Hari Dharma Samudera Sebagai Energi Penggerak Kebangkitan Maritim Indonesia

Tanggal 15 Januari sebagai Hari Dharma Samudera merupakan hari bersejarah yang harus dikenang oleh masyarakat Indonesia. Peringatan Hari Dharma Samudera adalah bentuk penghormatan kepada para pahlawan yang gugur dalam Pertempuran Laut Aru.

Dalam pertempuran tersebut, salah satu kapal perang Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) yaitu Rl Matjan Tutul tenggelam dan menyebabkan gugurnya Deputi I KSAL Komodor Yos Sudarso beserta sekitar 25 anak buah kapal (ABK) KRI Matjan Tutul.

Seperti yang dikatakan Kolonel Bakamla Salim, menurutnya, peringatan Hari Dharma Samudera adalah sebagai bentuk penghormatan kepada para pahlawan yang gugur dalam pertempuran di Laut Aru dan agar warisan nilai-nilai pengabdian serta pengorbanan para pahlawan dapat diteruskan generasi penerus yang sesuai dengan semangat zaman saat ini.

“Kobarkan semangat pertempuran, mengenang peristiwa heroik pertempuran Laut Aru sebagai energi penggerak untuk kebangkitan Maritim Indonesia. Kejayaan bahari berada di tangan pemuda bangsa dan dimulai dari sekarang” ucap penulis buku Konsep Neogeopolitik Maritim Indonesia Abad 21 ini.

Ia pun mengajak semua pihak merefleksikan Hari Dharma Samudera sebagai semangat untuk membangun Indonesia dengan optimalisasi potensi bahari. Seperti puisi yang dibuat oleh Salim.

Kembalilah ke laut

Adab kelautan

Laut, di mana mata airmu supaya aku bisa kembali ke asalmu

Laut, di mana mata anginmu supaya aku bisa mengikuti arusmu

Aku ingin sendiri dengan laut

Penulis buku Kodrat Maritim Nusantara ini juga menjelaskan salah satu cara untuk melanjutkan perjuangan adalah dengan menfokuskan pembangunan kemaritiman. Optimalisasi potensi kemaritiman akan sangat menguntungkan kemajuan ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat Indonesia.

“Sebagaimana dipahami, penetrasi jaman modern menimbulkan praktik imprealis oleh para kaum kapitalis. Meski tidak seseram waktu koloni Belanda, kaum kapitalis memiliki model jarahan yang lebih halus melalui beragam dimensi, termasuk kebudayaan. Zaman peralihan dari adab kelautan menjadi adab daratan yang mungkin menjadi simbol imperialisme gaya baru kaum kapital tersebut,” jelasnya.

Tak lupa, Salim juga mengajak kepada seluruh masyarakat agar mendoakan para pahlawan yang gugur dalam pertempuran di Laut Aru.

“Mari kita kirimkan doa kepada para pahlawan Indonesia yang gugur dalam pertempuran Laut Aru,” pesannya.