Pushidrosal Kembali Perkuat Tim Delimitasi Batas RI Dalam Perundingan Batas Maritim Indonesia-Malaysia

Tim pushidrosal dalam perundingan batas maritim RI-Malaysia di Melaka, Malaysia. (Pushidrosal)

MELAKA, Malaysia — Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI Angkatan Laut (Pushidrosal) kembali memperkuat Tim Delimitasi Batas Maritim Republik Indonesia dalam Perundingan Batas Maritim Indonesia dan Malaysia pada (15-19/11/2018) yang berlangsung di Melaka, Malaysia.

Perundingan tersebut dalam rangka Pertemuan Teknis ke-34 penetapan Batas Maritim antara Republik Indonesia dan Malaysia yang kembali dilaksanakan. Hal ini merupakan kelanjutan pertemuan teknis ke – 33 yang dilaksanakan di Bandung, Jawa Barat pada bulan Maret tahun 2018 yang lalu.

TNI AL diwakili oleh Pushidrosal bersama dengan beberapa kelembagaan terkait, turut berperan serta mendukung perundingan perbatasan dengan negara tetangga.

Tenaga ahli Pushidrosal berperan sebagai tim pendukung teknis dalam setiap perundingan penentuan batas maritim Indonesia,  dengan Kementerian Luar Negeri sebagai pimpinan delegasi.

Tim perunding Delegasi Indonesia dipimpin oleh Direktur Hukum dan Perjanjian Kewilayahan Kementerian Luar Negeri Indonesia,  Bebeb Djundjunan.

“Anggota delegasi berasal dari beberapa Institusi antara lain : Kementerian Luar Negeri,  Staff KBRI  di Kuala Lumpur, Kementerian Pertahanan, Kementerian Perhubungan, kementerian ESDM, KKP, Badan Informasi Geospasial (BIG), Markas Besar TNI, Mabes TNI AL (Sopsal) dan Pushidros TNI AL yang diwakili oleh Dirpamkersamtas, Kolonel Laut (E) Yanuar Handwiono, Kasubdit Perbatasan, Letkol Laut (P) Fransciscus Assisi Mahendra dan Kasi Sismet, Mayor Laut (P) Yulianto”. Seperti di sampaikan Kepala Dinas Informasi dan Pengolahan Data (Kadisinfolahta) Pushidrosal, Kolonel Laut (E) HA, Danang Rimbawa.

Perwakilan Pushidrosal bertugas untuk memberikan kajian rekomendasi teknis penarikan garis batas maritim di wilayah perairan Indonesia.

Perundingan batas maritim Indonesia – Malaysia telah berlangsung cukup lama,  lebih dari 15 tahun dan baru mencapai kesepakatan pada beberapa segmen batas maritim kedua negara. Setelah menyelesaikan penyelesaian Landas Kontinen di segmen Laut China Selatan dan Selat Malaka pada Tahun 1969 maupun penyelesaian batas laut territorial dengan Malaysia pada Tahun 1970.

Pada perundingan kali ini, kedua pihak sepakat untuk membahas agenda perundingan delimitasi batas maritim Indonesia – Malaysia dengan prioritas utama adalah membahas proposal dari posisi Provisional Common Point (PCP) di Laut Sulawesi segmen Pulau Sebatik dan kelanjutan dari penarikan garis Provisional Territorial Sea Boundary (PTSB) pada segmen batas maritim di laut Sulawesi dan segmen Selat Malaka bagian selatan.