Staf Ahli Menkomaritim: Indonesia Harus Punya Kebijakan Afirmasi Rempah

JAKARTA—Indonesia memiiki peranan penting dalam peradaban rempah-rempah di dunia. Selain penghasil rempah, Indonesias juga diuntungkan dengan letak geografis yang strategis sebagai jaur perdagangan.

Pernyataan ini diungkapkan oleh Staf Ahi Menko Kemaritiman, Tukul Rameyo dalam sambutan pembukaan acara International Forum on Spice Route (IFSR) yang diselenggarakan di Museum Nasional Jakarta, 19-24 Maret 2019. Lebih lanjut dirinya berharap pemerintah Indonesia mau melindungi kekayaan rempah yang ada di negerinya ini.
“Harapan saya salah satunya adalah Indonesia memiliki kebijakan afirmasi untuk rempah,” harap Tukul seperti dikutip dari laman resmi kementerian koordinator kemaritiman.

Masih menurut Tukul sampai 2019 ini Indonesia baru mengurus sertifikat Indikasi Geografis untuk beberapa tanaman rempah saja, padahal tanaman rempah ungguan asli Indonesia itu banyak. “Saat ini yang sudah bersertifikat IG adalah lada muntok, kopi kintamani, produk-produk asli lainnya perlu mendapat sertifikat ini karena ini produk komoditas unggulan dengan nilai ekonomis yang sangat baik,” jelas Tukul.

Acara IFSR sendiri diinisiasi oleh Yayasan Negeri Rempah dan didukung penuh oeh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan mengambi tema Reviving the World’s Maritime Cuture Through the Common Heritage of Spice Route. IFSR menjadi sarana untuk meningkatkan kembali peranan penting Indonesia dalam produksi dan perniagaan komoditas rempah.

Tukul menambahkan seharusnya Indonesia mampu mencontoh negara-negara di Asia Timur seperti Tiongkok terkait kebijakan dalam melindungi tanaman-tanaman khas di negaranya. “China memiliki kebijakan afirmatif melindungi teh,” tambah Tukul.

“Dalam konteks yang lebih strategis, forum ini meletakkan Indonesia ke dalam percaturan perbincangan dunia dengan perspektifnya yang unik dalam memaknai sejarah perdagangan maritim dari masa ke masa,” ujar Tukul yang merupakan Staf Ahli Menteri Koordinator Kemaritiman Bidang Sosio-Antropologi.

Indonesia Poros Penting Negeri-Negeri Di Atas Angin

Sementara itu ketua dewan pembina Yayasan Negeri Rempah, Hassan Wirajuda menegaskan bahwa Nusantara memiliki posisi strategis sebagai poros yang menghubungkan negeri-negeri di atas angin, yaitu Tiongkok, India, Timur Tengah hingga Eropa. Jauh sebelum bangsa Eropa melakukan aktivitas perdagangan di Asia Tenggara, Nusantara telah menjadi pemain penting dalam perdagangan dunia dan telah lama dikenal sebagai negara pemasok utama komoditas penting di dunia yakni rempah-rempah.

“Dewasa ini banyak bergulir pertarungan konsep seperti Jalur Sutera Maritim yang diusung Tiongkok, maupun ragam konsep tentang wawasan Indo-Pasifik yang kesemuanya menuntut Indonesia untuk mengambil peranan yang penting,” jelas Hassan.

Pada masa itu rempah-rempah menjadi komoditas utama yang mampu mempengaruhi kondisi politik, ekonomi maupun sosial budaya dalam skala global. Poros perdagangan rempah-rempah global Asia, India, Nusantara, Tiongkok, melalui perairan Hindia hingga Pasifik meninggalkan jejak peradaban yang signifikan. Terletak di sepanjang jalur maritim tersibuk di dunia, Nusantara dari masa ke masa telah menjadi daerah strategis yang amat penting dan tujuan perdagangan selama ribuan tahun.

Forum ini mengundang para narasumber dari negara-negara sahabat yang juga memiliki warisan budaya maritim. Bahkan, masyarakat juga diajak untuk turut merayakan keragaman dunia rempah nusantara melalui berbagai program menarik. Mulai dari diskusi, bedah buku, talk show, cooking show. IFSR tidak hanya mengangkat romantika jalur rempah dan perdagangan maritim masa lalu, melainkan bervisi mengembangkan budaya maritim yang relevan dengan konteks kekinian.