Suku Laut Pulau Bertam, Potret Peran Negara Berdayakan Komunitas Adat Terpencil

Permukiman Suku Laut Pulau Bertam Kota Batam pada masa awal. (Foto: KKKS Batam)
Permukiman Suku Laut Pulau Bertam Kota Batam pada masa awal. (Foto: KKKS Batam)

Jember, MAROBS ** Komunitas Adat Terpencil (KAT) selalu menarik diperbincangkan. Secara alamiah, komunitas ini memiliki caranya sendiri untuk bertahan hidup. Mereka menjalani hidup dengan kebajikan autentik yang dipegangteguhi serta menerjemahkan kehidupan dari sudut pandang alam.

“Suku Laut (Sea Nomads) Pulau Bertam Kota Batam adalah salah satu dari sekian banyak KAT di Nusantara. Habitat serta tempat membentuk lingkungan sosial dan budaya Suku Laut adalah laut,” ujar peneliti Indigenous People, Atik Rahmawati, di Universitas Jember (Unej), beberapa waktu lalu.

Menurut dosen Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Unej tersebut, mereka hidup menyebar di wilayah Batam, serta di sekitar Selat Malaka, Selat Phillip, Selat Singapura, dan Laut Tiongkok Selatan.

“Bagi negara, mobilitas Suku Laut dianggap menyebabkan persoalan, menyangkut konsentrasi teritorial, masalah politis, ekonomi, sosial-budaya, dan masalah pertahanan keamanan,” ungkap Atik.

Ia menjelaskan, pemerintah kemudian turun tangan dalam bentuk Program Perberdayaan Komunitas Suku Laut. Salah satu outputnya, Suku Laut dapat bermukim secara permanen di Pulau Bertam Kota Batam.

Kebijakan penempatan permanen untuk kesejahteraan Suku Laut, sambungnya, tidak lantas mengesampingkan aspek survival mereka yang telah mendarah daging.

“Karena berdasarkan sejarah, Suku Laut termasuk bangsa maju (neolithicum) dan bagian dari kebudayaan batu besar (megalithicum) yang membawa adat istiadat serta budaya khas turun-temurun,” ucap Atik.

Selain itu, kemampuan navigasi Suku Laut sebagai pengetahuan mereka hidup survive nomaden mengitari lautan sangatlah menakjubkan. Artinya, pemberdayaan yang ditujukan pada Suku Laut juga memperhatikan potensi mereka.

Buku Tentang Suku Laut

Atik Rahmawati berhasil mendokumentasikan studinya selama ini tentang Suku Laut Pulau Bertam menjadi sebuah buku berjudul Suku Laut Pulau Bertam: Sebuah Implementasi Program Pemberdayaan. Buku terbitan Pandiva Buku Yogyakarta tersebut dirilis pertama kali pada 2015.

Suku Laut Pulau BertamKerja keras penulisan buku untuk mendokumentasikan proses transformasi Suku Laut menjadi warga negara kebanyakan, bukan hanya tidak mudah. Studi serupa belum tentu dapat bertemu dengan momentum penting, adaptasi Suku Laut yang kemudian memutuskan tinggal permanen di permukiman.

“Dinamika Suku Laut yang tidak seperti kebanyakan suku terpencil di Indonesia, memberi konsekuensi khusus, bukan hanya berimplikasi pada penyesuaian strategi, tapi juga pendanaan. Situasi lapangan yang bisa jadi tidak lagi seperti tertera di atas kertas rencana,” papar Atik.

Sebutlah Indonesia merupakan gabungan mozaik nusa dan bangsa, tambahnya, studi tentang Suku Laut Pulau Bertam dapat dianggap sebagai representasi sebuah dedikasi keutuhan NKRI dengan memperjuangkan hak semua warga negara, hingga daerah terpencil.