Koperasi Santo Alvin Pratama, Penyedia Ikan Kualitas Ekspor Asal Ternate

Olahan ikan tuna dalam bentuk loin atau potongan daging tanpa tulang siap ekspor, hasil olahan UPI, kerja sama Perum Perindo Cabang Brondong dengan Koperasi Santo Alvin Pratama. (Perum Perindo)

BASTIONG, Ternate — Indonesia Timur selalu identik dengan ikan laut berkualitas dunia. Bukan hanya lezat rasanya, sebagian komoditas tersebut memang tidak ditemukan di belahan dunia mana pun. Koperasi Santo Alvin Pratama, salah satu pelopor usaha perikanan tangkap di Ternate, menjadi salah satu bukti, kaya rayanya negeri ini akan sumberdaya perikanan.

Suatu ketika, tepatnya Jumat (27/4/2018), sejumlah tokoh nasional berkunjung ke Pelabuhan Perikanan Nusantara, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara. Mereka adalah Komisi IV DPR RI, Dirjen Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dirjen Perkebunan dan Sekretaris Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian.

Saat tiba di lokasi, rombongan diterima langsung oleh Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut KKP bersama Direktur Logistik Ditjen PDSPKP, Kepala BLU KKP, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Maluku Utara, dan Kepala PPN Ternate.

Dirilis Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan, kunjungan kali ini dimaksudkan untuk meninjau aktivitas Koperasi Santo Alvin Pratama, salah satu binaan Kementerian Kelautan dan Perikanan di Provinsi Maluku Utara yang bergerak di bidang penangkapan, distribusi, dan pemasaran hasil perikanan.

Santo Alvin Pratama telah mengoperasionalkan dan memanfaatkan semua bantuan yang diberikan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Bantuan dari Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan untuk koperasi, misalnya fasilitasi pembentukan inkubator bisnis, pengelolaan Cold Storage, Ice Flake Machine kapasitas 10 ton, dan kendaraan berpendingin.

Dalam kunjungan beberapa waktu lalu itu, Komisi IV melihat secara langsung proses produksi loin tuna dan produk olahan kelompok inkubator, dilanjutkan audiensi. Saat beraudiensi dengan Komisi IV, Ketua Koperasi, Hermanto, menyampaikan profil koperasi serta kendala-kendala yang dihadapi, di antaranya kekurangan sarana dan prasarana untuk mendukung produksi ikan di Pulau Bacan yang saat ini telah mencapai 1000 ton per bulan.

Mitra Perum Perindo

Koperasi Santo Alvin Pratama beranggotakan 80 anggota dan menjadi salah satu mitra Perum Perikanan Indonesia (Perindo) dalam pengelolaan bisnis perikanan di Bacan. Pada November 2017, Perum Perindo berhasil melakukan ekspor perdana produk cakalang beku, sebanyak 25,68 ton ke Jepang.

“Ini ekspor perdana produk cakalang beku hasil kerja sama Perum Perindo dengan Koperasi Santo Alvin Pratama,” ujar Manajer Pemasaran dan Pengembangan Bisnis SBU Fleet & Operations (FO) Perum Perikanan Indonesia Andrianus, dirilis Perum Perindo.

SBU FO selaku unit bisnis Perum Perindo yang bertanggung jawab untuk usaha penangkapan ikan dan hasil laut lainnya, segera akan melakukan ekspor berikutnya.

“Rencananya menyusul ekspor gurita olahan. Selanjutnya, kami akan ekspor secara periodik, karena sudah ada pasar di luar negeri,” tambahnya.

Di samping pasar ekspor, Perum Perindo terus meningkatkan produksi penangkapan untuk memasok kebutuhan Industri olahan ikan domestik, khususnya perusahaan-perusahaan yang bekerja sama dengan Perum Perindo.

Adapun unit-unit yang terus digenjot produksi penangkapannya ada di seputar Laut Arafura, Maluku, dan Sulawesi, yaitu unit Sorong, Merauke, Tual, Bacan, Ternate, dan Bitung. Target produksi hingga akhir 2017 mencapai 5.000-7.000 ton, dari berbagai jenis ikan dan hasil laut.

Pada 2018, jangkauan pemasaran Perindo makin meluas. Kini, mereka siap merambah pasar Timur Tengah, yaitu Bahrain, setelah berhasil melakukan ekspor ke Korea, Taiwan, Hongkong, Amerika Serikat, dan tentu saja, Jepang.

Ekspor ke Bahrain berupa olahan ikan tuna dalam bentuk loin atau potongan daging tanpa tulang. Nah, loin yang akan diekspor adalah hasil olahan Unit Pengolahan Ikan (UPI), hasil kerja sama Perum Perindo Cabang Brondong dengan Koperasi Santo Alvin Pratama. Kerja sama ini melibatkan nelayan setempat, khususnya binaan Koperasi Santo Alvin Pratama. Perindo Cabang Brondong membeli ikan tuna tangkapan nelayan, lalu diolah di UPI. Setiap bulan, nelayan Ternate mampu mengirim tuna, minimal 18 ton.

Tuna dari nelayan diolah menjadi loin, dengan kuantitas sekitar 9 ton. Selanjutnya, 9 ton loin itu diekspor ke Bahrain dengan nilai Rp1 miliar. Dalam satu bulan, ditargetkan mampu menembus ekspor 2 kali atau total 18 ton. Peningkatan produksi olahan, memanfaatkan musim tuna.

Selain ekspor, loin olahan UPI Ternate disiapkan untuk pasar domestik, mewujudkan sinergi BUMN dengan melayani BUMN-BUMN yang membutuhkan olahan ikan dalam kegiatan usahanya, antara lain PT Garuda Indonesia untuk keperluan katering di pesawat dan Hotel Indonesia Group.