Mukernas Perhimatekmi, Kolonel Bakamla Salim Sampaikan Optimisme Hadapi Revolusi Industri 4.0

Kolonel Bakamla Salim menjadi narasumber utama pada simposium Mukernas Perhimatekmi, Sabtu (9/2/2019), di kampus Universitas Hang Tuah, Surabaya. (Erwin Dwinano/Perhimatekmi)

UHT, Surabaya — Pada Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Perhimpunan Mahasiswa Teknologi Maritim se-Indonesia (Perhimatekmi), Sabtu (9/2/2019), di kampus Universitas Hang Tuah, Surabaya, Kolonel Bakamla Salim menyampaikan optimisme dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0.

Simposium yang mengangkat tema ‘Kesiapan Sektor Maritim dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0’ tersebut dihadiri Dekan Fakultas Teknik dan Ilmu Kelautan UHT, Viv Djanat Prasita, dan Wakil Dekan III Bidang Kerjasama dan Kemahasiswaan, Dwisetiono.

“Revolusi Industri 4.0 sudah di depan mata dan kita tidak bisa menolak atau menghindarinya. Wajib untuk mempersiapkan dan berbenah diri, agar kita menjadi pemenang,” ujar Salim menghangatkan pembicaraan.

Sebelumnya, penulis buku Kodrat Maritim Nusantara tersebut menjelaskan sejarah kemaritiman Indonesia, sejak zaman Kerajaan Sriwijaya. Menurutnya, Sriwijaya tetap kokoh berdiri, walaupun pada zamannya, berada di antara dua kekuatan besar, India dan China.

“Indonesia adalah negara besar yang berada di tengah-tengah persaingan pengaruh dua negara adidaya dunia. Tetaplah waspada dan tingkatkan ketahanan bangsa serta waspada terhadap kegiatan yang dilakukan negara lain di perairan kita yang dapat mengganggu kedaulatan,” ucapnya.

Ia berpandangan, Indonesia memiliki sumber daya manusia dan sumber daya alam yang kuat untuk berhadapan dengan Revolusi Industri 4.0. Poros Maritim Dunia, sambung Salim, adalah cetak biru upaya untuk memperkuat DNA Indonesia sebagai bangsa maritim yang inovatif. Cita-cita yang akan bisa segera tercapai, apabila mampu beradaptasi dengan Revolusi Industri 4.0.

“Kita siap untuk menghadapi era baru ini dengan jiwa gotong royong dan perilaku yang baik,” tandas Salim.

Tidak kalah penting, lebih dalam, Salim menilai, pentingnya mengerti jatidiri bangsa sebagai energi penggerak untuk mempercepat kejayaan Indonesia sebagai Bangsa Maritim. Untuk menjaga kesinambungan pembangunan, perekonomian maritim harus dibangun dengan agresif, serta digerakkannya pemahaman budaya maritim dalam setiap aspek kehidupan berbangsa.

SDM sebagai Defence System Integrator

Pendiri Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory (JMRSL) Center for Environmental Remote Sensing Universitas Chiba Jepang, Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, berpendapat, untuk berhadapan dengan era Revolusi Industri 4.0, diperlukan sumber daya manusia (SDM) sebagai Defence System Integrator, seperti Network Centric Warfare (NCW) yang menggunakan satellite constellations untuk Indonesian Archipelago Defence System.

Hal tersebut ia sampaikan di depan para taruna-taruni Akademi Angkatan Udara (AAU), Senin pagi (5/11/2018), dalam Kuliah Umum  yang digelar di Gedung Sabang Merauke, mengangkat tema ‘Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai Pelaksana/Aktor/Operator pada Sistem Ketahanan Nasional Era Revolusi Industri 4.0’.

“Artificial Intelligence, big data, hingga Internet of Things yang original menjadi pemersatu alutsista TNI untuk meningkatkan kekuatan pertahanan nasional,” tutur ‘Prof Josh’.

Lebih detail, ia memberi gambaran bahwa industri generasi ke-4 mengintegrasikan dunia fisik, digital, dan biologis yang mempengaruhi semua disiplin ilmu, baik ekonomi, industri, maupun pemerintah.

Bidang-bidang yang mengalami terobosoan itu antara lain robot kecerdasan buatan (artificial intelligence robotic), teknologi nano, bioteknologi, teknologi komputer kuantum, blockchain (misalnya, Bitcoin), teknologi berbasis internet, dan Printer 3D.