Marsda Tatang Harlyansah, Persiapkan AAU Hadapi Revolusi Industri 4.0

Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal Yuyu Sutisna melantik Marsda Tatang Harlyansah sebagai Gubernur Akademi Angkatan Udara (AAU) ke-37, di Ksatrian AAU Yogyakarta, Jumat (12/10/2018). (Pen AAU)

AAU, Yogyakarta — Melek teknologi kedirgantaraan dan bersiap menghadapi Revolusi Industri 4.0. Terlebih, alat utama sistem persenjataan (alutsista), khususnya pesawat tempur, kini telah dilengkapi dengan teknologi Generasi ke-4. Dua hal penting tersebut menjadi concern Gubernur Akademi Angkatan Udara (AAU) yang belum lama dilantik, Marsekal Muda (Marsda) TNI Tatang Harlyansah.

Era Revolusi Industri 4.0 menekankan pola digital economy, artificial intelligence, big data, dan robotic, atau dikenal dengan fenomena disruptive innovation. Marsda Tatang bertekad melahirkan perwira-perwira TNI AU muda yang  siap menghadapi tantangan ini.

“Karena itu, kurikulum (AAU) akan disusun, sesuai dengan tantangan zaman yang ada,” ujar Gubernur AAU saat Akademi TNI menggelar temu wicara taruna TNI dan Akpol, Praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), serta mahasiswa 2018 di AAU, Rabu (24/10/2018).

Tatang mengaku, tantangan dan tugas-tugas AAU ke depan tidaklah ringan. Misalnya, AAU harus mampu mengaktualisasikan dan merevitalisasi sistem, mekanisme, serta cara kerja yang profesional, efektif, dan efesien, melalui kurikulum pendidikan yang terencana dan terprogram dengan baik.

“Untuk itu, selain akan melanjutkan program yang sudah berjalan, juga akan menambah inovasi sesuai  visi misi AAU. Di antaranya dengan meng-update, baik dosen maupun peralatannya,” tuturnya.

Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti, Ali Ghufron Mukti, pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kemenristekdikti di Medan, belum lama ini, memberi penjelasan tentang lima kualifikasi pengajar pada era Revolusi Industri 4.0.

Pertama, educational competence, kompetensi berbasis Internet of Thing sebagai basic skill di era ini. Kedua, competence in research, kompetensi membangun jaringan untuk menumbuhkan ilmu, arah riset, dan terampil mendapatkan grant internasional. Ketiga, competence for technological commercialization, punya kompetensi membawa grup dan mahasiswa pada komersialisasi dengan teknologi atas hasil inovasi dan penelitian.

Keempat, competence in globalization, dunia tanpa sekat, tidak gagap terhadap berbagai budaya, kompetensi hybrid, yaitu global competence dan keunggulan memecahkan national problem. Kelima, competence in future strategies, di mana dunia mudah berubah dan berjalan cepat, sehingga punya kompetensi memprediksi dengan tepat apa yang akan terjadi di masa depan dan strateginya, dengan cara joint-lecture, joint-research, joint-publication, joint-lab, staff mobility dan rotasi, paham arah SDG’s dan industri, dan lain sebagainya.

Global competitiveness index pada World Economic Forum 2017-2018 masih menempatkan Indonesia pada posisi ke-36, naik lima peringkat dari tahun sebelumnya, posisi ke-41, dari 137 negara. Apabila dibandingkan dengan Malaysia, Singapura, dan Thailand, Indonesia masih tertinggal.

Beberapa penyebab dapat dijadikan evaluasi, yakni lemahnya higher education and training, science and technology readiness, dan innovation and business sophistication. Solusinya, kapasitas dosen dan tutor dalam pembelajaran daring sangat diperlukan, ditambah dengan pengembangan infrastruktur Massive Open Online Course (MOOC), teaching industry, dan e-library.

Pendidikan militer tentu saja berbeda dengan pendidikan umum, tapi referensi ini sangat berguna bagi pengembangan AAU ke arah yang lebih baik. Apalagi Pemerintah tengah menyiapkan program untuk mengantisipasi Revolusi Industri 4.0 dalam program ‘Making Indonesia 4.0’. Menurut Presiden Joko Widodo, Revolusi Industri 4.0 diperkirakan 3.000 kali lebih cepat dari revolusi industri pertama. Roadmap tersebut, sambung Presiden, membutuhkan ekosistem digital yang erat dengan content creator dan software.

Gubernur AAU ke-37

Marsda Tatang Harlyansah dilantik menjadi Gubernur AAU menggantikan Marsda Sri Mulyo Handoko. Ia penerbang aerobatik TNI AU Elang Biru tahun 1995-1996 yang pernah bertugas sebagai Perwira Staf Ahli (Pa Sahli) TK III Bidang Kesejahteraan Personel (Jahpers) Panglima TNI.

Lahir di Samarinda pada 25 Januari 1964, sejak 16 September 2016 hingga 27 Januari 2017, Marsda Tatang menjabat sebagai Kepala Staf Komando Pertahanan Udara Nasional disingkat (Kas Kohanudnas). Lulusan AAU 1987 ini pernah juga diamanahi sebagai Danlanud Supadio.

Tatang adalah Gubernur AAU ke-37. Di pundaknyalah kini sistem pendidikan AAU diharapkan terus membaik. AAU menganut sistem Tri Tunggal Terpadu, artinya sistem pendidikan yang memadukan kegiatan pengajaran, jasmani militer dan latihan, serta pengasuhan. Tujuannya, menghasilkan perwira TNI AU berpangkat Letnan Dua yang mempunyai sifat ‘Tri Sakti Wiratama’.

Tri Sakti Wiratama merupakan prestasi tertinggi yang diberikan kepada Taruna atau Taruni dalam bentuk gabungan tiga aspek, yaitu, mental, fisik, dan intelektualitas. Penghargaan diberikan saat pelaksanaan Praspa (Prasetya Perwira) dan Sumpah Perwira.