Rehabilitasi Mangrove, Purwowibowo: Peran Pemimpin Informal Sangat Signifikan

Hutan Mangrove Pasar Banggi Rembang. (Foto: Unimus)
Hutan Mangrove Pasar Banggi Rembang. (Foto: Unimus)

Jember, MAROBS ** Program rehabilitasi mangrove banyak mengalami kendala. Peneliti senior Universitas Jember, Puwowibowo, mengatakan, pemimpin informal berperan signifikan untuk menggerakkan masyarakat, bahu-membahu merehabilitasi mangrove.

“Berdasarkan riset yang saya lakukan di Desa Pasar Banggi Kecamatan Rembang Kabupaten Rembang Provinsi Jawa Tengah, pemimpin informal terbukti berhasil menginisiasi gerakan rehabilitasi mangrove,” ujar Purwo, Selasa (19/1/2016), di Universitas Jember (UNEJ).

Dosen Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNEJ tersebut mengungkapkan, hutan mangrove merupakan lingkungan hidup alami yang dapat dipulihkan dari kondisi rusak, serta menghasilkan berbagai sumberdaya ekologis, ekonomis, dan sosial.

“Berbagai sumberdaya tersebut dapat didayagunakan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat pesisir,” tuturnya.

Ia memaparkan, rehabilitasi hutan mangrove di Pasar Banggi Rembang dipelopori oleh seorang warga, kemudian berhasil dilaksanakan secara bersama-sama.

“Gerakan demikian disebut dengan Community Development atau pengembangan komunitas,” ucap laki-laki kelahiran Trenggalek, 21 Februari 1959, ini.

Purwo mengisahkan peran Suyadi, seorang mantan anggota TNI yang pernah turut dalam misi penumpasan Gerakan PRRI di Sumatera Barat. Ia pahlawan, inisiator, dan teladan rehabilitasi mangrove.

Selama lebih dari lima dekade, Suyadi intens dalam rehabilitasi mangrove yang ia prakarsai. Ketika itu, Suyadi berpendapat, mangrove dapat melindungi tanggul tambak tempat ia dan sebagian besar warga melakukan budidaya ikan dan bandeng saat musim hujan serta garam saat kemarau.

“Bila mangrove rusak, tanggul tambak pun akan rusak. Setelahnya, budidaya tidak akan pernah berhasil, karena air laut merangsek ke dalam tambak,” terang Purwo menirukan Suyadi.

Sekian waktu tak berhasil pada awal program, Suyadi terus konsisten melakukannya. Hingga pada titik ke sekian, ia berhasil mengembangkan komunitas dan terbentuklah Kelompok Tani Peduli Mangrove.

Fantastis. Upaya Suyadi pun berhasil. Kini, Anda dapat menjadi saksi hidup keberhasilan Suyadi merehabilitasi mangrove di Desa Pasar Banggi. Sabuk hijau itu membentang hingga 3,5 kilometer dengan ketebalan antara 65-150 meter.

“Suyadi bukan hanya Ketua Kelompok Tani Peduli Mangrove, tapi juga pemimpin informal yang berhasil. Ia mencontohkan perbuatan, lalu ditiru banyak orang karena bersinggungan dengan kebutuhan warga lebih luas. Ia dipercaya karena dianggap paling berpengalaman dalam hal rehabilitasi mangrove dan terbukti berhasil mengamankan tambaknya dari serbuan air laut,” simpul Purwo.

Hutan Mangrove Pasar Banggi RembangDibukukan

Hasil studi Purwo tentang rehabilitasi hutan mangrove Pasar Banggi Rembang lantas dibukukan dengan judul Hutan Mangrove Pasar Banggi Rembang: Rehabilitasi, Community Development, dan Pemimpin Informal.

Buku ini bukan hanya memotret, mendokumentasikan, menemukan masalah, dan berusaha merumuskan pola perubahan. Penulis manunggal dengan realitas yang ada. Ia bahkan tinggal untuk beberapa lama di Desa Pasar Banggi untuk menyelesaikan studinya.

Terbitan Pandiva Buku Yogyakarta, Januari 2016 tersebut menambah deretan temuan tentang pranata kemaritiman Nusantara yang potensial dikembangkan lagi, setelah sekian lama terkubur atau sengaja dikuburkan.