Bali Clean Energy Forum 2016, 29 Negara Anggota OECD Hendak Jembatani Kesenjangan

Bali Clean Energy Forum 2016. (Foto: Setkab)
Bali Clean Energy Forum 2016. (Foto: Setkab)

Nusa Dua, MAROBS ** Bali Clean Energy Forum 2016 yang diselenggarakan Kementerian ESDM dan International Energy Agency (IEA) digelar 11-12 Februari 2016, di Nusa Dua, Bali. IEA, badan energi dunia yang terdiri dari 29 negara anggota Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) giat mendorong pembangunan energi bersih.

Acara bertajuk ‘Menjembatani Kesenjangan dan Mendorong Kemitraan Global’ bermaksud menjadi wadah berkumpulnya pemimpin pemerintahan, pengusaha, lembaga internasional, akademisi, masyarakat sipil, dan generasi muda yang bergerak di bidang energi untuk mendiskusikan percepatan pembangunan energi bersih di Indonesia dan inisiatif global terhadap inovasi teknologi energi bersih.

“Efisiensi energi dan efisiensi biaya melalui penggunaan teknologi maju (adalah hal penting).  Untuk itu, pemerintah berharap dapat menjalin kerja sama dengan para investor, khususnya dalam pengembangan energi bersih,” ujar Wakil Presiden Jusuf Kalla saat membuka acara, kemarin.

Pemerintah menjanjikan kemudahan prosedur investasi kepada para investor yang ingin berpartisipasi pada pembangunan ketenagalistrikan, khususnya dari energi bersih.

“Indonesia sebagai negara archipelago diuntungkan dengan adanya potensi energi terbarukan yang sangat besar, seperti tenaga surya sepanjang tahun, geotermal, tenaga angin yang berkelanjutan, energi arus laut, dan sebagainya,” paparnya.

Potensi listrik yang dihasilkan dari Energi Baru Terbarukan di Indonesia, menurut JK, dapat mencapai 300 GW. Namun, sampai saat ini belum termanfaatkan secara optimal.

Menteri ESDM Sudirman Said menambahkan, Indonesia sedang bersiap-siap memasuki era baru dengan memaksimalkan potensi energi baru terbarukan yang bisa terus-menerus diandalkan sebagai pengganti energi fosil.

“Indonesia harus berhati-hati dengan harga energi yang sangat murah saat ini, sehingga tidak terjebak ke depannya,” kata Sudirman, dirilis Sekretariat Kabinet.

Selama 2015, sambungnya, Kementerian ESDM telah melakukan program penggunaan minyak bekas untuk biofuels, program Patriot Energi yang mengumpulkan sukarelawan para pemuda untuk memberikan informasi listrik di daerah terpencil, pembangungan PLTS di Kupang, dan sebagainya.

Center of Excellence Energi Bersih

Sementara Gubernur Provinsi Bali, I Made Mangku Pastika, menuturkan, pemilihan Bali sebagai lokasi forum, karena Bali akan menjadi Pusat Kawasan Energi Bersih pertama di Indonesia, dengan didirikannya Center of Excellence Energi Bersih (CoE) sebagai pusat pengembangan, penelitian, dan fasilitasi investasi proyek energi bersih, sehingga ke depannya diharapkan 100 persen energi di Bali adalah energi bersih.

“Keberadaan proyek pengembangan energi bersih di Bali diharapkan dapat menyerap tenaga kerja dan meningkatkan perekonomian Bali sejalan dengan 5 Filosofi Dasar Pembangunan Bali yang pro-growth, pro-poor, pro-job, pro-environment, dan pro-culture,” ucap Pastika.

CoE Indonesia akan mendukung upaya percepatan pengembangan energi terbarukan menjadi 23 persen dalam komposisi bauran energi nasional pada 2025.

Untuk jangka 4 tahun ke depan, CoE akan berfokus pada upaya mendukung program pembangunan ketenagalistrikan 35 GW, di mana 25 persen atau sekitar 8,8 GW akan datang dari energi terbarukan, dan 25 persen lagi dari energi gas.

Hingga saat ini, progress pembangunan ketenagalistrikan 35.000 MW telah mencapai sebesar 17,3 GW yang terkontrak, di mana 2,7 GW di antaranya berasal dari energi terbarukan.