Indonesia Emas 2045, Kolonel Laut (P) Salim: Visi Maritim Harus Dibangun Sejak Dini

Dansatrol Lantamal III Jakarta, Kolonel Laut (P) Salim hadir sebagai pembicara Seminar Nasional ‘Peran Pelajar dalam Menggali Potensi Maritim dan Pelestarian Lingkungan di Pelabuhan Ratu’ sebagai rangkaian Sukabumi Education Fair 2019 di GOR Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Sabtu (12/1/2019). (Hendra Wiguna)

PELABUHAN RATU, Sukabumi — Menyongsong Indonesia Emas 2045, visi maritim membutuhkan persiapan generasi sejak dini. Merekalah ‘generasi emas’ yang kelak dapat bersumbangsih besar pada berdaulat-tidaknya negeri ini. Generasi yang selayaknya belajar dan berkarya lebih keras, dibanding generasi sebelumnya.

“Sekarang kita sudah makmur dari maritim apa belum? Itu tugas Anda sebagai generasi emas di tahun 2045. Untuk menuju negara maju, kita harus menguasai dan bervisi maritim. Kita tidak ada waktu lagi untuk leha-leha,” tutur Komandan Satuan Kapal Patroli Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Dansatrol Lantamal) III Jakarta, Kolonel Laut (P) Salim.

Salim hadir sebagai pembicara dalam Seminar Nasional ‘Peran Pelajar dalam Menggali Potensi Maritim dan Pelestarian Lingkungan di Pelabuhan Ratu’ sebagai rangkaian Sukabumi Education Fair 2019 di GOR Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Sabtu (12/1/2019).

“Cita-cita Indonesia Emas tahun 2045 yang bervisikan maritim harus dibangun dengan mempersiapkan generasi sejak sekarang. Dari sekarang, Anda harus berfikir untuk menyusun negara maritim. Jadi, kita tidak hanya menjiplak konsep maritim dari luar,” ujar founder rajasamudera.com ini.

Menurutnya, Indonesia belum memiliki doktrin maritim, strategi maritim, dan strategi keamanan maritim nasional yang memadai. Oleh karena itu, sambung penulis buku Kodrat Maritim Nusantara tersebut, generasi sekarang harus berpikir dan bekerja lebih baik.

“Budaya maritim kita harus dibangun di atas lima keunggulan maritim, di antaranya letak geografis dan kekayaan sumberdaya kelautan. Kita tidak tahu, di sebelah selatan Pelabuhan Ratu ini mengandung sumberdaya alam apa saja? Yang pasti, negara lain sudah berkeinginan untuk menguasai lautan sebelah selatan kita,” ungkap Salim.

Di hadapan ratusan pelajar dan mahasiswa se-Kabupaten Sukabumi, Salim benar-benar menekankan pentingnya penyiapan generasi mendatang untuk membangun kemaritiman Indonesia.

“Saya sudah mengunjungi 70 negara, banyak di antaranya sudah membangun maritimnya. Cina membangun maritim dari 70 tahun lalu. Inggris sudah dari tahun 1600-an. (Sejak 1800-an), Alfred Thayer Mahan sudah memikirkan bagaimana Amerika menjadi negara maritim yang maju,” pungkasnya.

Kontribusi Daerah

Opini penajam datang dari Direktur Eksekutif Panstra Yogyakarta, Agus Salim. Ia berpandangan, Generasi Emas 2045 tidak terlepas dari bonus demografi yang dapat menjadi basis olah potensi, terutama daerah. Selain secara geografis Indonesia sangatlah besar, dinamika pertumbuhan ekonomi daerah memang mengalami kemajuan sangat pesat.

“Pada 2045, sejumlah 70 persen penduduk Indonesia dalam usia produktif, yakni 15-64 tahun. Sementara sisanya, yakni 30 persen-nya, tidak produktif. Mereka berusia di bawah 14 tahun dan di atas 65 tahun. Sebagian besar penduduk usia produktif berada di daerah dan secara nyata berkontribusi pada daerahnya, karena mulai visioner,” terang Agus.

Teknologi informasi menjadi salah satu faktor penting, berubahnya pola pikir para pemimpin informal yang lantas memimpin daerah untuk jauh lebih baik. Mereka menemukan sumber autentik secara autodidak, bahkan terhubung secara langsung, karena merasa senasib dan sepenanggungan.

“Bagi para pemimpin, entah pemerintah atau swasta, situasi di mana ketenagakerjaan semakin milenial, akses terhadap informasi tidak dapat ditinggalkan. Meski begitu, sumber terpercaya menjadi hal penting proses selanjutnya, yakni adaptasi dan juga, inovasi,” ucapnya.