Illegal Fishing, Bakamla Tangkap Kapal Ikan Berbendera Malaysia di Perairan Tanjung Balai

Ilustrasi illegal fishing di perairan Indonesia. (Foto: IQMS)
Ilustrasi illegal fishing di perairan Indonesia. (Foto: IQMS)

Tanjung Balai, MAROBS ** Sebuah kapal ikan asing (KIA) berbendera Malaysia bernama KF 5615 ditangkap Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI dalam sebuah operasi bernama Operasi Nusantara I. Kapal ikan tersebut dipergoki melakukan illegal fishing di wilayah perairan Indonesia.

Selasa (16/2/2016), Bakamla merilis detik-detik penangkapan kapal berbobot GT 34 di Perairan Tanjung Balai, Sumatera Utara.

Kapal Angkatan Laut (KAL) Viper memerintahkan KF 5615 untuk berhenti agar dapat dilakukan pemeriksaan dan penggeledahan. Namun, permintaan tidak diindahkan. KF 5615 meresponsnya dengan menarik jaring dan menambah kecepatan.

Aksi kejar-kejaran pun berlangsung. Tim Pemeriksa KAL Viper berkomunikasi dengan KF 5615 menggunakan megaphone dari haluan, tapi kapal ikan itu justru menambah kecepatan dan mengarahkan haluan hendak menabrak KAL Viper, sehingga Komandan Kapal memerintahkan untuk melakukan tembakan peringatan ke udara.

KF 5615 berhasil menabrakkan haluan kapalnya ke lambung kanan KAL Viper, sehingga Komandan Kapal memerintahkan penembakan lambung kapal untuk menghentikannya. Selanjutnya, para ABK diamankan. Saat dilakukan pemeriksaan, ditemukan satu ABK meninggal dunia.

Pada muatan kapal ditemukan ikan hasil tangkapan sebanyak 2 ton dan narkoba. Selain itu, kapal tidak dilengkapi dengan dokumen. Kapal dan ABK beserta seluruh barang bukti lalu dikawal menuju Lantamal I Belawan.

Amankan 15 Ton Ikan Berformalin

Sebelumnya, Kamis (11/2/2016), Sea Rider KP Kutilang 5005 dan Ditpolair Polda Sulsel yang tergabung dalam Operasi Nusantara II berhasil mengamankan 15 ton ikan berformalin asal Kalimantan Selatan.

Barang bukti ikan berformalin beserta 1 basket sampel ikan dan 17 botol sampel air palka penampungan ikan tersebut diamankan dari KM Permata Indah saat aparat sedang beroperasi di Perairan Barombong, Sulsel.

Kapal berbobot GT 29 dengan nakhkoda bernama Mulyadi dan 6 orang ABK tersebut diduga melanggar pasal 91 Undang-Undang Nomor 45 tahun 2009 tentang Perikanan.

Kapal beserta barang bukti dikawal dan diserahkan ke Mako Ditpolair Polda Sulawesi Selatan untuk pemberkasan lanjut.

Global Fishing Watch

Illegal fishing menjadi concern pemerintah. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan mewujudkan transparansi data dalam penangkapan ikan, dengan aplikasi baru bernama Global Fishing Watch. Aplikasi ini dapat memantau pergerakan kapal-kapal penangkap ikan di seluruh perairan Indonesia.

Aplikasi hasil kerjasama dengan SkyTruth, Ocenea, dan Google ini mampu memantau 24 juta data kapal sekaligus. Kerja sama ini akan meningkatkan penerapan kebijakan perikanan nasional dan mengakhiri penangkapan ikan liar, sehingga dapat peningkatan kesehatan persediaan ikan di Indonesia.

Data Global Fishing Watch bisa diakses bebas oleh publik, sehingga masyarakat bisa ikut mengawasi kapal-kapal pencuri ikan.‎

Publik bisa mendapatkan analisis data dari jaringan Automatic Identification System (AIS) yang dapat menyiarkan secara akurat identitas kapal, lokasi, kecepatan, arah tujuan, dan sebagainya. Informasi tentang perilaku kapal, seperti kegiatan penangkapan ikan yang akan dilakukan, dapat diunduh dari Global Fishing Watch.