Koarmatim Rencanakan Pengamanan Perbatasan Indonesia-Filipina

Armada perang TNI AL saat peringatan Hari TNI ke-69 di Koarmatim. (Foto: Dispenal)
Armada perang TNI AL saat peringatan Hari TNI ke-69 di Koarmatim. (Foto: Dispenal)

Surabaya, MAROBS ** Komandan Satuan Kapal Bantu (Dan Satban) Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim), Kolonel Laut (P) Fadelan, mengatakan, Koarmatim akan menggelar Pengamanan Perbatasan (Pamtas) Indonesia dan Filipina.

“Dan Satban memaparkan rencana Latihan Pratugas Satuan Tugas (Satgas) Operasi Pengamanan Terbatas (Pamtas) di hadapan Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim) Laksda TNI Darwanto, di Ruang Rapat Pangarmatim,” ujar Kepala Dinas Penerangan Koarmatim, Letkol Laut (KH) Maman Sulaeman, Kamis (4/2/2016), di Surabaya.

Ia mengungkapkan, pada hari yang sama, seluruh Komandan Unsur jajaran Koarmatim mengikuti penyuluhan hukum di Gedung Mandalika Komando Latihan (Kolat) Koarmatim, untuk mengetahui keberhasilan pembentukan budaya sadar hukum secara akurat dan tepercaya tentang penegakan hukum di laut.

“Adapun materi penyuluhan tentang penegakan hukum dan penjagaan keamanan di wilayah, proses penyidikan di laut yurisdiksi nasional Indonesia tentang pengamanan tindak pidana oleh KRI/KAL yang meliputi pemberhentian kapal, di antaranya pendeteksian, pengenalan, penilaian sasaran, pemeriksaan kapal, serta tindak lanjut hasil pemeriksaan,” papar Maman.

Maksud dilaksanakan penyuluhan, sambungnya, sebagai pedoman bagi unsur-unsur operasi lanjutan dalam menangani setiap tindak pidana di laut agar memberikan keseragaman dan kepastian hukum bagi penyidik TNI AL dalam menangani tindak pidana di laut secara profesional dan proposional, sesuai ketentuan hukum laut internasional maupun hukum nasional.

Selain diikuti seluruh Komandan Unsur Koarmatim, penyuluhan hukum diikuti seluruh Perwira Pertama (Pama), Perwira Menengah (Pamen), Bintara dan Tamtama Koarmatim yang terlibat dalam Latihan Pratugas Satuan Tugas Operasi pengamanan Perbatasan (Satgas Ops Pamtas) Armatim dalam rangka pangamanan perbatasan wilayah laut Indonesia-Malaysia, perairan Karang Unarang Laut Sulawesi TA 2016.

Instruksi Kasal

Sebelumnya, saat Apel Komandan Satuan TNI AL 2016 di Balai Samudera Kelapa Gading Jakarta Utara, Sabtu (30/1/2016), Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Ade Supandi, mengatakan, perwira TNI AL harus mengerti masalah hukum laut, khususnya di wilayah yurisdiksi nasional Indonesia.

Ketika terjadi suatu pelanggaran, sambungnya, para perwira akan tahu apa yang harus diperbuat dan tahu harus berkoordinasi dengan siapa. Apalagi bila terjadi pelanggaran di wilayah perairan perbatasan yang memerlukan kerja sama dan koordinasi dengan negara-negara tetangga.

“Seorang perwira harus dibekali dan mengerti mengenai masalah hukum di laut, sehingga bisa cepat untuk mengambil tindakan. Jadi, tidak boleh buta sama sekali,” ujar Kasal.

Ia memerintahkan gelar operasi yang efektif dan efisien, dengan prioritas ancaman pada wilayah perbatasan dan pengamanan sumber kekayaan alam di laut. Karena, keamanan laut wilayah yurisdiksi Indonesia adalah prioritas utama.

Situasi Terakhir LTS

Belakangan, situasi Laut Tiongkok Selatan (LTS) kembali memanas. Angkatan Laut Tiongkok (The People’s Liberation Army Navy—PLAN) akan mengirimkan setidaknya satu kapal induk untuk sebuah operasi permanen di LTS.

“Untuk Laut Utara, Laut Kuning, dan Laut Timur, Tiongkok tidak memerlukan kapal induk. Pesawat darat Tiongkok mampu mencapai tempat-tempat seperti Kepulauan Diaoyu,” ujar Direktur Institute of International Strategic and Development Studies di Tsinghua University Beijing, Prof Chu Shulong, kepada IHS Jane, usai memberi ceramah di S. Rajaratnam School of International Studies, Singapura, Kamis (28/1/2016).

Sementara untuk Laut Tiongkok Selatan, sambung Chu, Tiongkok membutuhkan kapal induk. Karena, pesawat tempur mereka membutuhkan waktu sekira satu jam untuk mencapainya, meski dari pangkalan udara terdekat di Pulau Hainan.

“Tiongkok saat ini tidak memiliki kapasitas udara untuk menangani tantangan seperti itu,” terangnya.

Chu memprediksikan, tantangan-tantangan dari Amerika Serikat, kemungkinan besar akan berlangsung sangat sering di masa depan. Pengiriman USS Lassen Oktober 2015, lanjutnya, meyakinkan para pemimpin militer Tiongkok untuk mengirimkan kapal induk ke LTS.