Optimalkan Sumberdaya Ikan dan Tambang, Cara Pemerintah Dongkrak Kesejahteraan Nelayan Babel

Menteri Susi bersama rombongan melakukan audiensi dengan para nelayan di Belitung Timur (Humas KKP)

BELITUNG TIMUR, Babel – Pemanfaatan komoditas udang dan ikan yang ada di Laut Belitung perlu dioptimalkan sebaik mungkin. Selama ini, pertumbuhan ekonomi Kepulauan Bangka Belitung berada di atas nasional dengan tingkat inflasi yang rendah. Apabila dijaga dan dikelola dengan baik, pencapaian tersebut dapat digunakan sebagai indikator kesejahteraan nelayan dan pertumbuhan usaha perikanan.

Pulau Belitung merupakan salah satu lokasi yang cenderung lebih aman dari bencana seperti gempa bumi atau gunung meletus karena letak geografisnya. Selain itu, Pulau Belitung juga kaya dengan sumberdaya perikanan dan sumberdaya tambang.

Belakangan, pemerintah berupaya mendongkrak kesejahteraan nelayan Bangka Belitung dengan pengoptimalan pemanfaatan sumberdaya ikan dan tambang.

“Saya ingin pemerintah dan masyarakat sama-sama punya kesadaran atas keberuntungan Kalian (warga Bangka Belitung). Orang bilang, manusia tidak mensyukuri nikmatnya. Kufur nikmat bisa celaka. Kita mensyukuri dengan cara apa? Dengan menjaga dan mengelola sumberdaya yang ada dengan betul dan baik, dan mengambil dengan secukupnya, jangan berlebihan,” ujar Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti saat mengunjungi lokasi tambang PT Timah Tbk. Kawasan Selinsing Kota Manggar, Kabupaten Belitung Timur, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (4/10/2018).

Usai meninjau langsung lokasi tambang, Menteri Susi bersama rombongan menuju Pantai Burung Mandi, Desa Damar untuk melakukan audiensi dengan para nelayan di Belitung Timur.

Susi berpendapat, laut dan sumberdaya alam di dalamnya dapat dijaga dengan berhenti menggunakan alat tangkap yang merusak lingkungan, berhenti mencemari laut dengan bahan kimia berbahaya seperti bom, potasium, dan dinamit. Ia meminta agar kepolisian setempat menindak tegas perilaku-perilaku melanggar tersebut.

Menteri Susi juga meminta kebijakan pemerintah daerah dalam pengelolaan laut dan sumberdayanya melalui regulasi atau aturan tegas yang berkekuatan hukum. Semua orang berhak untuk mempertahankan mata pencahariannya, apalagi jika sumber pencaharian itu berupa ekosistem.

“Namun, tidak boleh ada kekerasan. Pelakunya diamankan saja,” tuturnya.

Ia mencontohkan bagaimana Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menindak tegas para pelaku illegal fishing melalui proses hukum tanpa melakukan kekerasan terhadap nakhoda, awak kapal perikanan, maupun pemiliknya.

Begitu pula dengan perlindungan laut dari penambangan ilegal. Menteri Susi mengatakan, nelayan tradisional dapat mempertahankan sumber pencahariannya dengan mengusir penambangan biji timah ilegal yang beroperasi di laut. Hal ini karena penambangan tersebut tidak memiliki izin usaha dan dapat merugikan masyarakat setempat.

“Segala aktivitas tambang di Laut Belitung adalah ilegal selama belum ada aturan yang sah. Jadi, kalau ada yang mau menambang sebelum ada aturannya maka nelayan usir saja penambangan tersebut,” tandasnya.

Penerapan Teknologi Tambang Laut Ramah Lingkungan

Tentang rencana penerapan teknologi tambang laut, Menteri Susi meminta masyarakat untuk tidak khawatir. Menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), teknologi tambang laut yang akan diterapkan adalah teknologi ramah lingkungan.

“Untuk teknologi tambang laut, Wakil Menteri ESDM sudah dikasih tahu untuk uji coba dulu. Tetapi percobaannya tetap tidak boleh di Belitung, harus di tempat lain. Saya tunggu buktinya (ramah lingkungan),” jelas Menteri Susi.

Apabila uji coba penerapan teknologi tambang ramah lingkungan berhasil dilakukan, selanjutnya akan diatur melalui regulasi khusus agar tak ada pihak yang dirugikan.

Turut dalam kunjungan Menteri Susi, Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar dan Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (PRL) Brahmantya Satyamurti Poerwadi.