Tol Laut, KM Caraka Jaya Niaga III-22 Sandar Perdana di Pelabuhan Waingapu

KM Caraka Jaya Niaga III-22 Sandar Perdana di Pelabuhan Waingapu. (Foto: Humas Pelindo III)
KM Caraka Jaya Niaga III-22 Sandar Perdana di Pelabuhan Waingapu. (Foto: Humas Pelindo III)

Kupang, MAROBS ** Rabu (17/2/2016), kapal pembawa logistik untuk masyarakat Kabupaten Sumba Timur, KM Caraka Jaya Niaga III-22, sandar untuk pertama kalinya di Dermaga Nusantara Pelabuhan Waingapu.

Kapal bertuliskan Tol Laut tersebut berberat 3.258 GT (gross tonage) dan memiliki panjang 92,80 meter. Kapal memuat 10 unit kontainer berisi bahan pokok bagi masyarakat Sumba Timur, berupa air mineral, beras, minyak goreng, gula pasir, biskuit, dan makanan.

KM Caraka Jaya Niaga III-22 menempuh rute Tanjung Perak-Reo-Maumere-Lewoleba-Rote-Sabu-Waingapu-Sabu-Rote-Lewoleba-Reo-Tanjung Perak.

Kedatangan KM Caraka Jaya Niaga III-22 disambut meriah instansi setempat. Turut hadir dalam penyambutan kapal Tol Laut ini, PT Pelni (Persero), Kantor Kesyabandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Waingapu, Balai Karantina, Angkatan Laut, Kesatuan Pelaksanaan Pengamanan Pelabuhan (KP3), dan pihak manajemen Pelindo III Kawasan Waingapu.

Manager Kawasan Pelabuhan Waingapu, Hadi Sukamto, menyampaikan rasa optimisnya untuk melayani kapal-kapal Tol Laut yang sandar di Pelabuhan Waingapu.

“Kami siap dari segala bidang, dari segi SDM, peralatan bongkar muat, maupun fasilitas dermaga untuk penyandaran kapal,” ujarnya.

Tol laut merupakan program gagasan Presiden Joko Widodo yang dimaksudkan untuk melancarkan arus distribusi logistik ke pelosok Indonesia.

Target dari program Tol Laut adalah 24 pelabuhan, di mana 5 pelabuhan di antaranya berada di bawah pengelolaan Pelindo III.

Pada awal peluncurannya, terdapat 3 trayek tol laut. Pada 2016, diluncurkan 3 trayek baru. Salah satu rutenya melewati Pelabuhan Waingapu yang merupakan pelabuhan kawasan Pelindo III di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Dari Pesisir Hingga Mendalam ke Daratan

Tol Laut adalah program terintegrasi yang bukan hanya membangun pelabuhan, tapi dilakukan mulai dari membangun jaringan rel kereta, menyiapkan armada angkutan truk dan bus, juga percepatan wilayah yang bisa dijadikan industri. Bisa dibilang, Tol Laut adalah persoalan yang bermula dari pesisir sampai mendalam ke daratan.

Infrastruktur pelabuhan yang memadai untuk perpindahan barang ke jalan, rel, dan moda air pedalaman akan menarik pengguna jasa untuk menggunakannya sebagai alat distribusi logistik berbiaya rendah.

Diperlukan kesiapan pelabuhan dan pengatur pelayaran serta penataan kendaraan pengangkut barang. Harapannya, kepadatan truk pengangkut di pelabuhan bisa dikurangi, sehingga bisa menghasilkan pergerakan barang yang efisien.

Baru baru ini, Terminal Teluk Lamong dengan investasi Rp3,4 triliun diresmikan Pelindo III. Pengoperasian Terminal Teluk Lamong akan terintegrasi dengan transportasi kereta, sejalan dengan telah selesainya pembangunan jalur ganda rel kereta api Surabaya-Jakarta. Dengan harapan, pembangunan infrastruktur ini dapat memindahkan 30 persen beban logistik dari jalan darat ke rel kereta api.