99 Capaja AAU Dibekali Character Building dalam Rangkaian Penutupan Pendidikan dan Wisuda

Sebanyak 99 Capaja Akademi Angkatan Udara mengikuti pembekalan character building di VIP Room II Akademi Angkatan Udara. (AAU)

Yogyakarta – Sebanyak 99 calon perwira remaja (Capaja) Akademi Angkatan Udara mengikuti pembekalan character building selama lima hari dipimpin oleh Direktur Pengkajian AAU Kolonel Lek Suparno di VIP Room II Akademi Angkatan Udara, Yogyakarta, Senin-Jumat (24-28/6/2019).  Pembekalan charakter bulding merupakan salah satu dari beberapa rangkaian kegiatan penutupan pendidikan dan wisuda bagi Taruna Tingkat IV AAU tahun 2019.

Mewakili Gubernur AAU Marsekal Muda TNI Tatang Harlyansyah, Kolonel Lek Suparno mengatakan bahwa karakter merupakan sifat-sifat kejiawaan seperti tabiat, watak, akhlak, atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain. Membangun karakter adalah suatu proses pembentukan watak atau budi pekerti, kapasitasnya sebagai pribadi yang memiliki akal budi dan jiwa.

“Karakter adalah apa yang kita lakukan ketika tidak ada orang yang melihatnya,” terangnya.

Membangun karakter dengan integritas, lanjutnya, adalah suatu hal yang sangat penting dibandingkan dengan semua tantangan yang sedang dihadapi saat ini. Civitas AAU harus berkomitmen untuk membangun kualitas angkatan udara yang kuat dan sempurna. “Without integrity, leadership cannot flourish and our mission will suffer,” tegas Kolonel.

Usai mengikuti pembekalan character building, Capaja kemudian mengikuti acara malam tradisi janji diri dan pengukuhan nama lifting Capaja 2019 di seputaran tugu Adisakti AAU pada Jumat (28/6/2019).

Komunikasi Efektif sebagai Kunci Pemimpin Era Milenial

Marsda TNI Tatang Harlyansyah mengatakan bahwa tantangan ke depan bagi taruna/taruni yang nantinya akan menjadi pemimpin di masa depan sangatlah kompleks. Untuk itu, para taruna/taruni harus mampu mengetahui dan mengimplementasikan komunikasi efektif.

“Ini sangat penting bagi kita, terutama dalam menghadapi generasi Z yang memiliki karakter berbeda dengan generasi pengajar-pengajarnya,” ujar Marsda.

Generasi Z memang dikenal memiliki perilaku-perilaku yang cukup berbeda dengan generasi sebelumnya. Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional Aqua Dwipayana menggarisbawahi bahwa komunikasi efektif merupakan kunci untuk bisa menjadi pemimpin di antara generasi Z ini.

Menurutnya, ada beberapa hal yang harus dikuasai untuk menjadi pemimpin milenial. Pertama, pemimpin di era milenial harus bisa memanfaatkan kemajuan teknologi untuk menghadirkan proses kerja uang efisien dan efektif di lingkungan kerja. Kedua, mampu menjadi observer dan active listener bagi anggota timnya, aplagi ketika mayoritas dari mereka merupakan kaum milenial.

Ketiga, dia harus tangkas, di mana dia mampu untuk melihat segala peluang, cepat beradaptasi, serta lincah dalam memfasilitasi perubahan. Kuncinya adalah membaca buku, observasi peristiwa, dan silaturahmi,” papar Aqua.

Poin keempat, tambahnya, seorang pemimpin milenial harus mampu menjadi mentor dan sahabat dikarenakan perbedaan cara pandang antarindividu yang semakin kompleks di era milenial. Kelima, pemimpin harus mampu berbeda baik cara berpikir, kebijakan, maupun penampilan. Hal tersebut bertujuan untuk menekankan kepada tim bahwa masing-masing individu memiliki keunikan tersendiri yang bisa diberdayagunakan untuk kepentingan institusi.

“Yang terakhir, pemimpin milenial harus memiliki jiwa pantang menyerah. Dia harus bisa positive thinking dan menginspirasi. Selain itu juga memiliki semangat tinggi dalam mengejar goals-nya,” pesannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *