Implementasikan Integrated Supply Chain, Pertamina Berhemat US$208,1 Juta

Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro. (Foto: Pertamina)
Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro. (Foto: Pertamina)

Jakarta, MAROBS ** Penghematan US$208,1 juta dibukukan Pertamina, setelah mengimplementasikan Integrated Supply Chain (ISC), melalui 5 Program Terobosan ISC 1.0. Fase ISC 1.0 menekankan transparansi dan perbaikan proses pengadaan minyak serta produk minyak secara berkelanjutan.

“Transformasi ISC adalah bagian dari upaya meningkatkan efisiensi dan memperkuat transparansi pengadaan minyak mentah dan produk minyak yang selalu menjadi perhatian publik,” ujar Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro, Senin (8/2/2016), di Jakarta.

Menurutnya, perkuatan ISC dilakukan dengan mengembalikan fungsi ISC, sekaligus meningkatkan kewenangannya. Pertamina berkomitmen tinggi untuk terus meningkatkan transparansi dan akuntabilitas proses pengadaan minyak dan produk minyak.

Lima program Fase ISC 1.0 yang dimaksud adalah memotong perantara dari rantai suplai, peningkatan pemanfaatan dan fleksibilitas armada laut Pertamina, serta pemberian kesempatan yang sama dan adil untuk semua peserta pengadaan.

Selain itu, penerapan proses evaluasi penawaran yang transparan dan mengurangi biaya dengan menerapkan pembayaran Telegraphic Transfer (TT).

“Efisiensi dalam pengadaan dilakukan dengan mengoptimalkan penggunaan kapal-kapal yang dikelola oleh Pertamina, baik untuk mengangkut BBM, minyak mentah, dan elpiji impor dari titik penjualan ke dalam negeri,” terang Wianda.

Menurutnya, efisiensi dari sisi pengadaan minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM) yang dilakukan ISC, salah satunya, dilakukan dengan mengevaluasi ulang kontrak-kontrak pembelian sebelumnya.

“ISC akan melakukan upaya terbaik untuk mendapatkan harga yang paling optimal bagi Pertamina,” katanya.

Undang Mitra

Pertamina mengundang daftar mitra usaha terseleksi (DMUT) untuk terlibat dalam pengadaan minyak mentah dan produk BBM. Penetapan DMUT cukup ketat, karena harus memenuhi sejumlah kualifikasi tertentu, seperti detail bisnis perusahaan, detail laporan keuangan, detail bank, dan lain-lain.

“Melalui ISC, peserta tender lebih variatif, harga lebih kompetitif, dan posisi tawar semakin tinggi. Informasi tender kami buka melalui website Pertamina yang semua orang dapat mengaksesnya,” ucap Wianda.

Dengan transparansi, sambungnya, ISC dapat menjalankan fungsi pengadaan yang lebih baik dan menghilangkan potensi conflict of interest.

“Pola mekanisme tender yang dilakukan melalui email dan metode evaluasi penawaran ketat dan prudent menjadikan proses pengadaan minyak dan produk Pertamina lebih akuntabel dan kredibel,” tutur Wianda

Renegoisasi Kontrak dengan Saudi Aramco

Keberhasilan Pertamina lainnya dalam pengadaan adalah adanya renegosiasi kontrak dengan Saudi Aramco, yang memiliki kontrak evergreen dengan Pertamina sekitar 120 ribu barel per hari. Sejak Juni 2015, Saudi Aramco bersedia tidak lagi mewajibkan Pertamina menerbitkan Letter of Credit (L/C).

“Ini adalah bentuk kepercayaan dari pemasok minyak mentah kepada Pertamina dalam kaitannya dengan jaminan pembayaran. Berapa sen pun yang dapat kami hemat, Pertamina akan lakukan upaya terbaik untuk meraihnya, tentu saja sesuai dengan kaidah-kaidah dan best practices yang ada,” pungkas Wianda.