunakan perahu kecil saja orang-orang di pesisir sudah bisa dagang hingga Tiongkok sampai India, sehingga tidak mengherankan bahwa masyarakat yang hidup di daerah pesisir zaman dahulu, lebih tinggi peradabannya ketimbang di daerah pedalaman yang hanya tahu gunung dan sawah saja,” papar Wakil Ketua PP LESBUMI ini sambil terkekeh santai.

Agus berpendapat, daya jelajah tinggi para pelaut kuno Nusantara hingga dataran Eropa dan Afrika, dikarenakan zaman dahulu, mereka telah menemukan teknologi pergerakan arah mata angin yang disebut ‘pedoman’, diambil dari kata dasar ‘dom’ yang dalam Bahasa Kawi bermakna ‘penunjuk arah’. Pedoman inilah yang nantinya akan berkembang menjadi kompas.

“Bangsa yang bermentalkan pelaut memiliki daya juang dan survive yang tinggi, sehingga tidak heran para penjajah cukup kesulitan untuk menaklukan kawasan Nusantara, sebelum diubahnya mental pelaut ke mental petani di zaman Kerajaan Mataram,” pungkasnya.