Modernisasi Alutsista TNI, Letkol Laut (P) Salim: India Dapat Menjadi Partner Alternatif

Letkol Laut (P) Salim (paling kanan). (Foto: Dokumentasi Pribadi)
Letkol Laut (P) Salim (paling kanan). (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Jakarta, MAROBS ** Penggarapan kerja sama maritim antara Indonesia dan India sangat dimungkinkan, karena pertalian Samudera Hindia yang melingkupi kedua negara. Atas dasar kepentingan kedua belah pihak pula, kerja sama TNI AL dan AL India perlu ditingkatkan.

Selain itu, India dapat menjadi partner alternatif Indonesia dalam memperlengkapi dan memodernisasi peralatan alutista TNI saat ini, di luar negara-negara besar lain, seperti Amerika Serikat, Rusia, dan RRT.

“Kekuatan pertahanan maritim India melaju pesat dengan alutsista modern dan canggih, serta kemampuan alih tekhnologi yang cukup andal. Kita perlu mencontoh India yang telah mengaplikasikan konsep pertahanan negara maritim yang benar,” ujar Pabandya Gunkuat Sops TNI/Mabes TNI, Letkol Laut (P) Salim, Minggu (13/3/2016), di Jakarta.

Ia memaparkan bukti-bukti hal tersebut dengan adanya India Maritime Doctrine, India Maritime Strategy, dan Freedom to Use the Seas: India’s Maritime Military Strategy yang diluncurkan sekitar 2007.

“Sementara peranti yang benar untuk kita sebagai Poros Maritim Dunia tidak pernah dibuat,” tandasnya.

Menurut Salim, hubungan TNI AL dan India Navy dalam 13 tahun terakhir sangatlah erat. Pemerintah India berkeinginan meningkatkan kerja sama dengan Pemerintah Indonesia di bidang pertahanan militer melalui kegiatan patroli bersama di Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE).

Khusus TNI AL, sambungnya, kerja sama ini semakin meningkat dengan peningkatan latihan gabungan bersama dan kegiatan coordinated patrol, honour visit, exchange officer dalam kegiatan pendidikan dan berbagai kegiatan kerja sama bilateral lainnya.

“Indonesia sebenarnya dapat memetik banyak manfaat dari hubungan baiknya dengan India dewasa ini. Khususnya bagaimana India berkembang cepat sebagai Negara Maritim. Di tengah era kemajuan teknologi, utamanya teknologi informasi, yang relatif masih mahal bagi daya beli masyarakat Indonesia, seyogianya kita berpaling ke India yang dapat menjadi pemasok keperluan tersebut dengan harga yang relatif lebih terjangkau,” papar penulis buku Path Way to Indonesia Maritime Future tersebut.

Hal yang sama berlaku untuk upaya peningkatan sumberdaya manusia Indonesia melalui peningkatan kuantitas sarana dan kualitas hasil pendidikan. Salim menuturkan, hal itu telah dicapai India sejak beberapa waktu lalu.

Ia mengatakan, dibutuhkan waktu dan keseriusan semua pihak untuk dapat merealisasikan hubungan bilateral ideal antara Raksasa Asia Selatan dan Raksasa Asia Tenggara.

“Bila perlu kita perjuangkan Hindia Ocean itu sebenarnya Indonesian Ocean, seperti Indian Ocean,” ucapnya.

Satu hal yang dapat dipastikan, kata Salim, hubungan Indonesia-India sekarang jelas memerlukan peningkatan tajam, sehingga perlu dilakukan upaya-upaya baru untuk make-up for lost time dalam hubungan bilateral Indonesia-India ke depan.

India dan Tiongkok

Salim juga mengungkapkan peta kepentingan India di Laut Tiongkok Selatan (LTS). Menurutnya, saat Tiongkok melakukan investasi dalam berbagai proyek pelabuhan di Samudera India secara besar-besaran, India memiliki kepentingan komersial pula di LTS. Kedua negara pun memperkuat angkatan lautnya.

“Kedua negara tampaknya menghindari sikap untuk saling memprovokasi. Namun, justru sikap inilah yang dikritik analis dan media di India. Masihkan India melihat dirinya sebagai adidaya regional seperti sebelumnya? Atau apakah India sebagai bakal negara adidaya akan mempertahankan kepentingannya juga secara militer di luar Samudera India?” pungkasnya.