KRI SPICA-934 Survei Investigasi Selat Sunda Pasca Erupsi dan Tsunami Gunung Anak Krakatau

KRI SPICA-934 melakukan survei investigasi di Selat Sunda pasca erupsi dan tsunami Gunung Anak Krakatau (25/02/2019).

Selat Sunda, Jakarta – KRI SPICA-934 melakukan survei investigasi di  Selat Sunda pasca erupsi dan tsunami Gunung Anak Krakatau (25/02/2019). Investigasi ini dilakukan setelah KRI SPICA-934 berhasil melaksanakan dukungan hidrografi dalam kegiatan survei kemanusian dan penelitian geologi pasca bencana tsunami di Palu-Donggala.

Kapal Bantu Hidro Oseanografi kedua milik TNI Angkatan Laut Indonesia ini juga berhasil menemukan Cockpit Voice Recorder (CVR) Lion Air JT-610 yang jatuh di Perairan Karawang beberapa waktu yang lalu. Kali ini, KRI-Spica-934 menerima tugas baru melakukan survei investigasi di Selat Sunda pasca Erupsi dan Tsunami Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.

Kegiatan survei ini merupakan kelanjutan dari survei yang dilaksanakan oleh KRI Rigel-933 pasca erupsi anak Gunung Krakatau dan tsunami di perairan selat Sunda. Dengan tujuan untuk investigasi potensi bahaya navigasi  dan memastikan keselamatan pelayaran setelah terjadinya erupsi dan tsunami Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda beberapa waktu yang lalu.

Menurut  Kapushidrosal, Laksamana Muda TNI Ir. Harjo Susmoro, Pushidrosal telah mengantisipasi potensi bahaya navigasi dan akan memastikan keamanan pelayaran di perairan Selat Sunda. KRI Spica-934 yang dikirim pada awal bulan Februari 2019 bertugas untuk melakukan survei  lanjutan untuk pengumpulan data Hidrografi dan Oseanografi.

Secara spesifik, data tersebut akan digunakan untuk mengetahui perubahan kontur kedalaman dan penelitian oseanografi serta kandungan material longsoran yang diakibatkan oleh erupsi Gunung Anak Krakatau. Hal tersebut dilakukan, mengingat Posisi Gunung Anak Krakatau berada di Selat Sunda yang berdekatan dengan Archipelago Sea Lane I (ASL) atau Alur Laut Kepulauan Indonesia I (ALKI ).

ALKI I diketahui memiliki intensitas traffic pelayaran tertinggi bila dibandingkan dengan ALKI II yang berada diantara Pulau Kalimantan dan Sulawesi, atau ALKI III yang berada di wilayah Timur perairan Indonesia. Tidak hanya itu, perairan Selat Sunda juga digunakan sebagai alur penyeberangan kapal Ferry yang menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Sumatera dengan intensitas penyeberangan antar pulau yang sangat padat.

Oleh karena itu, Pushidrosal survey yang dilakukan berguna untuk updating data serta menjamin keselamatan  dan keamanan pelayaran bagi kapal yang sedang bernavigasi. Tidak hanya di perairan Selat Sunda, namun menjamin keselamatan dan keamanan bernavigasi seluruh perairan Indonesia.

“Dengan tujuan untuk investigasi potensi bahaya navigasi dan memastikan keselamatan pelayaran setelah terjadinya erupsi dan tsunami Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda beberapa waktu yang lalu,” ujar Kapushidrosal Laksamana Muda TNI Ir. Harjo Susmoro, dalam keterangan tertulis, Selasa (26/2/2019).

Operasi Investigasi Pasca Bencana

KRI Spica-934 yang dikomandani oleh Letkol Laut (P) Hengky Iriawan, diketahui telah berpengalaman dalam melaksanakan tugas operasi investigasi, tidak hanya investigasi pasca bencana alam seperti investigasi pasca bencana tsunami di Palu, namun juga investigasi dalam kegiatan SAR seperti operasi pencarian CVR Lion AIR JT-610 di perairan Karawang yang berhasil menemukan Cockpit Voice Recorder (CVR) pesawat tersebut.

Dalam tugas ini, KRI Spica-934 akan menggunakan berbagai macam peralatan canggih yang telah terinstal dikapal tersebut. Peralatan itu diantaranya adalah Multi Beam Echosounder (MBES) tipe 302 dan 2040, Sub Bottom Profiler (SBP) SES 2000 dan Side Scan Sonar (SSS) GeoAcoustic 2094. MBES akan menampilkan profil sea bed dalam visualisasi data tiga dimensi sehingga memudahkan dalam proses investigasi perubahan kedalaman perairan. SBP akan digunakan untuk meneliti lapisan sedimen serta batuan dasar laut dan SSS digunakan untuk pencitraan longsoran material dasar laut di sekitar perairan tersebut.

Pasca terjadinya erupsi dan longsoran Gunung Anak Krakatau yang memicu tsunami pada tanggal 22 Desember 2018 silam, perairan di Selatan gunung tersebut mengalami perubahan kontur kedalaman yang cukup signifikan. Berdasarkan data survey Hidro Oseanografi Pushidrosal 2016 dan data Multi Beam Echo Sounder (MBES) pada 29 hingga 30 Desember 2018. Diketahui, perairan di selatan Gunung Anak Krakatau telah terjadi perubahan kontur kedalaman 20 hingga 40 meter lebih dangkal. Hal ini dikarenakan adanya tumpahan magma dan material longsoran Gunung Anak Krakatau yang langsung jatuh ke laut.