Milad ke-25, Himapikani Dorong Negara Lahirkan Generasi Muda Berjiwa Kepemimpinan Kuat

Lokakarya Perikanan Nasional Himapikani akhir 2015. (Foto: Himapikani)
Lokakarya Perikanan Nasional Himapikani akhir 2015. (Foto: Himapikani)

Malang, MAROBS ** Pada milad Himpunan Mahasiswa Perikanan Indonesia (Himapikani), Sekretaris Jenderal Himapikani, M. Miftah Khoirul Fahmi, menandaskan, negara wajib melahirkan generasi muda yang berjiwa kepemimpinan kuat.

“Apabila generasi muda mampu menjadi sosok generasi yang cerdas, berkualitas, tangguh, serta memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat maka negara mempunyai nilai investasi sangat besar untuk perkembangan serta kemajuan bangsa di masa yang akan datang. Harapan besar akan bangkitnya Bangsa Indonesia akan semakin terbuka lebar,” ujarnya, Selasa (1/3/2016), di Malang.

Menurutnya, pemuda merupakan generasi penerus bangsa. Maju atau tidaknya suatu bangsa di masa yang akan datang, ditentukan oleh pemuda. Hal tersebutlah yang menuntut pemuda harus menjadi generasi cerdas, berkualitas, tangguh, serta memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat.

“Menjadikan para pemuda individu cerdas, berkualitas, tangguh, serta memiliki jiwa kepemimpinan kuat tentu tidak bisa selesai pada urusan pendidikan formal di dalam kelas, karena sistem pendidikan formal hanya akan menjadikan individu pemuda menjadi seorang individu yang pintar; tidak menjadikan para pemuda menjadi individu yang bermental tangguh serta berjiwa kepemimpinan kuat,” papar Miftah.

Membentuk mental pemuda tangguh serta berjiwa kepemimpinan kuat, sambungnya, secara praktis dan efektif dapat dilakukan di dalam organisasi.  Dalam organisasi, pemuda dapat belajar secara langsung mengenai dinamika yang terjadi di dalamnya.

Tidak hanya itu, terangnya, di dalam organisasi, pemuda akan bertemu dengan masalah yang harus diselesaikan.

“Apabila pemuda terbiasa dengan penyelesaian suatu masalah serta terbiasa dengan dinamika yang ada di dalamnya, kemudian dibekali dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang didapatkan dalam sistem pendidikan formal maka upaya menjadikan pemuda generasi cerdas, berkualitas, tangguh, serta berjiwa kepemimpinan kuat akan tercapai,” tandasnya.

Bonus Demografi

Miftah mengutip proyeksi kependudukan Indonesia yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa negera beribu pulau ini akan memiliki 280 juta jiwa pada 2025, lebih dari 290 juta jiwa pada 2030, dan 300 juta jiwa pada 2035.

Fenomena tersebut, katanya, bukan tidak menguntungkan, akan tetapi sangat menguntungkan. Karena selain akan menjadi negara terpadat nomor 5 di dunia, Indonesia akan memiliki keuntungan di mana usia produktif (15-64 tahun) lebih dominan daripada usia tidak produktif. Indonesia akan memiliki 2/3 penduduk dengan usia produktif.

“Bonus demografi tersebut dapat dilihat dengan parameter Depency Ratio (angka beban ketergantungan) yang cukup rendah, yaitu mencapai 44.  Hal tersebut menjelaskan bahwa 100 usia produktif akan menanggung sekitar 44 usia tidak produktif,” ungkap Miftah.

Berangkat dari dasar-dasar di atas, lanjutnya, tidak ada alasan lain kepada pemerintah serta para tokoh-tokoh politik untuk segera berinvestasi besar kepada generasi muda. Investasi kepada generasi muda tidak akan tampak hasilnya dalam 1 atau 2 tahun. Bahkan secara politik mungkin tidak akan menguntungkan bagi pihak-pihak politisi yang memimpin saat ini.

“Akan tetapi, demi kemajuan bangsa di masa yang akan datang, tentu sangatlah mulia bagi para pemimpin yang memulai untuk berinvestasi besar kepada pembangunan pemuda cerdas, berkualitas, tangguh, serta berjiwa kepemimpinan kuat,” pungkasnya.