On Job Training, 36 Perwira Angkatan Laut Filipina Pelajari Sistem Alutsista KRI Banjarmasin 592

Sejumlah 36 perwira Angkatan Laut Filipina memelajari sistem alutsista KRI Banjarmasin 592. (Foto: Dispen Kolinlamil)
Sejumlah 36 perwira Angkatan Laut Filipina memelajari sistem alutsista KRI Banjarmasin 592. (Foto: Dispen Kolinlamil)

Surabaya, MAROBS ** Sejumlah 36 Perwira The Philippine Navy (PN) berkunjung ke KRI Banjarmasin 592 untuk melakukan on job training. Tujuannya, pengenalan sistem alutsista kapal perang jenis Landing Platform Dock (LPD).

Seperti diberitakan sebelumnya, Pemerintah Filipina memesan 2 unit kapal perang produksi PT PAL (Persero) untuk memperkuat PN. Militer Filipina memesan kapal perang jenis Strategic Sealift Vessel (SSV), pengembangan LPD-125, yang telah dipakai TNI AL.

Untuk tender internasional, PT PAL berhasil menyisihkan produsen kapal perang dari 6 negara, di antaranya Korea Selatan, India, dan Australia. Produk kapal perang pesanan Filipina adalah murni pengembangan putra-putri bangsa di Surabaya Jawa Timur.

Kapal Perang SSV pesanan Filipina mampu membawa 3 unit helikopter dalam setiap perjalanan. Helikopter bisa terbang dan mendarat di atas kapal.

Selain itu, SSV bisa membawa kapal jenis Landing Craft Utility (LCU). Kapal dengan panjang 123 meter dan lebar 21,8 meter tersebut mampu membawa personel dan awak kapal hingga 649 orang.

“Rombongan Angkatan Laut Filipina datang ke kapal perang jenis LPD kebanggaan Bangsa Indonesia itu didampingi Imam Sadali dari PT PAL Indonesia,” ujar Kepala Dinas Penerangan Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil), Letkol Laut (KH) Bazisokhi Gea.

Saat rombongan masuk ke kapal perang yang membawa Satuan Tugas Kartika Jala Krida Taruna Akademi Angkatan Laut dalam World Expo Milan di Italia 2015 tersebut diterima Perwira Pelaksana KRI Banjarmasin 592, Mayor laut (P) Martinus.

Didampingi Project Manager Officer (PMO) PT PAL Indonesia, beserta team dari Kolat Armatim, 36 perwira AL Filipina melakukan pengenalan terhadap mesin kapal perang, baik mesin besar (MB) dan mesin kecil (MPK). On Job Training juga mengenalkan sistem kelistrikan kapal.

Laut Tiongkok Selatan Kembali Memanas

Belakangan, situasi Laut Tiongkok Selatan (LTS) kembali memanas. Angkatan Laut Tiongkok (The People’s Liberation Army Navy—PLAN) akan mengirimkan setidaknya satu kapal induk untuk sebuah operasi permanen di LTS.

“Untuk Laut Utara, Laut Kuning, dan Laut Timur, Tiongkok tidak memerlukan kapal induk. Pesawat darat Tiongkok mampu mencapai tempat-tempat seperti Kepulauan Diaoyu,” ujar Direktur Institute of International Strategic and Development Studies di Tsinghua University Beijing, Prof Chu Shulong, kepada IHS Jane, usai memberi ceramah di S. Rajaratnam School of International Studies, Singapura, Kamis (28/1/2016).

Sementara untuk Laut Tiongkok Selatan, sambung Chu, Tiongkok membutuhkan kapal induk. Karena, pesawat tempur mereka membutuhkan waktu sekira satu jam untuk mencapainya, meski dari pangkalan udara terdekat di Pulau Hainan.

“Tiongkok saat ini tidak memiliki kapasitas udara untuk menangani tantangan seperti itu,” terangnya.

Chu memprediksikan, tantangan-tantangan dari Amerika Serikat, kemungkinan besar akan berlangsung sangat sering di masa depan. Pengiriman USS Lassen Oktober 2015, lanjutnya, meyakinkan para pemimpin militer Tiongkok untuk mengirimkan kapal induk ke LTS.

Sejumlah kawasan di Laut Tiongkok Selatan menjadi sengketa antara beberapa negara, termasuk Tiongkok, Filipina, dan Vietnam.