Edukasi Interaktif Kemaritiman, Cara Mahasiswa KKN UNDIP Tanamkan Kebaharian Sejak Dini

KKN UNDIP melakukan edukasi interaktif kemaritiman kepada siswa-siswi SDN 1 Candirejo, Tuntang, Kabupaten Semarang. (Foto: KKN UNDIP)
KKN UNDIP melakukan edukasi interaktif kemaritiman kepada siswa-siswi SDN 1 Candirejo, Tuntang, Kabupaten Semarang. (Foto: KKN UNDIP)

Semarang, MAROBS ** Sejumlah mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Universitas Diponegoro (KKN UNDIP) melakukan edukasi interaktif kemaritiman kepada siswa-siswi SDN 1 Candirejo, Tuntang, Kabupaten Semarang, Kamis (25/1/2016). Sebuah upaya menanamkan kebaharian sejak dini.

Mereka memberi wawasan semangat kemaritiman yang dikemas secara interaktif dan menarik, supaya dapat diterima oleh siswa-siswa SD. Kegiatan diikuti tidak kurang dari 35 anak, sedang untuk mahasiswanya berjumlah 13 orang.

Adapun rentang umur anak-anak tersebut, 9-11 tahun. Penyampain materi yang lebih interaktif dikemas dalam penampilan gambar-gambar, nyanyian, dan kreativitas seni.

Materi yang diberikan pun berdasarkan latar belakang ilmu displin dari masing-masing mahasiswa. Rizka Laila, mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), memaparkan tentang makanan sehat, salah satunya, konsumsi makanan bernilai gizi yang dapat menyehatkan, yakni Ikan.

Namora Tampubolon, mahasiswa Hubungan Internasional FISIP, menyampaikan konsumsi jajanan sehat sehari-hari. Sementara Dicky Bangun, mahasiswa Ilmu Kelautan, memberi pengenalan dunia bawah laut.

Kesemua materi bisa menjadi sebuah dasar kencintaan terhadap dunia kemaritiman. Secara gamblang, tidak langsung memberikan pengenalan kemaritiman, akan tetapi dapat menjadi stimulus mendasar. Dalam kegiatan tersebut, dikenalkan pula tentang profesi nelayan; bagaiamana kehidupannya, terutama proses menangkap ikan.

“Setiap bangunan yang berdiri tegak nan kokoh selalau diawali dengan fondasi yang baik, guna mendukung terwujudnya apa-apa yang dicita-citakan. Tentunya paradigma ini sudah seharusnya ditanamkan kepada bagian kehidupan lainnya,” ujar Namora.

Menyoal visi pemerintah mengenai Indonesia Poros Maritim Dunia, sambungnya, perlu ada perwujudan tindak tanduk akan sebuah misi yang mengarah kepada hal tersebut.

“Tidak kurang dan jangan sampai terlewatkan adalah hal-hal yang mendasar. Salah satunya adalah penguatan generasi penerus. Peran regenerasi akan begitu penting di masa mendatang. Mereka adalah penerus yang bisa jadi beban dan tanggung jawabnya lebih berat dari pembentuk. Setiap generasi penerus harus siap menjaga dan peningkatan apa-apa yang sudah ada,” terang mahasiswa angkatan 2012 itu.

Dukung Nelayan

Lebih lanjut, Dicky menerangkan, salah satu cara mengelilingi dunia adalah dengan berlayar atau menjadi nelayan, sebagaimana pernah dilakukan oleh orang-orang Melayu dan Bugis.

Sayangnya, sekarang, profesi nelayan sedikit dipandang sebelah mata. Sebagaimana diketahui, Bali mengalami penurunan jumlah nelayan. Oleh karenanya, perlu penanaman paradigma bahwa nelayan adalah profesi yang sejajar tingkatannya dengan profesi lain.

“Di beberapa negara, profesi nelayan bisa menjadi profesi yang menjanjikan. Karena, nelayan tersebut benar-benar menggunakan sistem yang menjunjung tinggi profesionalitas,” tuturnya.

Perlengkapan kerja ini, lanjutnya, benar-benar diperhatikan serta memiliki waktu kerja profesional. Selain memberikan penghasilan menjanjikan, keselamatan kerja pun sangat terjamin serta menghasilkan produk perikanan berkulitas.

Kegiatan mengajar ditutup dengan memberikan ruang berekspresi pada anak-anak. Mereka diberikan kesempatan untuk menerangkan apa-apa yang disampaikan dalam bentuk gambar.

Hampir 95 persen anak-anak menggambar dunia laut serta aktivitas di laut. Dapat disimpulkan bahwa setelah dikenalkan dengan materi-materi yang mengarah kepada dunia kemaritiman, sedikit banyak telah tertanam kecintaan terhadap dunia kemaritiman dalam jiwa anak-anak.

“Terlebih mereka berada di wilayah yang tidak jauh dari wilayah perairan, yakni sebuah rawa yang menjadi salah satu ikon Semarang, Rawa Pening,” kata Dicky.

Ia berharap, dari kegiatan ini, selain mampu menanamkan kecintaan kepada dunia kemaritiman, bisa menjadi bahan pertimbangan guna mewujudkan ‘Kurikulum Berbasis Kemaritiman’ yang diterapkan dari usia dini.

“Harapan ini pernah disampaikan kepada Yayuk Basuki, Komisi X DPR RI, pada kesempatan pertemuan di Semarang,” pungkasnya.