KTT Luar Biasa OKI, Letkol Laut (P) Salim: Diplomasi Pertahanan Efektif Akhiri Konflik Timur Tengah

Letkol Laut (P) Salim sebagai UN Visitor Kongo 2015. (Foto: Dokumentasi Pribadi)
ROKOK MILISI – Letkol Laut (P) Salim (paling kiri) sebagai UN Visitor Kongo 2015. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Jakarta, MAROBS ** Indonesia akan menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Organisasi Kerja sama Islam (OKI) pada 6-7 Maret 2016. Pabandya Gunkuat Sops TNI/Mabes TNI, Letkol Laut (P) Salim, berpandangan, diplomasi pertahanan efektif mengakhiri konflik di Timur Tengah.

“Kita harus memahami dan mempelajari semua peluang yang tersedia dan juga perlu menciptakan peluang untuk menyelenggarakan diplomasi pertahanan. Prinsipnya, mencegah konflik akan sangat lebih murah ketimbang menangani konflik,” ujarnya, Sabtu (19/2/2016), di Jakarta.

Menurutnya, ada berbagai agenda dan program yang telah terjadwal pada wadah bilateral, trilateral, dan multilateral.

“Tentunya, ada muatan yang perlu disiapkan secermat mungkin. Prinsipnya, tidak terjadi pendadakan dan pihak Indonesia harus siap agar tidak kena pendadakan,” tutur penulis buku Path Way to Indonesia Maritime Future tersebut.

Kehadiran pada berbagai ajang diplomasi, sambungnya, jelas memiliki sasaran yang ingin dicapai. Sasaran tersebut harus berada dalam bingkai kepentingan NKRI; tidak berada dalam bingkai kepentingan pihak lain.

“Ada prinsip yang sudah diingatkan oleh Hartmann, yaitu counter balancing interest,” katanya.

Ia menjelaskan, diplomasi pertahanan memerlukan dukungan dari semua potensi perang nasional, baik dalam bentuk material maupun non-material, seperti perangkat hukum, intelijen strategis-taktis-operasional, dan sebagainya.

Pamen penggelora semangat membangun Negara Maritim ini memaparkan tiga hal penting dalam penyelenggaraan diplomasi pertahanan. Pertama, pengetahuan akurat mengenai karakter panggung diplomasi yang akan dihadapi, dan ‘aturan main’ yang berlaku.

Kedua, pengetahuan yang baik mengenai materi yang akan ‘dibicarakan’, termasuk materi pendukung, misalnya disarmament, conflict management, peace-operations, law and order.

Ketiga, persiapan strategi apa yang akan dikembangkan dan juga alternatif pilihan, termasuk garis bawah yang menjadi harga mati (bottom line),” ucap Salim.

Selama ini, lanjutnya, pasukan TNI yang dikirim dalam misi perdamaian dunia telah menjalankan tugas dengan prestasi terbaik. Mereka tidak hanya sukses misi, akan tetapi mampu menunjukkan jiwa kemanusian yang tinggi, sehingga menghasilkan tugas luar biasa yang dipandang dunia internasional.

Kans Indonesia

Salim menilai, kans Indonesia sangatlah penting dalam menyelesaikan konflik di Timur Tengah. Saat ini, seluruh kawasan umat Islam mengalami kehancuran dan hampir tidak ada yang berkuasa, baik di belahan bumi mana pun.

“Sesuai sabda Rasul SAW, saat ini, kita memasuki periode zaman keempat menjelang akhir zaman. Di Asia, selain terpandang di kawasan, Indonesia juga memiliki militer yang dibanggakan dalam setiap misi perdamaian dunia. Saat ini adalah saat tepat bagi Indonesia untuk memimpin perlawanan penjajahan di atas dunia, sesuai amanat Pembukaan UUD 1945,” tegasnya.

“Penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perkeadilan,” tandas Salim.

Problem lain yang perlu diketengahkan, menurutnya, adalah persoalan internal umat Islam yang harus diselesaikan terlebih dahulu, sehingga keruwetan konflik Timur Tengah bisa diurai.

“Caranya, menjalin komunikasi intensif antar-faksi, baik Sunni-Syiah, maupun yang lain. Hal lain yang tidak bisa diabaikan, Iran harus dilibatkan, mengingat negara itu berpengaruh besar terhadap kelompok Syiah di Irak atau Hamas di Palestina,” terang Salim.

Skema Militer

Salim juga memberikan pendapatnya tentang skema militer yang paling efektif untuk mencegah konflik di Timur Tengah.

“Kondisi konflik di Timur tengah ibaratnya seperti spageti. Saya memotret konflik di kawasan Timur Tengah yang rumit itu. Yang terjadi di sana tidak lagi perang agama, tetapi perang atas nama kekuasaan. Rakyat di negara-negara di kawasan itu menjadi korban pertikaian yang tidak berkesudahan,” jelasnya.

Mengurai spageti dengan skema militer, kata Salim, yakni dengan langkah Soft Power dan Hard Power, tergantung eskalasi konflik yang terjadi.

“Jika saat saat ini kita gunakan Soft Power menjelang kondisi yang tidak memungkinkan, ya terpaksa dengan Hard Power. Semua langkah ada tahapan, yang semuanya mengutamakan SDM militer dan mengutamakan keselamatan penduduk sipil,” pungkasnya.