Kunjungi BKI, APMI Dorong Industri Maritim Gunakan Komponen Lokal

Kunjungan APMI ke BKI untuk penjajakan kerja sama mendorong industri maritim nasional lebih eksis. (Foto: APMI)
Kunjungan APMI ke BKI untuk penjajakan kerja sama mendorong industri maritim nasional lebih eksis. (Foto: APMI)

Jakarta, MAROBS ** Asosiasi Pemuda Maritim Indonesia (APMI) mendorong industri maritim nasional menggunakan komponen lokal. Pemuda Maritim dapat dijadikan partner strategis dalam merumuskan program terkait.

Hal tersebut mengemuka dalam kunjungan APMI ke kantor Biro Klasifikasi Indonesia (BKI), Kamis (17/3/2016). Disambut Corporate Secretary BKI Saifuddin Wijaya, selain memperkenalkan diri sebagai organisasi kepemudaan maritim, APMI memaparkan beberapa kegiatannya yang telah berjalan.

“Harapannya, ke depan, Pemuda Maritim dapat bekerja sama dengan BKI membuat program-program yang akan mendorong agar industri komponen maritim dapat dihasilkan dari dalam negeri karya anak-anak bangsa,” ujar Sekretaris Jenderal Asosiasi Pemuda Maritim Indonesia (Sekjen APMI), Ahlan Zulfakhri.

Karena menurutnya, sampai saat ini, hampir 70 persen komponen industri maritim masih berasal dari luar Indonesia atau impor.

“Hal tersebut tentunya menjadi keprihatinan kita sekaligus menjadi tantangan untuk anak bangsa untuk berani berkarya dan berusaha membangun komponen industri maritim, agar ke depan biaya dan lama pembuatan kapal dan bangunan laut dapat lebih ekonomis dan tepat waktu,” papar Ahlan.

Ia berpandangan, BKI merupakan badan yang paling berpengaruh dalam pembangunan industri maritim Indonesia. Pasalnya, BKI berkewajiban memberikan persetujuan pada konstruksi, keselamatan, dan segala bentuk elemen yang berpengaruh terhadap pembangunan jasa maritim.

“BKI yang telah didirikan semenjak 1964 merupakan sebuah lembaga yang menjadi kebanggaan negara, karena satu-satunya lembaga yang bertanggung jawab terhadap peraturan maritim, terutama konstruksi pembangunan industri kelautan dan perkapalan,” tandas Ahlan.

Dalam diskusi hangat ini, APMI yang diwakili Renaldi Bahri Tambunan menyampaikan ucapan terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan. Sementara BKI menyambut baik kunjungan APMI dan berharap dapat berkolaborasi dengan maksimal, terutama membangun industri maritim Indonesia.

“Untuk itu, Pemuda Maritim ke depan harapannya dapat menjadi wadah sekaligus jembatan untuk para pemuda Indonesia yang kreatif, dapat mewujudkan riset-riset maritimnya menjadi real industri, untuk mendukung pembangunan maritim Indonesia,” kata Saifuddin Wijaya.

Pernyataan Saifuddin direspons positif APMI dengan optimisme. Kerja sama ini diharapkan memberi kontribusi signifikan bagi industri maritim Indonesia.

“Tentunya ini menjadi tantangan bagi sgenap Pemuda Maritim Indonesia untuk mendorong terciptanya harapan tersebut. Setelah ini, kami akan menyusun tim untuk dapat merealisasikan agenda-agenda ke depan bersama BKI,” pungkas Ahlan.

Satu-satunya Badan Klasifikasi Nasional

BKI adalah satu-satunya badan klasifikasi nasional yang bertugas mengklaskan kapal-kapal niaga berbendera Indonesia dan kapal berbendera asing yang secara reguler beroperasi di perairan Indonesia.

Kegiatan klasifikasi BKI merupakan pengklasifikasian kapal berdasarkan konstruksi lambung, mesin, dan listrik kapal, dengan tujuan memberikan penilaian teknis atas laik tidaknya kapal tersebut untuk berlayar.

Selain itu, BKI juga dipercaya oleh Pemerintah untuk melaksanakansurvei dan sertifikasi statutoria atas nama Pemerintah Republik Indonesia, antara lain Load Line, ISM Code, dan ISPS Code.

BKI dibentuk dengan menerapkan standar teknik dalam melakukan kegiatan desain, konstruksi, dan surveymarine terkait dengan fasilitas terapung, termasuk kapal dan konstruksi offshore. Standar ini disusun dan dikeluarkan oleh BKI sebagai publikasi teknik.

Kapal yang didesain dan dibangun berdasarkan standar BKI akan mendapatkan Sertifikat Klasifikasi dari BKI, dimana penerbitan sertifikat dilakukan setelah BKI menyelesaikan serangkaian survei klasifikasi yang dipersyaratkan.

Sebagai Badan Klasifikasi yang independen dan mengatur diri sendiri, BKI tidak memiliki kepentingan terhadap aspek komersial terkait dengan desain kapal, pembangunan kapal, kepemilikan kapal, operasional kapal, manajemen kapal, perawatan/perbaikan kapal, asuransi atau persewaan.

BKI juga melakukan penelitian dan pengembangan dalam rangka peningkatan mutu dan standar teknik yang dipublikasikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dengan jasa klasifikasi kapal.

Melalui dukungan kerja sama dengan Germansicher Lloyd Jerman, BKI saat ini telah berubah menjadi sebuah badan klasifikasi nasional yang besar. Hingga kini, selain kegiatan usaha klasifikasi, BKI juga mengembangkan kegiatannya di bidang jasa Konsultansi dan Supervisi.

BKI juga memiliki kerja sama dengan Badan Klasifikasi Asing, baik dalam bentuk Mutual Representative maupun Dual Class.