Kembangkan Pelabuhan Berbasis Wisata, Pelindo III Catatkan Kunjungan 130 Kapal Pesiar Pada 2015

MENINGKAT - Kunjungan kapal pesiar di area kerja Pelindo III meningkat 3 persen sepanjang 2015. (Foto: Humas Pelindo III)
MENINGKAT – Kunjungan kapal pesiar di area kerja Pelindo III meningkat 3 persen sepanjang 2015. (Foto: Humas Pelindo III)

Surabaya, MAROBS ** Intensif mengembangkan pelabuhan berbasis wisata, jumlah kunjungan kapal pesiar di lingkungan kerja PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) atau Pelindo III meningkat sebesar 3 persen.

“Pengembangan pelabuhan berbasis wisata yang dilakukan Pelindo III merupakan komitmen dalam mendukung pemerintah untuk mengembangkan pariwisata Indonesia,” ujar Kepala Humas Pelindo III, Edi Priyanto, Selasa (9/2/2016).

Sepanjang 2015, tercatat sekurangnya 130 kapal pesiar singgah, membawa 128.574 orang turis mancanegara, dengan berat kapal mencapai 6.798.284 Gross Tonnage (GT).

Pada  2014, kapal pesiar yang singgah sebanyak 126 unit, membawa 84.827 orang turis mancanegara, dengan berat kapal mencapai 4.725.008 GT.

“Jumlah kunjungan turis meningkat 52,5 persen dibandingkan tahun 2014, dan berat kapal meningkat 40,7 persen,” ucap Edi.

Dari 130 kapal pesiar yang sandar pada pelabuhan-pelabuhan di wilayah Pelindo III, sebanyak 58 kapal sandar di Pelabuhan Benoa Bali, 26 kapal di Pelabuhan Lembar NTB, 19 unit kapal di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, sementara kapal pesiar lain bersandar di Pelabuhan Tanjung Perak, Celukan Bawang Bali, Tanjung Tembaga Probolinggo, Kumai, Maumere, Tenau Kupang, dan Bima.

Pelabuhan Benoa sebagai Kunci

Menurut Edi, Pelindo III berencana terus melakukan pengembangan Pelabuhan Benoa  Bali, meski hingga saat ini masih terganjal perizinan dari pihak Pemerintah Kota Denpasar. Karena, kunci sukses pengembangan industri wisata kapal pesiar di Indonesia tergantung pada Pelabuhan Benoa.

“Jika Pelabuhan Benoa bisa menerima kunjungan kapal pesiar dengan jenis turn around port maka jumlah turis asing akan meningkat,” ungkap Direktur Utama Pelindo III, Djarwo Surjanto.

Pelabuhan Benoa menjadi pintu masuk bagi wisatawan asing yang berlibur ke Bali menggunakan kapal pesiar. Ia menjelaskan, Bali masih sebatas tujuan. Pelabuhan menjadi pusat kapal pesiar (turn around cruise port). Artinya, para turis akan memulai perjalanannya dari Bali, kemudian ke sejumlah tujuan lainnya.

“Pengembangan infrastruktur wisata bahari yang terintegrasi akan mengoptimalkan potensi rute pelayaran di Indonesia. Tidak hanya profit bagi pengelola, namun juga memantik pengembangan kawasan dan kreativitas warga, sehingga memiliki economic value untuk peningkatan perekonomian masyarakat sekitar,” papar Djarwo.

Pengembangan Kawasan

Pelindo III melalui PT Pelindo Properti Indonesia tengah memulai pengembangan kawasan Boom Marina Banyuwangi sebagai dermaga terintegrasi untuk yacht (kapal layar ringan). Pengembangan tersebut akan terintegrasi dengan Pelabuhan Benoa di Bali dan Labuhan Bajo di NTT, bahkan akan dihubungkan dengan lokasi lain yang potensial, seperti Karimunjawa, Lombok, dan Tenau Kupang.

Pengembangan Marina di Banyuwangi, Bali, dan Labuan Bajo ditargetkan tuntas dan beroperasi pada 2017.

“Kami yakin, proyek pengembangan wisata ini bisa menarik wisatawan datang ke Indonesia,” ucap Direktur Utama PT Pelindo Properti Indonesia, Prasetyo.

Pengembangan juga akan dilaksanakan di Gili Mas Lombok, yang terintegrasi dengan rencana pengembangan Lembar New Port Pelindo III, kemudian Mandalika Resort Lombok menggandeng PT ITDC (dahulu PT BTDC), serta Kupang dan Alor Nusa Tenggara Timur.

Pelindo berencana berkerja sama dengan marina yang telah eksis, di antaranya Raffles Marina Singapura (RMS) dan Fremantle Sailing Club Australia (FSC).

“Kerja sama tersebut berupa dukungan terhadap perencanaan dan pengembangan marina dan pembelajaran bisnis serta operasional marina. Rencana kami, beberapa staf PT PPI akan magang selama beberapa hari di beberapa marina, baik di RMS maupun FSC,” pungkas Prasetyo.