Entaskan Kemiskinan, Pembangunan Kampung Bahari Tambaklorok Semarang Harus Menyeluruh

Kampung Tambaklorok Semarang. (Foto: Galang Taufani)
Kampung Tambaklorok Semarang. (Foto: Galang Taufani)

Kota Semarang, MAROBS ** Camat Semarang Utara Jaka Sukawijana mengatakan, tingkat kemiskinan di Kampung Tambaklorok yang secara administratif masuk dalam Kelurahan Tanjungmas, paling tinggi. Untuk mengentaskan kemiskinan, pembangunan menyeluruh sangat diperlukan.

Selama ini, warga Tambaklorok kebanyakan bekerja sebagai nelayan yang hanya mengandalkan hidup dari hasil tangkapan ikan. Sementara profesi melaut sangat dipengaruhi musim atau kondisi cuaca.

Pembangunan Kampung Bahari Tambaklorok merupakan program tahun jamak dengan pendanaan bersama dari pemerintah pusat dan kota.

“Pembangunan Kampung Bahari Tambaklorok nanti tidak sebatas infrastruktur, melainkan harus secara menyeluruh, untuk meningkatkan derajat atau taraf hidup masyarakat setempat,” ujar Jaka, beberapa waktu lalu, dirilis Pemerintah Kota Semarang.

DPRD Kota Semarang menyatakan kesiapannya mengawal program pembangunan Kampung Bahari Tambaklorok untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Sekitar 70 persen warga di Tambaklorok kan nelayan. Jangan sampai mereka dirugikan karena tujuannya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat,” tutur Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi.

Menurutnya, pembangunan Kampung Bahari Tambaklorok tak semata menyangkut infrastruktur, tetapi menyangkut keseluruhan aspek, terutama sumberdaya manusia (SDM) dengan mempertimbangkan dampak-dampaknya.

Supriyadi mengingatkan, aspek kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan sosial harus menjadi perhatian yang erat kaitannya dengan pembangunan SDM dan harus disiapkan seiring pembangunan Kampung Bahari.

“Makanya jangan sampai mereka ini hanya mengandalkan hasil tangkapan ikan saja. Perlu diberikan keterampilan,” pungkasnya.

Kampung Nelayan Modern

Seperti diberitakan sebelumnya, pemerintah akan membangun 1000 unit rumah di Kampung Nelayan Modern Indramayu. Rumah diperuntukkan bagi buruh nelayan yang sehari-hari hidup di laut.

Deputi SDM, Iptek, dan Budaya Maritim Kementerian Koordinator Maritim dan Sumberdaya, Safri Burhanudin, mengatakan, pembangunan Kampung Nelayan Modern bukan hanya pembangunan infrastruktur, tapi terkait sosial, ekonomi, dan peningkatan kesejahteraan, termasuk peningkatan pendidikan.

Hal tersebut merupakan harapan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Sumberdaya Rizal Ramli, sesuai arahan Presiden, yaitu target 16 juta buruh nelayan yang diberdayakan.

“Pembangunan Kampung Nelayan Modern di Indramayu ini akan menjadi model utama yang akan diikuti oleh daerah-daerah lain. Oleh karena itu, diharapkan agar desain pembangunannya harus matang,” tutur Safri dalam Rapat Koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Indramayu, di Jakarta, Rabu (20/1/2016).

Ekowisata Pesisir

Sementara itu, dosen Jurusan Arsitektur Universitas Tadulako Palu, Rusli, berpandangan, integrasi ruang permukiman nelayan dan ekowisata pesisir dapat menjadi isu strategis.

“Saya meyakini integrasi ruang permukiman nelayan dengan ekowisata pesisir dapat digunakan sebagai alat pengembangan aspek sosial perekonomian dan pengembangan wilayah, sesuai potensi setempat,” terangnya, Jumat (29/1/2016).

Rusli melakukan riset berjudul ‘Integrasi Ruang Permukiman Nelayan dengan Ekowisata Pesisir di Donggala Sulawesi Tengah’.

Hasilnya, model integrasi ruang permukiman nelayan dengan ekowisata pesisir dapat dirangkum menjadi empat fungsi ruang, yaitu ruang aktivitas sosial, ekonomi, jasa, dan industri. Selain itu, modelnya pun dipengaruhi oleh faktor fisik, sosial, dan budaya.