Tiongkok Kembali Kirim Kapal Induk ke LTS, Letkol Laut (P) Salim: Indonesia Harus Bermain Cantik

Letkol Laut (P) Salim. (Foto: Dokumentasi Pribadi)
Letkol Laut (P) Salim. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Laut Tiongkok Selatan, MAROBS ** Situasi Laut Tiongkok Selatan (LTS) kembali memanas. Angkatan Laut Tiongkok (The People’s Liberation Army Navy—PLAN) akan mengirimkan setidaknya satu kapal induk untuk sebuah operasi permanen di LTS.

“Untuk Laut Utara, Laut Kuning, dan Laut Timur, Tiongkok tidak memerlukan kapal induk. Pesawat darat Tiongkok mampu mencapai tempat-tempat seperti Kepulauan Diaoyu,” ujar Direktur Institute of International Strategic and Development Studies di Tsinghua University Beijing, Prof Chu Shulong, kepada IHS Jane, usai memberi ceramah di S. Rajaratnam School of International Studies, Singapura, Kamis (28/1/2016).

Sementara untuk Laut Tiongkok Selatan, sambung Chu, Tiongkok membutuhkan kapal induk. Karena, pesawat tempur mereka membutuhkan waktu sekira satu jam untuk mencapainya, meski dari pangkalan udara terdekat di Pulau Hainan.

“Tiongkok saat ini tidak memiliki kapasitas udara untuk menangani tantangan seperti itu,” terangnya.

Chu memprediksikan, tantangan-tantangan dari Amerika Serikat, kemungkinan besar akan berlangsung sangat sering di masa depan. Pengiriman USS Lassen Oktober 2015, lanjutnya, meyakinkan para pemimpin militer Tiongkok untuk mengirimkan kapal induk ke LTS.

Naval Presence

Pabandya Gunkuat Sops TNI/Mabes TNI, Letkol Laut (P) Salim, berpandangan bahwa Tiongkok akan terus memperkuat ekonomi dan kekuatan maritimnya, dengan rencana Maritime Silk Road, berdasarkan peta kekuatan maritim masa lampaunya, walaupun akan terdapat klaim wilayah antar-negara.

“Kembali kepada siapa yang menguasai energi akan menguasai dunia. Bila kita lihat, LTS, selain terdapat sumber energi, juga 70 persen perdagangan dunia melalui wilayah ini,” kata Salim, Minggu (31/1/2016), di Jakarta.

Sementara itu, di sisi lain, menurutnya, Amerika Serikat akan terus menghadirkan kekuatannya sebagai rebalance dari kekuatan Tiongkok dengan dalih freedom of navigation.

“Di samping itu, Amerika juga memperkuat wilayah sekutunya di LTS,” ungkap penulis buku Kodrat Maritim Nusantara tersebut.

Ia menilai, motif Tiongkok mengirimkan kembali armada perangnya ke LTS tetap sama, seperti sebelum-sebelumnya, yakni naval presence dan unjuk kekuatan.

“Hal itu tidak bisa dihindari dalam good order at sea,” tutur mantan Komandan KRI Untung Suropati ini.

Peran Indonesia

Salim berpendapat, merespons situasi terakhir LTS, peran Indonesia harus terlihat jelas dalam diplomasi maritim yang tergambarkan dalam diplomasi pertahanan Republik Indonesia.

“Dengan tidak meninggalkan politik bebas aktif, Indonesia harus bermain cantik dalam diplomasi maupun kerja sama pertahanan, untuk mengurangi ketegangan yang terjadi di LTS,” ucapnya.

Lebih lanjut, ia memandang, Indonesia tidak hanya menjadi battle field, tetapi berperan aktif di kawasan. Misalnya, dalam menyusun code of conduct di LTS, memprakarsai kerja sama militer bersama dalam bentuk latihan, dan lainnya.

“Banyak yang harus dikerjakan untuk memainkan perannya dalam MEA maupun di ASEAN,” tegas Salim.

Ia menambahkan, bagi TNI AL, unjuk kekuatan di LTS seperti Amerika Serikat atau Rusia, bukanlah hal yang dirasa perlu. Kalau pun perlu, harus ada payung dari pemerintah.

“Kalau unjuk kekuatan di Natuna sah-sah saja, karena itu wilayah kedaulatan kita,” pungkasnya.