FV Viking Ditenggelamkan, Dubes Norwegia: Indonesia Hebat!

Menteri Susi dan Dubes Traavik sesaat sebelum penenggelaman FV Viking. (Foto: Akun twitter @DubesNorwegia)
Menteri Susi dan Dubes Traavik sesaat sebelum penenggelaman FV Viking. (Foto: Akun twitter @DubesNorwegia)

Pangandaran, MAROBS ** Satuan Tugas Pemberantasan Penangkapan Ikan Secara Ilegal Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menenggelamkan kapal pelaku illegal fishing, FV Viking di lepas Pantai Pangandaran, Senin (14/3/2016).

Duta Besar Norwegia untuk Indonesia, Stig Traavik, memuji aksi ini. Dalam akun twitter @DubesNorwegia, Dubes Traavik mencuit, “Indonesia Hebat!”

Sebelum penenggelaman, Dubes Traavik bersama Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, memberikan pernyataan khusus di atas kapal FV Viking.

Menteri Susi menyebutkan, kapal FV Viking ditangkap pada Jumat (26/2/2016), di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia, 12,7 mil dari Tanjung Uban, Bintan, Provinsi Riau.

“Kapal ini masuk ke Indonesia tanpa melaksanakan kewajiban pelaporan identitas dan data pelayaran, sebagaimana diatur dalam Pasal 193 ayat (2) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran dan Pasal 14 Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2010 tentang Kenavigasian,” paparnya.

Selain itu, kapal ini beroperasi di wilayah Indonesia tanpa Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI). Tindakan ini merupakan pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 27 ayat (3) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 UU Perikanan.

Dari penggeledahan kapal, Satgas Pemberantasan Illegal Fishing yang dibantu oleh Multilateral Investigation Support Team (MIST) dari Norwegia dan Kanada juga menemukan beberapa hal. Kapal FV Viking ternyata kapal tanpa kebangsaan. Pemerintah Nigeria telah menyatakan secara resmi bahwa kapal itu tidak terdaftar di Nigeria.

Di atas kapal juga tidak ditemukan laporan penangkapan ikan dan komputer navigasi yang merupakan benda penting untuk menemukan lokasi kegiatan penangkapan ikan FV Viking. Ditemukan pula jaring ikan jenis gillnet dasar atau liong bun dengan bentang 399 ribu meter dan tali jaring sepanjang 71 ribu meter di mana batas yang diperbolehkan hanya 2.500 meter.

“Hasil temuan MIST tersebut jelas menunjukkan bahwa kapal FV Viking melakukan berbagai pelanggaran ketentuan conservation measures yang diatur oleh berbagai ketentuan hukum internasional,” ungkap Menteri Susi.

Hal lain yang perlu menjadi perhatian dunia menurut Menteri Susi, adalah jejaring bisnis pemilik dan operator kapal FV Viking dan pasar yang menjadi tujuan hasil tangkapan yang berada di berbagai belahan dunia, misalnya Singapura, Vietnam, Malaysia, Angola, Kongo, Spanyol, dan Amerika Serikat.

“Temuan-temuan awal ini masih terus didalami oleh Satgas dengan bekerja sama dengan MIST. Untuk itu, Indonesia akan mengintensifkan kerja sama dengan berbagai negara untuk mengungkap modus operandi dan pemilik kapal FV Viking yang sebenarnya,” tandasnya.

Diburu 13 Negara

Sebelumnya, melalui akun twitter resmi miliknya @jokowi, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan bahwa kapal FV Viking merupakan kapal penangkap ikan berukuran 1.322 GT yang oleh Regional Fisheries Management Organization (RFMO) Samudera Antartika Selatan bernama Commission for the Conservation of Antarctic Marine Living Resources (CCAMLR).

“13 Negara bertahun-tahun memburu FV Viking, kapal pencuri ikan lintas negara. Indonesia berhasil menangkapnya,” tulis Presiden Jokowi, Senin (14/3/2016) pagi.

Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sisa badan dari penenggelaman kapal FV Viking akan dijadikan monumen perlawanan illegal fishing.

“Penenggelaman kapal ini merupakan kontribusi pemerintah Indonesia sebagai bagian dari masyarakat dunia dalam memberantas illegal fishing dan menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia,” tegas Jokowi.