Anggaran Rp250 T, Panglima TNI: Pangkalan Militer Harus Bisa Kover Perbatasan

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo didampingi KSAD, KSAL, dan KSAU menyampaikan keterangan pers, di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (23/2/2016) petang. (Foto: Setkab)
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo didampingi KSAD, KSAL, dan KSAU menyampaikan keterangan pers, di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (23/2/2016) petang. (Foto: Setkab)

Jakarta, MAROBS ** Mengelola anggaran yang diprediksikan mencapai Rp250 triliun, TNI bertekad membangun pangkalan militer yang mampu mengkover wilayah perbatasan. TNI bahkan berniat membangun sendiri pangkalan-pangkalan militer baru tersebut.

“(Wilayah perbatasan) ini yang kita lupakan. Di TNI itu hanya ada 2 babinsa, pos angkatan laut hanya 2, dengan perlengkapan terbatas. Ini yang kita lihat lagi agar benar-benar di pulau terluar benar-benar kita punya mata dan telinga yang benar-benar bisa menginformasikan perkembangan situasi,” ujar Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo, usai Rapat Terbatas di Kantor Presiden Jakarta, Selasa (23/2/2016).

Panglima TNI menyampaikan adanya perubahan pulau terluar Indonesia yang berbatasan dengan Australia. Ia menyebutkan, pada saat Timor Timur menjadi bagian wilayah di Indonesia maka pulau yang terluar terhadap Australia adalah Provinsi Timor Timur.

Namun, begitu Timor Timur menjadi negara Timor Leste, pulau terluar Indonesia yang berbatasan dengan Australia adalah Pulau Liran, Pulau Wetar, Pulau Leti, Pulau Kisar, dan Pulau Alor.

Ia menegaskan, pulau-pulau terluar yang berbatasan dengan Australia harus dipertaruhkan sebagai pulau terluar dengan Angkatan Laut dan Angkatan Udara. Selain itu, harus diperhitungkan pengembangan Angkatan Udara dan Angkatan Laut ke depan.

“Contohnya, Angkatan Laut di Armada Timur, kalau ke Pulau Aru yang memerlukan waktu sekitar 8 hari. Kalau operasi 2 bulan saja , sudah 25 persen, dia habis. Pulang-pulang lagi kan setelah 16 hari. Jadi, perlu ada pelabuhan lagi di sana,” paparnya.

Dengan adanya kemungkinan penambahan anggaran dari pemerintah, Panglima TNI mengemukakan, program yang diajukan TNI tergantung pada APBN, dan sebagainya. Penekanan yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo adalah dihitung benar rupiahnya, perinciannya, dan dibuat sehemat mungkin.

“Terkait dengan penggunaan anggaran yang efektif maka ada kemungkinan TNI akan membangun sendiri pangkalan-pangkalan militer baru itu,” kata Jenderal Gatot.

Pengembangan ke Indonesia Bagian Timur

Jenderal Gatot mengatakan, penerbangan di Pulau Jawa sekarang ini terlampau padat. Sehari, bisa lebih dari 1.200 penerbangan. Sebagian besar, melalui pantai utara.

Padahal, banyak pangkalan pesawat tempur yang ada di Pulau Jawa, seperti Madiun, Yogyakarta, dan Malang, yang menunjukkan bahwa pusat kekuatan TNI ada di Jawa.

“Ini yang tidak benar. Maka dengan demikian, untuk melancarkan penerbangan dan untuk ekonomi juga, dan untuk pilot, setiap saat bisa terbang dan berlatih, akan kita kembangkan (pangkalan militer), ada Biak, ada Morotai, ada Merauke, dan sebagainya,” jelasnya.

Tentang kapan program pengembangan di Biak, Morotai, dan Merauke, Panglima TNI menuturkan, pihaknya diperintahkan untuk mengadakan observasi dan analisis terbaik, kemudian dibuat rencana.

“Yang jelas, TNI akan mengembangkan (pangkalan militer) ke arah timur yang kosong. Contoh, pesawat Sukhoi, kalau dia mau take off harus ada alat oksigen udaranya. Kita punya hanya di wilayah barat. Wilayah timur tidak ada. Ini yang harus kita lengkapi segera,” ungkapnya.