Analisa Kehadiran US Coast Guard terhadap Strategi Cina di Laut Cina Selatan

Plh. Direktur Kerjasama Bakamla RI, Kolonel Bakamla Salim. (Rajasamudera.com)

Kapal-kapal ikan negara Cina yang diawaki oleh Maritime Militia menyebar keseluruh dunia untuk memenuhi kebutuhan makan bangsanya. Akan tetapi, pada akhirnya, kapal – kapal tersebut dipaksa untuk berhadapan dengan Coast Guard Negara lain.

Model Maritime Coercion Cina

Melihat perkembangan Laut Cina Selatan, tampaknya  Beijing akan terus berusaha untuk mencapai sasaran strategisnya dengan menggunakan model kekuatan Maritime Coercion untuk menghindari konflik militer. Hal tersebut terlihat dari beberapa fakta perkembangan kejadian-kejadian yang melibatkan Kapal Coast Guard Cina dengan nelayannya yang di-deploy pada wilayah – wilayah yang dianggap sengketa antar negara di Laut Cina Selatan.

Pendekatan Maritime Coercion yang dilakukan oleh Cina yaitu melalui peningkatan penggunaan Coast Guard dan Maritime Militia. Strategi tersebut akan terus dilakukan dalam setiap scope ancaman untuk merespon setiap operasi yang dilaksanakan. Pada akhirnya, nanti akan terlihat bahwa Cina akan meningkatkan secara cepat dan simultan penggunaan kapal Coast Guard-nya dalam jumlah besar, kapal negara, dan kekuatan militiannya. Beijing juga bermaksud meningkatkan eskalasi melalui postur kekuatannya dalam jangkauan “Over The Horizon PLA Navy”.

Model peningkatan cara bertindak yang diterapkan oleh Cina mulai dari tahapan menghadirkan maritime non naval, meningkatkan jumlah aset yang dititikberatkan pada prioritas ancaman, menggunakan paksaan yang diperlukan saat adanya ancaman, hingga pengorganisasian untuk mempertahanan operasi jika diperlukan. Pada akhirnya, model pengerahan yang diterapkan, Cina akan mengaktifkan rencana contingency untuk mendukung operasi dalam jangka yang lebih panjang dengan melampaui kemampuan lawan dan mempertahankan operasi serta memperkuat kehadiran kapal-kapal non-naval dan dengan aset-aset militer. Inilah yang mungkin tidak diinginkan oleh negara – negara yang berada di kawasan LCS.

Dari model cara bertindak Cina, yaitu pemaksaan secara maritim, dapat disimpulkan bahwa konsolidasi pengendalian wilayah yang disengketakan akan terus dilakukan sambil menghindari konflik regional dan campur tangan pihak luar. Tahapan selanjutnya, Cina akan terus meningkatkan penggunaan kekuatan kapal-kapal non-naval sebagai opsi koersif dalam aktivitas di LCS melalui pendayagunaan Kapal-kapal Coast Guard, Milia Maritim, dan bila diperlukan akan menggunakan kekuatan Angkatan Laut Cina.

Kehadiran US Coast Guard

Beberapa bulan lalu, kehadiran U.S. Coast Guard Cutter Bertholf berlayar melalui Laut Cina Timur, kapal-kapal Cina membayangi di laut lepas. Sinyal tersebut menandakan bahwa sebagai pengingat bagi orang – orang Amerika tentang di mana mereka berada: sebagai simbol bahwa “Anda berada pada daerah yang strategis beberapa ratus mil dari pantai Cina.”

Kejadian tersebut merupakan respons dari Amerika Serikat yang mengindikasikan bahwa keadaan yang berkembang merupakan respon terhadap kebangkitan misi operasi peran Coast Guard dan Cina yang biasanya lebih dekat dengan pekarangan rumah. US Coast Guard semakin mengarahkan dirinya ke Cina. Komandan US Coast Guard Laksamana Karl Schultz mengatakan bahwa ketika Departemen Pertahanan mengalihkan fokusnya untuk bersaing dengan Rusia dan Cina, Angkatan Laut “oversubscribed” dua kapal perusak Angkatan Laut yang terlibat dalam tabrakan maut pada tahun 2017.

Sisi lain menunjukkan bahwa pengerahan US Coast Guard  ke wilayah Asia-Pasifik dari Alameda, California, pada beberapa bulan lalu menandai perluasan operasi  US Coast Guard dan US Coast Guard telah melakukan beberapa misi yang biasanya ditugaskan untuk Pentagon, termasuk transit  di Selat Taiwan pada bulan Maret bersama dengan USS Curtis Wilbur, sebuah kapal perusak Angkatan Laut yang dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa “Jalur pelayaran internasional dekat Cina tetap terbuka.”

Analisa dari kehadiran US Coast Guard dikawasan LCS menunjukkan bahwa penegakkan hukum pada saat damai Amerika akan berusaha mengimbangi strategi model Cina dengan dan akan menghadirkan unsur unsur non-naval. Kehadiran Amerika bila menggunakan US Coast Guard akan berdampak pada peningkatan kerja sama negara-negara sekitar Laut Cina Selatan, khususnya dalam peningkatan kapasitas maupun kemampuan Coast Guard negara-negara yang berdekatan dengan LCS.

Kebutuhan kehadiran kapal-kapal Coast Guard tidak hanya sekedar melawan Cina, namun menunjukkan pada era perkembangan saat damai berkepanjangan Law Enforcement at Sea khususnya akan mengedepankan pengerahan kapal-kapal non-naval maupun Coast Guard. Namun, apakah persepsi ini juga akan mewakili pengertian bahwa kehadiran US Coast Guard sebagai kekuatan pengganda atau peningkatan diplomasi maritim? Kita tunggu selanjutnya.