Eratkan Hubungan Angkatan Laut Kedua Negara, Pangkolinlamil Kunjungi Changi Naval Base

Panglima Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) Laksamana Muda TNI Aan Kurnia mengunjungi Republic Singapore Navy (RSN). (Foto: Dispen Kolinlamil)
Panglima Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) Laksamana Muda TNI Aan Kurnia mengunjungi Republic Singapore Navy (RSN). (Foto: Dispen Kolinlamil)

Singapura, MAROBS ** Untuk semakin mempererat hubungan angkatan laut Indonesia dan Singapura, Panglima Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) Laksamana Muda TNI Aan Kurnia, berkunjung ke Singapura, Senin (1/2/2016). Kunjungan berlangsung hingga Rabu (3/2/2016).

Dalam kunjungan ke Republic Singapore Navy (RSN) tersebut, Pangkolinlamil disuguhi tampilan film profil RSN, pemberian cinderamata dan foto bersama, serta berkunjung ke beberapa fasilitas Changi Naval Base.

“Ini merupakan sesuatu penghargaan buat TNI AL (Kolinlamil). Kita berharap, kunjungan ini dapat mempererat hubungan dan membangun kerja sama yang baik antara TNI AL dan RSN agar ke depan dapat terus ditingkatkan,” ujar Pangkolinlamil.

Kunjungan ini, sambungnya, merupakan kunjungan persahabatan untuk memenuhi undangan pihak RSN dalam rangka Commander Interaction Program yang sangat bermanfaat bagi hubungan kedua Angkatan Laut, baik TNI AL maupun RSN.

Pangkolinlamil disambut Chief of Staff Rear Admiral Jackson Chia di Minister Of Defence (Mindef), Fleet Commander Rear Admiral Lew Chuen Hong di Fleet Command Building Changi Naval Base, dan Commander 3rd Flotilla Colonel Richard Lim di RSS Endurance 207 Changi Naval Base.

“Diharapkan, Kolinlamil dan RSN dapat mengambil nilai-nilai positif untuk memperkuat hubungan Angkatan Laut kedua negara,” pungkasnya.

Kekuatan RSN

Dari waktu ke waktu, RSN terus bertumbuh menjadi garda depan laut Singapura. Dalam Naval War College Review 65, Collin Koh Swee Lean, seorang Associate Research Fellow di S. Rajaratnam School of International Studies, menulis tentang sejarah dan kekuatan RSN dari waktu ke waktu.

Pada 1980-an, struktur RSN masih khas angkatan penjaga pantai dan terbatas pada Selat Singapura. Armada RSN hanya terdiri kapal patroli dan kapal rudal berukuran kecil.

Misi utama ketika itu dapat dipenuhi oleh skadron kapal meriam rudal kelas Seawolf buatan Jerman Barat yang dilengkapi rudal antikapal Gabriel Mark I buatan Israel. Pada 1991, kapal-kapal RSN mulai dipasangi rudal anti-pesawat udara Mistral SIMBAD buatan Prancis.

Awal 1990-an, 6 unit kapal korvet rudal kelas Victory melengkapi RSN. Kapal yang didasarkan pada kapal perang MGB-62 buatan Jerman Barat tersebut dilengkapi rudal antikapal RGM-84 Harpoon yang memiliki jangkauan hingga 90 kilometer.

Kapal korvet ini dilengkapi rudal anti-pesawat udara, rudal Barak-1 buatan Israel. Pengintaian maritim ditingkatkan dengan pesawat patroli maritim Fokker-50, sedangkan 18 kapal patroli tua digantikan oleh kapal patroli kelas Fearless buatan lokal. Paruh akhir 1990-an ditandai dengan pembelian 5 unit kapal selam eks-Swedia kelas Sjöormen.

Memasuki abad ke-21, kapal fregat kelas Formidable memperkuat RSN. Fregat yang didasarkan pada kapal kelas La Fayette memperkenalkan kemampuan tempur Laut Bir (blue water navy combat). Kapal perang kelas Formidable dilengkapi kemampuan anti-pesawat udara dan anti-kapal selam, serta dapat didarati oleh helikopter Seahawk S-70B.

RSN juga membeli kapal landing platform dock (LPD) kelas Endurance untuk keperluan angkutan amfibi. Sementara armada kapal selamnya bertambah, berupa 2 unit kapal eks-Swedia kelas Västergötland.