Lantik Kepala Bakamla Baru, Menko Polhukam: Susun Blue Print Kebijakan Pengamanan Laut Indonesia

Menko Polhukam Wiranto melantik Laksamana Madya Achmad Taufieqoerrochman sebagai Kepala Bakamla, menggantikan Laksamana Madya (Purn) Arie Sadewo, Jumat (9/11/2018), di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta. (Kemenko Polhukam)

POLHUKAM, Jakarta — Tantangan bagi Badan Keamanan Laut (Bakamla) untuk mengoptimalkan sistem ‘Single Agency Multi Tasks’ sejalan dengan wewenang Bakamla untuk mengintegrasikan sistem informasi keamanan dan keselamatan di wilayah perairan Indonesia serta wilayah yurisdiksi Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Wiranto, ketika melantik Laksamana Madya Achmad Taufieqoerrochman sebagai Kepala Bakamla menggantikan Laksamana Madya (Purn) Arie Sadewo, Jumat (9/11/2018), di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta.

Wiranto mengatakan, penegakan hukum dan keselamatan dilaksanakan oleh satuan-satuan patroli dari berbagai Instansi/Kementerian. Oleh karena itu, diperlukan satu sistem yang terintegrasi, karena masing-masing Instansi/Kementerian tersebut memiliki strategi, kebijakan, peralatan, dan SDM yang berbeda-beda.

“Dengan menyatukan atau mengintegrasikan kewenangan tersebut pada satu Badan tentu akan lebih mudah untuk melakukan koordinasi dan kontrol,” ujarnya.

Ia berharap, Bakamla dapat menyusun blue print Kebijakan Pengamanan Laut Indonesia dengan memperhatikan dan memetakan kondisi lingkungan strategis, baik itu regional maupun global, sehingga dapat berdampak pada adanya kebijakan keamanan dan keselamatan laut Indonesia yang efektif dan tepat sasaran.

“Sehubungan dengan hal tersebut maka Bakamla harus dapat menyesuaikan diri dengan kondisi aktual penugasan dalam rangka penindakan, penyelidikan, dan penyidikan awal atas pelanggaran hukum di laut,” tandas Wiranto.

Menko Polhukam berpesan kepada Kepala Bakamla yang baru agar segera menyesuaikan diri, serta mengenali tugas dan melaksanakannya, dengan sebaik-baiknya.

“Semoga jabatan baru ini akan melengkapi pengabdian Saudara kepada negara dan bangsa tercinta. Kita semua menaruh harapan tinggi kepada Saudara, agar mampu meningkatkan prestasi organisasi,” pungkas mantan Panglima TNI tersebut.

Perwira Berpengalaman

Laksamana Madya Achmad Taufiqoerrochman Lahir di Sukabumi, 18 Oktober 1961. Ia adalah alumnus Akademi Angkatan Laut (AAL) ke-30 tahun 1985. Dikenal sebagai komandan tempur laut yang berpengalaman, Taufiq sebelumnya menjabat Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Wakasal).

Pada 2004, saat mengomandani KRI Karel Satsuit Tubun-356, ia berhasil membebaskan kapal MT Pematang milik Pertamina yang dibajak separatis Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Selat Malaka.

Saat menjabat Komandan Gugus Tempur Laut Komando Armada Barat pada 2011, Taufiq memimpin Satuan Tugas Merah Putih untuk membebaskan kapal MV Sinar Kudus dari para perompak Somalia. Misi tersebut tuntas dan semua sandera selamat.

Atas kontribusinya kepada bangsa dan negara, Laksdya Taufiq menerima berbagai tanda jasa. Di antaranya, Satyalancana Wira Karya untuk keberhasilan Satgas Merah Putih, Satyalancana Wira Dharma untuk keberhasilan mengamankan perbatasan, serta Satyalancana Wira Nusa untuk darma bakti pengamanan pulau terluar.