2015, Geliat Perekonomian Tingkatkan Arus Peti Kemas Kawasan Timur Indonesia

Pelabuhan Tenau Kupang. (Foto: Pelindo III)
Pelabuhan Tenau Kupang. (Foto: Pelindo III)

Surabaya, MAROBS ** Pada 2015, terjadi peningkatan arus peti kemas di Kawasan Timur Indonesia. Di samping menunjukkan geliat perekonomian, juga disebabkan oleh tren kontainerisasi. Hal tersebut disampaikan Kepala Humas PT Pelabuhan Indonesia III (Persero), Edi Priyanto, Selasa (9/2/2016).

Arus peti kemas di Pelabuhan Tenau Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT) sebanyak 99.064 TEU’s, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, 88.895 TEU’s.

Peningkatan terjadi pula pada Pelabuhan Maumere NTT dan Pelabuhan Bima Nusa Tenggara Barat (NTB), masing-masing tercatat 18.901 TEU’s atau meningkat dari tahun sebelumnya, 18.482 TEU’s.

“Sedangkan pelabuhan yang mengalami penurunan arus peti kemas terjadi di Pelabuhan Lembar NTB, yakni tercatat 21.966 TEU’s atau menurun dari tahun sebelumnya yang tercatat 27.080 TEU’s,” ujar Edi.

Ia menjelaskan, realisasi jumlah arus barang dengan menggunakan kemasan peti kemas di lingkungan Pelindo III sepanjang tahun 2015 tercatat sebanyak 4.360.669 TEU’s atau terjadi peningkatan tipis sebesar 1 persen dibandingkan tahun 2014 yang tercatat 4.337.555 TEU’s.

“Perlambatan ekonomi dunia tampaknya tak berpengaruh secara signifikan terhadap arus peti kemas di beberapa pelabuhan yang dikelola Pelindo III. Peningkatan arus peti kemas meski hanya tipis sebesar 1 persen menunjukkan bahwa angkutan barang melalui transportasi laut menggunakan peti kemas masih menjadi primadona,” papar Edi.

Menurutnya, proses dalam melakukan kegiatan bongkar muat barang dengan menggunakan peti kemas lebih cepat dibanding dengan barang dengan kemasan non-petikemas.

Karena kegiatan bongkar muat tidak terlalu lama, secara otomoatis menekan biaya operasi kapal di pelabuhan, keamanan atas barang yang ada di dalam peti kemas lebih terjamin dari kerusakan maupun pencurian karena memiliki pintu yang dapat dibuka dan dikunci, dapat digunakan sebagai gudang untuk menyimpan barang.

“Hal-hal tersebut menjadi pertimbangan pengiriman barang saat yang menggunakan kemasan peti kemas,” kata Edi.

Dari total arus peti kemas melalui pelabuhan yang dikelola Pelindo III, sambungnya, peti kemas domestik masih mendominasi dengan persentase mencapai 57 persen atau tercatat 2.504.288 TEU’s. Sementara komposisi peti kemas internasional tercatat 43 persen dengan jumlah peti kemas sebanyak 1.856.381 TEU’s.

Pelindo III mengoperasikan 11 pelabuhan pada 7 provinsi untuk melayani kegiatan bongkar muat peti kemas, yakni Tanjung Perak, Tanjung Emas, Banjarmasin, Tenau, Benoa, Sampit, Kotabaru, Lembar, Kumai, Maumere, dan Bima.

Wilayah Kalimantan Menurun

Realisasi arus peti kemas sepanjang 2015 masih didominasi Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dengan catatan 3.120.683 TEU’s atau terjadi peningkatan tipis sebesar 0,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya, yakni tercatat 3.105.827 TEU’s.

Jumlah arus peti kemas di Pelabuhan Tanjung Perak terdiri dari 1.350.811 TEU’s di Terminal Peti kemas Surabaya yang dioperasikan oleh PT TPS, 1.080.648 TEU’s di Terminal Berlian yang dioperasikan oleh PT BJTI, 120.688 TEU’s di Terminal Teluk Lamong yang dioperasikan oleh PT TTL dan sisanya sebanyak 568.536 TEU’s di Terminal Konvensional (Jamrud, Mirah, dan Nilam Timur) Pelabuhan Tanjung Perak.

Setelah Pelabuhan Tanjung Perak disusul Pelabuhan Tanjung Emas dengan catatan sebanyak 608.984 TEU’s dengan rincian 608.199 TEU’s di Terminal Peti Kemas Semarang (TPKS) dan 785 TEU’s di Pelabuhan Konvensional Tanjung Emas. Capaian tersebut menunjukkan peningkatan sebesar 5,6 persen dari 2014, di mana terealisasi 576.866 TEU’s.

Meski demikian, ungkap Edi, peningkatan arus peti kemas di Pulau Jawa ternyata tidak diikuti oleh pelabuhan-pelabuhan lain di wilayah Kalimantan.

“Penurunan arus barang berkemasan peti kemas di Pulau yang kaya hasil tambangnya itu diperkirakan karena pengaruh kebijakan pemerintah terkait larangan ekspor minerba, yang berdampak pada bongkar muat barang tambang di beberapa pelabuhan di Pulau Kalimantan. Anjloknya harga komoditas batu bara dan sawit juga turut memberikan andil penurunan,” ucapnya..

Pelabuhan Banjarmasin Kalimantan Selatan, contohnya. Realisasi arus Peti kemas pada 2015 sebanyak 388.419 TEU’s atau terjadi penurunan sebesar 6 pesen dibandingkan 2014, yakni tercatat 404.070 TEU’s.

Demikian halnya Pelabuhan Sampit Kalimantan Tengah. Realisasi Peti kemas pada 2015 tercatat 40.640 TEU’s atau menurun 7 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang terealisasi 43.690 TEU’s.

Pelabuhan Kotabaru Kalimantan Selatan tercatat 8.427 TEU’s menurun dari tahun sebelumnya yang terealisasi sebesar 9.892 TEU’s.

“Penurunan arus peti kemas tidak terjadi di Pelabuhan Kumai Kalimantan Tengah. Pada 2015 tercatat 24.225 TEU’ atau meningkat dari tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 22.126 TEU’s,” pungkas Edi.