Laksda Harjo Susmoro: Hidrografi, Ujung Tombak Pertahanan Laut Sebuah Negara

Kapushidrosal Laksamana Muda TNI Harjo Susmoro memberikan Executive Lecture di Gedung Auditorium Universitas Pertahanan, Rabu (24/10/2018). (Pushidrosal)

UNHAN, Sentul — Hidrografi bukan sekadar peta laut, tapi merupakan kunci gerbang perekonomian dan ujung tombak pertahanan laut sebuah negara. Pandangan tersebut lahir dari Kepala Pusat Hidro-Oseanografi TNI Angkatan Laut (Kapushidrosal), Laksamana Muda TNI Harjo Susmoro.

Kapushidrosal menyampaikannya pada Rabu (24/10/2018) saat memberikan Executive Lecture di depan 265 mahasiswa, dekan, dan dosen Universitas Pertahanan (Unhan) di Gedung Auditorium Unhan, Sentul.

“Pesatnya perkembangan ilmu pertahanan laut tidak terlepas dari pentingnya ilmu hidrografi. Laut dan samudera menjadi kontributor utama bagi kekuatan maritim dunia yang akan terus-menerus meningkat dari waktu ke waktu di masa yang akan datang,” ujarnya.

Menurutnya, pemanfaatan data hidrografi dan informasi terbaik yang telah dikumpulkan dan diolah sangatlah penting bagi pengguna laut, melalui pembangunan database geo-referenced digital yang saling terkait, sehingga mudah untuk diakses.

Lebih lanjut, Laksda Harjo Susmoro menjelaskan, untuk dapat mendukung kegiatan Operasi Militer Selain Perang (OMSP), seperti Humanitarian Assistance And Disaster Relief (HADR), kemampuan hidrografi militer dapat menjadi dominan pada masa damai. Karena, secara geografis, Indonesia berada pada wilayah ring of fire, sehingga rawan akan bencana alam.

“Transformasi angkatan laut membutuhkan peran mutlak unsur hidrografi militer untuk dapat mendukung kekuatan operasi yang dilakukan oleh TNI Angkatan Laut, baik di wilayah Indonesia maupun di sekitarnya, yang membutuhkan kesiapan medan juang di laut, termasuk dukungan data hidrografi yang termutakhirkan,” terang mantan Waasops Panglima TNI ini.

Tanpa kesiapan medan juang di laut, sambungnya, tujuan operasi TNI Angkatan Laut tidak akan tercapai secara optimal. Peran kunci tersebut menjadi tantangan bagi hidrografi militer, sekaligus menjadi tantangan kemampuan Pushidrosal untuk menyiapkan data hidro-oseanografi yang akurat dan mutakhir dalam pembuatan peta militer aspek laut, mendukung operasi dan latihan serta pembangunan fasilitas pangkalan.

Upaya peningkatan kemampuan dukungan kebutuhan militer, baik kepentingan OMP maupun OMSP, dilakukan melalui pengembangan peta aplikasi khusus militer berbasiskan peta digital (Warship Electronic Chart Display-WECDIS) dan Peta Layer (Additional Military Layer-AML).

Dua peta itu mendukung optimalisasi operasi laut dan pengembangan taktik peperangan bawah air dan peperangan ranjau dengan pengembangan kemampuan tampilan tiga dimensi guna mendukung pengembangan taktik dan manuver kapal selam sebagai bentuk dukungan serta peran serta lembaga hidrografi nasional dalam pembangunan kekuatan pertahanan maritim Indonesia.

“Oleh karena itu, menjadi suatu tuntutan kebutuhan yang prioritas bagi Pushidrosal sebagai lembaga hidrografi di Indonesia untuk senantiasa mengikuti perkembangan teknologi mutakhir melalui implementasi teknologi bidang hidro-oseanografi guna mendorong terwujudnya Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia,” pungkas Kapushidrosal dengan terus mengingatkan bahwa Indonesia adalah negara yang besar.

Kiprah Pushidrosal

Tugas pokok yang diemban Pushidrosal sebagai penyedia data dan informasi hidrografi dan oseanografi mewujud dalam kiprah dan peran, baik di tingkat nasional, regional, maupun internasional. Pushidrosal bertekad menjadi lembaga hidrografi nasional dan pusat informasi geospasial kelautan terbaik di dunia.

Saat ini, Pushidrosal telah aktif mengembangkan implementasi berbagai teknologi survei dan pemetaan terkini, untuk lebih meningkatkan akurasi dan ketepatan penyediaan data dan informasi hidro-oseanografi yang memuat informasi data batimetri dasar laut, geologi, kewilayahan dan batas laut, area konservasi, habitat laut, dan oseanografi.

Pada April 2018, investigasi Pushidrosal atas tumpahan minyak di Perairan Teluk Balikpapan menemukan penyebabnya, yakni patahnya pipa minyak Pertamina. Investigasi dilakukan menggunakan Multibeam Echo Sounder, Side Scan Sonar, dan magnetometer.

Pipa minyak patah dengan panjang patahan kurang lebih 36,2 meter. Diduga, kapal menurunkan jangkar tidak sesuai area lego jangkar serta merupakan daerah terbatas dan terlarang, atau disebabkan gesekan benda keras. Dari gambar magnetometer, terlihat satu pipa yang tidak terpetakan dalam Peta Laut Indonesia (PLI) terbitan Pushidrosal.

Data hasil survei investigasi tersebut lantas dijadukan acuan oleh Kepolisian Daerah Kalimantan Timur (Polda Kaltim) dalam mengusut insiden tumpahnya minyak Pertamina yang mencemari perairan Teluk Balikpapan. Polda Kaltim juga menjadikan Pushidrosal sebagai saksi ahli pengungkapan kasus ini.

Belum lama ini, KRI Spica-934, salah satu armada Pushidrosal, melakukan survei dan pemetaan pasca-tsunami dan gempa Donggala-Palu di Perairan Palu, Teluk Palu. Dari data yang diperoleh dan analisis tim Pushidrosal, ditemukan longsoran dasar laut pada kedalaman 200-500 meter di Tanjung Labuan atau Wani Palu, Teluk Palu.

KRI Spica-934 melakukan survei full covered menggunakan Multibeam Echosounder EM-302, yang mampu mengukur kedalaman hingga 6.000 meter. Kapal juga mengecek kemungkinan adanya spot kedangkalan di mulut teluk dan area pemeruman di luar perairan untuk pembuatan peta tematik mitigasi bencana.