Menteri Edhy Hadiri Acara Restocking 50.000 ekor Ikan Nilem

Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy melakukan restocking 50.000 ekor ikan nilem ke Waduk GOR Jakabaring. (Foto: KKP)

Palembang- Menteri Kelautan dan Perikanan melakukan restocking 50.000 ekor ikan nilem ke Waduk GOR Jakabaring, (5/11). Menteri Edhy didampingi oleh Gubernur Sumsel Herman Deru, Direktur Jenderal (Dirjen) Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto, dan Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Agus Suherman.

“Kita melepas sebanyak 50.000 benih nilem. Ikan nilem adalah ikan asli di perairan Sumatera Selatan. Diharapkan dengan pelepasliaran ini ikan lokal kita dapat terus terjaga,” tutur Menteri Edhy.

Ia berharap, berbagai jenis ikan lokal baik ikan air tawar, air payau, maupun air laut dapat dikembangkan dengan kegiatan budidaya. Hal ini senada dengan program nasional pemerintah untuk meningkatkan perikanan budidaya.

“Budidaya ini menghasilkan devisa dan kita masih banyak ceruk untuk melakukan ini. Masih banyak yang bisa kita buat untuk negara agar menghasilkan lapangan pekerjaan dan yang paling penting tambahan penghasilan bagi masyarakat,” lanjutnya.

Dalam jangka panjang, kegiatan budidaya ikan juga dinilai ampuh untuk mengatasi persoalan stunting atau hambatan pertumbuhan tubuh dengan menyediakan banyak ikan untuk dikonsumsi.

Memperkaya Plasma Nutfah

Dirjen Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto menyebut, restocking ikan ini dilakukan dalam rangka memperkaya kembali plasma nutfah yang ada di perairan umum, terutama ikan-ikan asli daerah. Menurutnya, ikan nilem saat ini keberadaannya di alam sudah mulai terancam.

Slamet juga menambahkan bahwa restocking dilakukan dalam rangka menjaga lingkungan perairan karena ikan nilem merupakan plankton feeder. Sebagaimana diketahui, keberadaan plankton memang mengindikasikan kesuburan perairan. Namun, jika plankton terlalu banyak dapat mengganggu keseimbangan ekosistem perairan.

“Ikan ini merupakan plankton feeder sehingga bisa mempertahankan atau bisa menstabilkan air terkait dengan kesuburan perairannya. Jadi diharapkan tidak ada blooming plankton. Kalau ada blooming plankton nanti itu berbahaya pada saat ada upwelling, menyebabkan ikan-ikan mati,” jelasnya.

Ikan yang di-restocking juga diharapkan dapat meningkatkan pendapatan dan pemenuhan gizi masyarakat.

“Harapannya ikan nilem ini nantinya beranak-pinak di situ, kemudian banyak masyarakat bisa mengambil ikannya untuk sumber protein dan juga kalau dijual jadi sumber pendapatan masyarakat,” imbuhnya.

Sumsel sendiri memiliki lebih dari 230 spesies ikan asli namun jumlah di alam sudah sangat menurun. Dengan adanya program-program restocking ikan air tawar ini, diharapkan ikan-ikan lokal itu akan muncul kembali. Setelah hal tersebut tercapai, teknologi budidaya ikan yang dihasilkan balai riset dapat disebarkan ke pelaku utama perikanan sebagai pendorong kegiatan ekonomi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *