Usai Temukan Asal Tsunami Palu-Donggala, KRI Spica-934 Lanjutkan Pemetaan ALKI II

KRI Spica-934 dalam Operasi Survei dan Pemetaan perairan ALKI II di Perairan Selat Bali. (Pushidrosal)

Setelah menemukan longsoran dasar laut di perairan Teluk Palu, Sulawesi Tengah yang diperkirakan merupakan asal kekuatan tsunami, kapal Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI Angkatan Laut (Pushidrosal), KRI Spica-934, kembali melanjutkan Operasi Survei dan Pemetaan perairan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II.

Kapal jenis Bantu Hidro-oseanografi (BHO) dengan komandan, Letkol Laut (P) Hengky Iriawan, ini telah berada di Perairan Selat Bali, mengumpulkan data-data hidro-oseanografi dan kelautan untuk kepentingan keselamatan pelayaran dan kepentingan pertahanan.

“Data-data yang diperoleh nantinya akan dipergunakan untuk memutakhirkan Peta Laut Indonesia (PLI) dan Peta Khusus ALKI II yang meliputi perairan Laut Bali, Celukan Bawang, serta Temukus, guna menjamin keamanan dan keselamatan navigasi di perairan tersebut,” ujar Kepala Dinas Informasi dan Pengolahan Data (Kadisinfolahta) Pushidrosal, Kolonel Laut (E) HA. Danang Rimbawa, Jumat (19/10/2018), dalam rilisnya.

Sebelumnya, KRI Spica-934 melakukan survei dan pemetaan pasca-tsunami dan gempa Donggala-Palu di Perairan Palu, Teluk Palu. Dari data yang diperoleh dan analisis tim Pushidrosal ditemukan longsoran dasar laut pada kedalaman 200-500 meter di Tanjung Labuan atau Wani Palu, Teluk Palu.

KRI Spica-934 melakukan survei full covered menggunakan Multibeam Echosounder EM-302, yang mampu mengukur kedalaman hingga 6.000 meter. Kapal juga mengecek kemungkinan adanya spot kedangkalan di mulut teluk dan area pemeruman di luar perairan untuk pembuatan peta tematik mitigasi bencana.

Dengan begitu, Pushidrosal mampu memberikan informasi dasar laut yang lebih detail. Dengan Multibeam Echosounder, perubahan topografi dasar laut dapat digambarkan dengan lebih jelas. Data dan informasi ini menjadi dasar prediksi proses-proses geologi dan menjadi informasi penting dalam usaha mitigasi bencana.

Selain Multibeam Echosounder, KRI Spica-934 dilengkapi peralatan survei modern, seperti Side Scan Sonar, Remotely Operated Vehicle (ROV), serta Autonomous Underwater Vehicle (AUV).

Operasi Survei dan Pemetaan perairan ALKI II meliputi pengukuran kedalaman laut, yakni pencitraan dasar laut menggunakan Side Scan Sonar atau lazim disebut Bathimetry, pengukuran pasang surut air laut, pengukuran arus dan gelombang laut, pengukuran sedimentasi, serta pengambilan contoh dasar dan air laut.

Kapal Riset dan Kapal Patroli

KRI Spica-934 resmi diluncurkan pada 3 Agustus 2015 dari Les Sables d’Olonne, Prancis. Memiliki panjang 60 meter dan ditenagai dua mesin diesel 8V 4000 M53 untuk dua propeller, kapal ini dapat melaju hingga kecepatan maksimum 14 knots.

Sementara untuk jarak jelajahnya mencapai 4.400 nautical mile pada kecepatan 12 knots. KRI Spica-934 mampu menghadapi gelombang laut hingga level sea state six. Dengan kapasitas 30 awak dan 16 personel tambahan, KRI Spica-934 mampu berlayar secara terus-menerus selama 20 hari.

Secara asasi, KRI Spica-934 berfungsi sebagai kapal riset dan survei, namun dapat menjalankan peran kapal patroli, karena dibekali meriam PSU Rheinmetall kaliber 20 mm pada haluan, serta dua pucuk SMB (senapan mesin berat) M2HB kaliber 12,7 mm di geladak buritan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *