Pushidrosal Teliti Perubahan Kontur Kedalaman dan Geomorfologi Gunung Anak Krakatau

PUSHIDROSAL: Kapushidrosal Laksda TNI Ir. Harjo Susmoro saat berada di Gunung Anak Krakatau. Bersama tim, ia melakukan penelitian sejauhmana perubahan kontur kedalaman perairan dan morfologi bentuk Gunung Anak Krakatau usai erupsi yang terjadi beberapa waktu yang lalu. (Foto : @Pushidrosal)

Banten- Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI AL  (Pushidrosal)  melakukan penelitian geomorfologi Gunung Anak Krakatau dan perairan di sekitarnya (06/03/2019). Riset ini bertujuan untuk meneliti sejauhmana perubahan kontur kedalaman perairan dan morfologi bentuk Gunung Anak Krakatau usai erupsi yang terjadi beberapa waktu yang lalu.

Penelitian Geomorfologi yang dilakukan KRI Spica-934,  ini ditinjau langsung oleh  Kapushidrosal Laksda TNI Ir. Harjo Susmoro, yang didampingi oleh Direktur Operasi Survei dan Pemetaan (Diropssurta) Pushidrosal Kolonel Laut  (KH) Drs. Haris Djoko Nugroho dan Kadishidro Pushidrosal, Letkol Laut (P) Oke Dwiyana (05/03/2019).

Pada kesempatan itu, Kapushidrosal melihat lebih dekat kondisi Gunung Anak Krakatau  dengan meninjau langsung tepi kawah gunung tersebut. peninjauan ini dimaksudkan  untuk mengetahui seberapa besar perubahan peningkatan lapisan daratan akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Kapushidrosal langsung melaksanakan kegiatan pengukuran garis pantai di dekat kaldera Gunung,  juga perubahan kedalaman di perairan gunung Anak Krakatau. Saat ini Gunung Anak Krakatau dinyatakan masih berstatus siaga dan tercatat sering menimbulkan gempa tremor dengan skala kecil.

Menurut Kapushidrosal, perairan di sekitar Gunung Anak Krakatau ini memiliki suhu yang relatif  lebih tinggi dibandingkan dengan perairan di Selat Sunda pada umumnya. Suhu air laut tersebut naik secara signifikan di perairan yang bersinggungan langsung dengan kaldera Gunung Anak Krakatau. Hal ini dikarenakan adanya percampuran belerang dan uap panas yang keluar secara terus menerus dari kaldera Gunung Anak Krakatau. Secara kasat mata, unsur belerang mengakibatkan perubahan warna air laut menjadi coklat pekat.

Selain penelitian di gunung Anak Krakatau,  Tim survei Pushidrosal juga melaksanakan kegiatan survei di perairan lokasi Megatras serta survei hidro oseanografi  maupun penelitian di P. Sebuku.

Kegiatan penelitian yang dilakukan KRI Spica dibawah komandan Letkol Laut (P) Hengky Iriawan, menunjukkan bahwa Pushidrosal tidak hanya bertugas menjamin keselamatan bernavigasi di wilayah perairan Indonesia melalui peta laut dan publikasi-publikasi lainnya. Namun juga untuk mendukung kebijakan pemerintah dan  berperan aktif dalam kegiatan penelitian erupsi gunung berapi dan penyebab utama Tsunami Gunung Krakatau yang terjadi pada 22 Desember 2018 lalu serta perubahan-perubahan fitur-fitur morfologi di lingkungan sekitar serta bawah perairan.

Dari data hasil Operasi Survei dan Pemetaan ini akan diperoleh gambaran terkini area di sekitaran perairan Gunung Krakatau di atas dan di bawah air. Data batimetri yang dihasilkan dapat digunakan sebagai acuan dalam pemasangan alat Early Warning System tsunami di Selat Sunda. Selain itu dapat digunakan sebagai masukan dan bahan analisa lebih lanjut bagi para peneliti,  akademisi serta pengambil keputusan yang berwenang dalam hal penyebab terjadinya Tsunami serta perencanaan mitigasi bencana di perairan Selat Sunda dan sekitarnya.

Erupsi Gunung Krakatau

Pada abad ke-5 Masehi, Gunung Batuwara meledak hebat dan menimbulkan tsunami besar. Sebagian tanah ambles, membentuk Selat Sunda, serta membelah sebagian Pulau Jawa yang melahirkan Pulau Sumatera. Beberapa ahli geologi kala itu menyimpulkan Gunung Batuwara, yang disebut-sebut dalam naskah kuno Jawa, adalah Gunung Krakatau Purba (dilansir tirto.id, 2018).

Dikutip dari buku Krakatau: Laboratorium Alam di Selat Sunda (2007) terbitan Pusat Survei Sumber Daya Alam Laut Universitas Indonesia, letusan ini mengakibatkan Gunung Krakatau Purba hancur dengan menyisakan kaldera (kawah besar) di bawah laut. Tepi kawahnya membentuk tiga pulau, yakni Pulau Rakata, Pulau Panjang (Pulau Rakata Kecil), dan Pulau Sertung.

Lantaran dorongan vulkanik dari dalam perut bumi, Pulau Rakata, satu dari ketiga pulau hasil letusan Gunung Krakatau Purba pada abad ke-5 M, berkembang menjadi gunung baru yang terbuat dari batuan basaltic. Dalam proses ini, lahir dua gunung lain dari kawah di area yang sama, yakni Gunung Danan dan Gunung Perbuwatan.

Oman Abdurrahman dan Priatna dalam buku Hidup di Atas Tiga Lempeng: Gunung Api dan Bencana Geologi (2011) mengungkapkan, gunung dari Pulau Rakata, Gunung Danan, dan Gunung Perbuwatan, tumbuh bersama dalam proses yang sangat lama. Ketiga gunung inilah yang kemudian bersatu menjadi Gunung Krakatau. (Tri M)