Sejahterakan Nelayan dengan Integrasi Ruang Permukiman Nelayan dan Ekowisata Pesisir

Desain integrasi ruang permukiman nelayan dan ekowisata pesisir oleh dosen Jurusan Arsitektur Universitas Tadulako Palu, Rusli. (Foto: ITS Surabaya)
Desain integrasi ruang permukiman nelayan dan ekowisata pesisir oleh dosen Jurusan Arsitektur Universitas Tadulako Palu, Rusli. (Foto: ITS Surabaya)

Surabaya, MAROBS ** Pemerintah akan membangun 1000 unit rumah di Kampung Nelayan Modern Indramayu. Rumah diperuntukkan bagi buruh nelayan yang sehari-hari hidup di laut. Integrasi ruang permukiman nelayan dan ekowisata pesisir dapat menjadi isu strategis.

“Saya meyakini integrasi ruang permukiman nelayan dengan ekowisata pesisir dapat digunakan sebagai alat pengembangan aspek sosial perekonomian dan pengembangan wilayah, sesuai potensi setempat,” ujar dosen Jurusan Arsitektur Universitas Tadulako Palu, Rusli, Jumat (29/1/2016), dirilis Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Rusli melakukan riset berjudul ‘Integrasi Ruang Permukiman Nelayan dengan Ekowisata Pesisir di Donggala Sulawesi Tengah’. Hasilnya, model integrasi ruang permukiman nelayan dengan ekowisata pesisir dapat dirangkum menjadi empat fungsi ruang, yaitu ruang aktivitas sosial, ekonomi, jasa, dan industri. Selain itu, modelnya pun dipengaruhi oleh faktor fisik, sosial, dan budaya.

“Kelurahan Labuan Bajo di Kawasan Pesisir Donggala Sulawesi Tengah memiliki permukiman nelayan dengan potensi daya tarik berupa wisata alam dan budaya. Hal inilah yang melatarbelakangi saya mengangkat pengembangan kawasan melalui sudut pandang dunia arsitektur,” terangnya.

Menurutnya, hal ini dapat dilihat dari kunjungan wisatawan yang semakin meningkat tiap tahunnya. Namun, fakta menyebutkan, masyarakat nelayan di wilayah tersebut, umumnya masih berpenghasilan rendah.

“Mereka itu kan termiskin di Indonesia. Sementara luas laut kita itu tiga berbanding satu. Bagaimana korelasinya bisa jadi miskin?” tutur Doktor anyar ITS Surabaya ini.

Kondisi itu mendorong pria 51 tahun tersebut untuk mendayagunakan ruang dan aktivitas guna menyatukan kepedulian sosial dan kepedulian ekonomi masyarakat. Baginya, tujuan penelitian yang dilakukannya adalah menemukan keterkaitan antara hubungan dan integrasi ruang permukiman nelayan dengan ruang ekowisata pesisir.

“Hasil kajian dapat digunakan untuk mengembangkan potensi ruang permukiman nelayan. Bangsa kita ini apa yang tidak ada? Kita hanya kalah pada perspektif filosofi dan teknologi,” katanya.

Ia menyebutkan, berdasarkan analisis diketahui, sebaran ruang perdagangan dan ruang jasa eksisting mempunyai radius 7-45 meter. Untuk industri abon ikan memiliki radius 44-121 meter, sedangkan bagi pembuatan minyak kelapa, hanya 79,5 meter.

Kampung Nelayan Modern

Deputi SDM, Iptek, dan Budaya Maritim Kementerian Koordinator Maritim dan Sumberdaya, Safri Burhanudin, mengatakan, pembangunan Kampung Nelayan Modern bukan hanya pembangunan infrastruktur, tapi terkait sosial, ekonomi, dan peningkatan kesejahteraan, termasuk peningkatan pendidikan.

Hal tersebut merupakan harapan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Sumberdaya Rizal Ramli, sesuai arahan Presiden, yaitu target 16 juta buruh nelayan yang diberdayakan.

“Pembangunan Kampung Nelayan Modern di Indramayu ini akan menjadi model utama yang akan diikuti oleh daerah-daerah lain. Oleh karena itu, diharapkan agar desain pembangunannya harus matang,” tutur Safri dalam Rapat Koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Indramayu, di Jakarta, Rabu (20/1/2016).