Wanamina Potensial Bersumbangsih Besar pada Sektor Perikanan Budidaya

Penandatanganan MoU Perhutani dan Perum Perhutani menggarap wanamina. (Foto: Perum Perindo)
Penandatanganan MoU Perhutani dan Perum Perhutani menggarap wanamina. (Foto: Perum Perindo)

Jakarta, MAROBS ** Selasa (9/2/2016), Perusahaan Umum (Perum) Perhutani menjalin kerja sama dengan Perum Perikanan Indonesia (Perindo), meningkatkan pemanfaatan kawasan hutan untuk wanamina (silvofishery).

Wanamina adalah bentuk aktivitas pengelolaan hutan dengan mengkombinasikan tanaman hutan dan budidaya ikan.

Untuk menjalankan wanamina, Perhutani memiliki lahan yang sangat luas, yakni 2,4 juta Ha, dengan komposisi hutan produksi 1.806.440 Ha; hutan lindung, termasuk hutan mangrove, seluas 638.557 Ha.  Luas areal hutan mangrove Perum Perhutani di Jawa Madura mencapai  26.378,36 Ha atau 1,1 persen dari luas areal hutan yang ada.

“Pembudidayaan sektor perikanan dengan metode wanamina menjadi pilihan tepat untuk dilakukan,” ujar Direktur Utama Perum Perhutani Mustoha Iskandar, saat penandatanganan MoU (Memorandum of Understanding), di Kantor Pusat Perum Perhutani, Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta.

Ia menjelaskan, Indonesia memiliki potensi hutan mangrove. Hutan mangrove di kawasan Perum Perhutani cukup luas, seperti di sepanjang pantai Karawang sampai Indramayu, yang perlu penanganan secara khusus.

Menurutnya, dengan menggunakan metode wanamina, pengembangan sektor perikanan akan amat pesat dengan tidak merusak alam.

Pembudidayaan ikan melalui metode wanamina, sambung Mustoha, memanfaatkan simbiosis mutualisme alami antara ikan dengan pohon mangrove. Simbiosis itu menghasilkan keuntungan ekologis dan ekonomis.

“Kerja sama Perhutani dan Perindo untuk mengembangkan wanamina merupakan langkah tepat dan memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak. Kerjasa ma pemanfaatan wanamina juga akan memberikan pengetahuan tambahan bagi nelayan dalam mengembangkan budidaya ikan, tanpa harus merusak lingkungan,” terangnya.

Penandatanganan MoU, lanjut Mustoha, merupakan awal kerja sama dan dilakukan dalam rangka mendukung program kedaulatan pangan pemerintah.

Perum Perindo

Perum Perindo sebelumnya bernama Perusahaan Umum Prasarana Perikanan Samudera (Perum PPS). BUMN ini diberi tugas dan tanggung jawab menyelenggarakan pengusahaan dan pelayanan barang jasa dan pengembangan sistem bisnis perikanan kepada pengguna jasa pelabuhan perikanan, yaitu nelayan pada khususnya, dan masyarakat perikanan pada umumnya.

Pengusahaan dan pelayanan dilaksanakan di enam pelabuhan perikanan, yaitu Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman Jakarta, Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan, Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan; Pelabuhan Perikanan Nusantara Brondong, Pelabuhan Perikanan Nusantara Pemangkat, dan Pelabuhan Perikanan Nusantara Prigi.

Pada 2009, Perum Perindo memperoleh laba bersih sebesar Rp2,763 miliar, tingkat kesehatan A, opini WTP. Tahun 2010, berlaba bersih Rp2,639 miliar, tingkat kesehatan A, opini WTP.

Memasuki 2011, Perum Perindo mengalami peningkatan laba bersih Rp4,225 Miliar, tingkat kesehatan AA, opini WTP. Pada 2012, mencapai laba Rp2,995 miliar tingkat kesehatan AA, opini WTP.