Besok, Kuliah Umum AAU Hadirkan Ahli Radar, Josaphat Tetuko Sri Sumantyo

Prof Josaphat Tetuko Sri Sumantyo saat memberi kuliah umum di Fakultas Geografi UGM, Senin (15/5/2017). (Humas UGM)

AAU, Yogyakarta — Akademi Angkatan Udara (AAU) terus bergerak dinamis. Desain besar Sang Gubernur baru, Marsda Tatang Harlyansah, tentang pentingnya kesiapan lulusan AAU dalam menghadapi era Revolusi Industri 4.0 diejawantahkan dalam program-program pendukung yang berkualitas.

Besok, tepatnya Senin (5/11/2018), AAU berencana menggelar Kuliah Umum menghadirkan Guru Besar Universitas Chiba Jepang, Josaphat Tetuko Sri Sumantyo. Acara yang akan dihelat di Gedung Sabang Merauke AAU, mulai pukul 08.00, mengangkat tema ‘Sumberdaya Manusia (SDM) sebagai Pelaksana/Aktor/Operator pada Sistem Ketahanan Nasional Era Revolusi Industri 4.0’.

“AAU akan mengadakan Kuliah Umum, besok, mengundang Prof Josaphat,” ujar Kepala Penerangan AAU, Mayor (Sus) Subiyah, hari ini.

Prof Josaphat, biasa dipanggil ‘Josh’, dikenal sebagai pembuat radar andal berkewarganegaraan Indonesia yang memiliki hak tinggal selamanya di Jepang, karena jasa-jasanya. Ia bahkan diangkat sebagai pegawai negeri di Kementerian Pendidikan dan Teknologi Jepang. Kini, Prof Josh memimpin Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory (JMRSL) Center for Environmental Remote Sensing, Chiba University.

Lahir di Bandung 48 tahun silam Prof Josh merupakan salah satu pemegang paten antena mikrostrip, yakni antena berbentuk cakram berdiameter 12 sentimeter dan tebal 1,6 milimeter yang dapat digunakan untuk berkomunikasi langsung dengan satelit. Ia juga penemu circularly polarized synthetic aperture untuk pesawat tanpa awak, small satellite, dan radar peramal cuaca tiga dimensi.

Josaphat membangun pusat riset di kampus Chiba University yang mempekerjakan 50 orang peneliti. Belakangan, ia mengembangkan pembuatan satelit berharga terjangkau, karena biasanya, satelit dibanderol pada kisaran Rp4 sampai dengan Rp5 triliun. Sementara Prof Josh dapat memproduksi satelit seharga Rp25 miliar dengan fungsi yang lebih baik.

Prof Josh dianggap berkompeten menjawab tantangan Sistem Ketahanan Nasional Era Revolusi Industri 4.0. Karena, pada era ini, didominasi oleh pola digital economy, artificial intelligence, big data, dan robotic, atau dikenal dengan fenomena disruptive innovation.

Pada konteks kemiliteran, terutama angkatan udara, alat utama sistem persenjataan (alutsista), khususnya pesawat tempur, kini telah dilengkapi dengan teknologi Generasi ke-4. AAU sebagai pelahir pimpinan-pimpinan TNI AU tentu saja berkewajiban untuk membekali para taruna dengan pengetahuan terbaik dari narasumber terpilih.

“Di Era Revolusi Industri 4.0, nasionalisme generasi muda tetap merupakan keniscayaan bagi eksistensi suatu negara. Karena itu, penguatan nasionalisme mutlak mendapatkan prioritas untuk terus diupayakan. Taruna sebagai kader pemimpin terus mengasah diri untuk memahami hakikat dan mengikuti dinamika perkembangan Era Revolusi Industri 4.0. Pada saatnya memimpin, mereka telah siap menyongsong, beserta dinamika yang terjadi,” terang Gubernur AAU, saat Akademi TNI menggelar temu wicara taruna TNI dan Akpol, Praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), serta mahasiswa 2018 di AAU, Rabu (24/10/2018).

Dengan menghadirkan Prof Josaphat, wawasan para taruna AAU diharapkan bertambah, dan kelak, saat lulus, dapat berkontribusi besar pada dunia angkatan udara yang peka zaman.