Industri Hulu Migas Sediakan Market Bagus Bagi Industri Perkapalan Nasional

Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi melakukan kunjungan kerja ke fasilitas produksi, penyimpanan, dan pengangkutan terapung (floating production storage and offloading/FPSO) Ratu Nusantara di lepas Pantai Madura, Sabtu (11/7/2015). (Foto: Humas SKK Migas)
Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi melakukan kunjungan kerja ke fasilitas produksi, penyimpanan, dan pengangkutan terapung (floating production storage and offloading/FPSO) Ratu Nusantara di lepas Pantai Madura, Sabtu (11/7/2015). (Foto: Humas SKK Migas)

Jakarta, MAROBS ** Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Amien Sunaryadi, mengatakan, industri hulu migas menyediakan market yang bagus untuk industri perkapalan nasional.

“Kebutuhan kapal industri hulu migas akan semakin meningkat dengan seiring pengembangan beberapa proyek gas alam cair atau Liquefied Natural Gas (LNG) di wilayah timur Indonesia,” tuturnya beberapa waktu lalu di Jakarta, dirilis Humas SKK Migas.

Kepala Divisi Penunjang Operasi SKK Migas, Baris Sitorus, mengungkapkan, pergeseran tren kegiatan eksplorasi migas yang sekarang bergerak ke laut dalam, menciptakan peluang signifikan bagi perkembangan industri perkapalan di Indonesia.

Baris memaparkan hal tersebut dalam acara Marine Study Excursion 2016  yang diselenggarakan SKK Migas dan Himpunan Mahasiswa Teknik Sistem Perkapalan (Himasiskal) Fakultas Teknik Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) di Jakarta, Rabu (24/2/2016).

“Industri hulu migas nasional saat ini menggunakan lebih dari 650 kapal dengan docking (perawatan) kapal lebih dari 100 kapal per tahun,” tuturnya.

Marine Study Excursion 2016 dihadiri 80 mahasiswa. SKK Migas menyampaikan harapan supaya mahasiswa teknik perkapalan terus bersemangat meningkatkan kapasitas diri, sehingga mampu berperan memajukan industri perkapalan nasional.

Hal ini, sambung Baris, menjadi semakin penting, mengingat Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) telah dibuka.

“Persaingan bukan hanya dengan alumnus-alumnus di kampus dalam negeri, namun juga dengan alumnus kampus di negara-negara ASEAN,” tandasnya.

Stimulus untuk Menarik Investor

Belakangan, SKK Migas menilai, perlu ada stimulus untuk menarik investor agar berminat menanamkan modalnya pada sektor hulu migas di Indonesia. Terlebih, saat ini investor masih menghadapi banyak permasalahan di sektor hulu migas yang menghambat dalam pengembangan usaha.

Kepala SKK Migas menjelaskan, peringkat investasi di sektor hulu migas Indonesia berada di level 113 dari 126 negara.

“Hal tersebut menunjukkan bahwa minat investasi penanam modal masih rendah. Minat investasi di sektor hulu migas Indonesia nomor 13 dari yang terbawah,” ucap Amien saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR, di Gedung DPR, Jakarta, Senin (22/2/2016).

Menurutnya, ada banyak persoalan yang membuat minat investasi di sektor hulu migas minim.

“Beberapa masalah tersebut adalah regulasi yang masih tumpang tindih dan tidak konsisten,” tegasnya.

Selain itu, kualitas infrastruktur juga belum mampu untuk mendukung sektor hulu migas.

Kendati begitu, lanjutnya, ada hal yang membuat sektor hulu migas di Indonesia lebih menarik dibandingkan dengan beberapa negara lain.

“Indonesia dinilai memiliki tenaga kerja yang terlatih. Selain itu, situasi politik yang stabil menjadi daya tarik lainnya. Hal itu turut mendorong investasi hulu migas di Indonesia,” terangnya.

Saat ini ada 314 Wilayah Kerja Migas di Indonesia. Sebanyak 61 Wilayah Kerja mengalami terminasi, 84 sedang eksplorasi, 67 produksi dan17 pengembangan. Hal itu menunjukan bahwa aktivitas eksplorasi cukup banyak, sehingga diharapkan dari eksplorasi tersebut ditemukan cukup banyak cadangan.

“Mengingat cadangan minyak saat ini jauh lebih kecil, hanya 4 miliar barel bila dibandingkan era 1960 hingga 1970 yang mencapai 20 miliar barel. Pertumbuhan cadangan menurun dikarenakan penemuan cadangan besar tidak berlangsung cepat,” pungkasnya.