Targetkan 19,4 Juta Ton Produksi Perikanan Budidaya, KKP Alokasikan Rp1,3 Triliun

Panen udang vaname. (Foto: YouTube/Haeru Rahayu)
Panen udang vaname. (Foto: YouTube/Haeru Rahayu)

Jakarta, MAROBS ** Untuk mewujudkan target produksi perikanan budidaya sebesar 19,4 juta ton pada 2016, Kementerikan Kelautan dan Perikanan (KKP) mengalokasikan Rp1,3 triliun untuk masyarakat pembudidaya ikan.

Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) mencatat, capaian produksi perikanan budidaya pada 2015 sebesar 17,6 juta ton. Capaian produksi akan terus ditingkatkan pada 2016. Komoditas utama yang diunggulkan dalam capaian produksi ini adalah rumput laut dan udang, baik udang windu maupun vaname.

DJPB mengalokasikan anggaran sebesar 80,04 persen atau setara dengan Rp1,3 triliun untuk stakeholder dan masyarakat. Anggaran ini akan menjadi bantuan langsung bagi masyarakat melalui beberapa kegiatan prioritas.

“80,04 persen  ini setara dengan Rp1,3 triliun yang dialokasikan untuk beberapa kegiatan prioritas, sesuai dengan arahan Menteri Kelautan dan Perikanan, Ibu Susi Pudjiastuti,” rilis Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, di Jakarta, Kamis (11/2/2016).

Landasan kegiatan prioritas yang dimaksud adalah tiga pilar pembangunan, yaitu kedaulatan, keberlanjutan, dan kesejahteraan. Menurut Slamet, perikanan budidaya akan selalu mendukung tiga pilar pembangunan tersebut.

“Untuk mendukung kedaulatan sekaligus meningkatkan daya saing produk perikanan budidaya, kita wujudkan dengan penerapan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) di unit usaha perikanan budidaya dan Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB),” jelasnya.

Perikanan budidaya, sambungnya, sangat cocok dengan pilar keberlanjutan.

“Perikanan budidaya yang berkelanjutan sangat sesuai untuk dilaksanakan. Keberlanjutan yang ingin dicapai adalah keberlanjutan usaha atau ekonomi dan keberlanjutan lingkungan,” papar Slamet.

Dukungan DJPB sesuai pilar keberlanjutan yaitu melalui penyediaan benih untuk restocking, benih untuk usaha budidaya polikultur atau multi-spesies, dan penyediaan bibit mangrove untuk ditanam di kawasan tambak.

Beberapa program prioritas yang dicanangkan adalah penyediaan 100 juta benih dan penyediaan bibit pohon mangrove, kurang lebih sebanyak 600 ribu batang.

Untuk pilar kesejahteraan, DJPB membantu secara riil melalui bantuan kebun bibit rumput laut di 20 provinsi, budidaya biofloc sebanyak 5 paket, sarana budidaya kekerangan sebanyak 60 paket, dan sarana budidaya minapadi sebanyak 760 paket.

“Untuk mendukung kesejahteraan, tentu saja semua program kita muaranya adalah peningkatan kesejahteraan. Di samping itu, juga ada bantuan lain seperti bantuan pakan ikan dan program pra-sertifikasi hak atas tanah (pra SEHATKAN),” ungkap Slamet.

Target PNBP dan Pembangunan Pulau Terluar

Selain target produksi perikanan budidaya, DJPB terus mencapai target Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP). PNBP dari DJPB pada 2015 mencapai Rp18,9 miliar atau 162 persen dari target yang telah ditetapkan. Sebagian besar PNBP berasal dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) DJPB.

DJPB juga siap mendukung program pembangunan pulau-pulau terluar dan perbatasan yang dicanangkan KKP. Dukungan DJPB di antaranya melalui program Pembangunan Kawasan Kelautan dan Perikanan Terintegrasi (PK2PT).

“Kita juga mendukung pembangunan di pulau terluar dan perbatasan melalui program Pembangunan Kawasan Kelautan dan Perikanan Terintegrasi (PK2PT). Dukungan kita berikan dengan melihat potensi wilayah tersebut. Bisa berupa kebun bibit rumput laut, Karamba Jaring Apung (KJA), benih ikan, dan paket bantuan budidaya lainnya,” pungkas Slamet.